Lahirnya
Sitti Fatimah Azzahra r.a. merupakan rahmat yang dilimpahkan llahi kepada
Nabi Muhammad s.a.w. Ia telah menjadi wadah suatu keturunan yang suci. Ia
laksana benih yang akan menumbuhkan pohon besar pelanjut keturunan Rasul
Allah s.a.w. Ia satu-satunya yang menjadi sumber keturunan paling mulia yang
dikenal umat Islam di seluruh dunia. Sitti Fatimah Azzahra r.a. dilahirkan di
Makkah, pada hari Jumaat, 20 Jumadil Akhir, kurang lebih lima tahun sebelum bi'tsah.
Sitti Fatimah Azzahra r.a. tumbuh dan berkembang di bawah naungan wahyu
Ilahi, di tengah kancah pertarungan sengit antara Islam dan Jahiliyah, di
kala sedang gencar-gencarnya perjuangan para perintis iman melawan penyembah
berhala.
Dalam keadaan masih kanak-kanak Sitti Fatimah Azzahra r.a. sudah harus
mengalami penderitaan, merasakan kehausan dan kelaparan. Ia berkenalan dengan
pahit getirnya perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan. Lebih dari tiga
tahun ia bersama ayah bundanya hidup menderita di dalam Syi'ib, akibat
pemboikotan orang-orang kafir Qureiys terhadap keluarga Bani Hasyim.
Setelah bebas dari penderitaan jasmaniah selama di Syi'ib, datang pula
pukulan batin atas diri Sitti Fatimah Azzahra r.a., berupa wafatnya bunda
tercinta, Sitti Khadijah r.a. Kabut sedih selalu menutupi kecerahan hidup
sehari-hari dengan putusnya sumber kecintaan dan kasih sayang ibu.
Puteri Kesayangan seorang Nabiullah
Rasul Allah s.a.w. sangat mencintai puterinya ini. Sitti Fatimah Azzahra r.a.
adalah puteri bungsu yang paling disayang dan dikasihani junjungan kita Rasul
Allah s.a.w. Nabi Muhammad s.a.w. merasa tak ada seorang pun di dunia yang
paling berkenan di hati beliau dan yang paling dekat disisinya selain puteri
bungsunya itu.
Demikian besar rasa cinta Rasul Allah s.a.w. kepada puteri bungsunya itu
dibuktikan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas. Menurut hadits
tersebut Rasul Allah s.a.w. berkata kepada Imam Ali r.a. demikian:
"Wahai Ali! Sesungguhnya Fatimah adalah bagian dari aku. Dia adalah
cahaya mataku dan buah hatiku. Barang siapa menyusahkan dia, ia menyusahkan
aku dan siapa yang menyenangkan dia, ia menyenangkan aku…"
Pernyataan beliau itu bukan sekedar cetusan emosi, melainkan suatu penegasan
bagi umatnya, bahwa puteri beliau itu merupakan lambang keagungan abadi yang
ditinggalkan di tengah ummatnya.
Di kala masih kanak-kanak Sitti Fatimah Azzahra r.a. menyaksikan sendiri cobaan
yang dialami oleh ayah-bundanya, baik berupa gangguan-gangguan, maupun
penganiayaan-penganiayaan yang dilakukan orang-orang kafir Qureiys. Ia hidup
di udara Makkah yang penuh dengan debu perlawanan orang-orang kafir terhadap
keluarga Nubuwaah, keluarga yang menjadi pusat iman, hidayah dan keutamaan.
Ia menyaksikan ketangguhan dan ketegasan orang-orang mukminin dalam
perjuangan gagah berani menanggulangi komplotan-komplotan Qureiys. Suasana
perjuangan itu membekas sedalam-dalamnya pada jiwa Sitti Fatimah Azzahra r.a.
dan memainkan peranan penting dalam pembentukan pribadinya, serta
mempersiapkan kekuatan mental guna menghadapi kesukaran-kesukaran di masa
depan.
Setelah ibunya wafat, Sitti Fatimah Azzahra r.a. hidup bersama ayahandanya.
Satu-satunya orang yang paling dicintai. Ialah yang meringankan penderitaan
Rasul Allah s.a.w. tatkala ditinggal wafat isteri beliau, Sitti Khadijah.
Pada satu hari Sitti Fatimah Azzahra r.a. menyaksikan ayahnya pulang dengan
kepala dan tubuh penuh pasir, yang baru saja dilemparkan oleh orang-orang
Qureys, di saat ayahandanya itu sedang sujud. Dengan hati remuk-redam laksana
disayat sembilu, Sitti Fatimah r.a. segera membersihkan kepala dan tubuh
ayahandanya. Kemudian diambilnya air guna mencucinya. Ia menangis tersedu-sedu
menyaksikan kekejaman orang-orang Qureisy terhadap ayahnya.
Kesedihan hati puterinya itu dirasakan benar oleh Nabi Muhammad s.a.w. Guna
menguatkan hati puterinya dan meringankan rasa sedihnya, maka Nabi Muhammad
s.a.w., sambil membelai-belai kepala puteri bungsunya itu, berkata:
"Jangan menangis..., Allah melindungi ayahmu dan akan memenangkannya
dari musuh-musuh agama dan risalah-Nya"
Dengan tutur kata penuh semangat itu, Rasul Allah s.a.w. menanamkan
daya-juang tinggi ke dalam jiwa Sitti Fatimah r.a., dan sekaligus mengisinya
dengan kesabaran, ketabahan serta kepercayaan akan kemenangan akhir. Meskipun
orang-orang sesat dan durhaka seperti kafir Qureiys itu senantiasa mengganggu
dan melakukan penganiayaan-penganiayaan, namun Nabi Muhammad s:a.w. tetap
melaksanakan tugas risalahnya.
Pada ketika lain lagi, Sitti Fatimah r.a. menyaksikan ayahandanya pulang
dengan tubuh penuh dengan kotoran kulit janin unta yang baru dilahirkan. Yang
melemparkan kotoran atau najis ke punggung Rasul Allah s.a.w. itu Uqbah bin
Mu'aith, Ubaiy bin Khalaf dan Umayyah bin Khalaf. Melihat ayahandanya
berlumuran najis, Sitti Fatimah r.a. segera membersihkannya dengan air sambil
menangis.
Nabi Muhammad rupanya menganggap perbuatan ketiga kafir Qureiys ini sudah
keterlaluan. Karena itulah maka pada waktu itu beliau memanjatkan doa
kehadirat Allah s.w.t.: "Ya Allah celakakanlah orang-orang Qureiys itu.
Ya Allah, binasakanlah 'Uqbah bin Mu'aith. Ya Allah binasakanlah Ubay bin
Khalaf dan Umayyah bin Khalaf"
Masih banyak lagi pelajaran yang diperoleh Sitti Fatimah dari penderitaan
ayahandanya dalam perjuangan menegakkan kebenaran Allah. Semuanya itu menjadi
bekal hidup baginya untuk menghadapi masa mendatang yang berat dan penuh
cobaan. Kehidupan yang serba berat dan keras di kemudian hari memang
memerlukan mental gemblengan.
Hijrah Madinah
Tepat pada saat orang-orang kafir Qureiys selesai mempersiapkan komplotan
terror untuk membunuh Rasul Allah s.a.w., Madinah telah siap menerima
kedatangan beliau. Nabi Muhammad meninggalkan kota Makkah secara diam-diam di tengah
kegelapan malam. Beliau bersama Abu Bakar Ash Shiddiq meninggalkan kampung
halaman, keluarga tercinta dan sanak famili. Beliau berhijrah, seperti dahulu
pernah juga dilakukan Nabi Ibrahim as. dan Musa a.s.
Di antara orang-orang yang ditinggalkan Nabi Muhammad s.a.w. termasuk puteri
kesayangan beliau, Sitti Fatimah r.a. dan putera paman beliau yang diasuh
dengan kasih sayang sejak kecil, yaitu Imam Ali r.a. yang selama ini menjadi
pembantu terpercaya beliau.
Imam Ali r.a. sengaja ditinggalkan oleh Nabi Muhammad untuk melaksanakan
tugas khusus: berbaring di tempat tidur beliau, guna mengelabui mata
komplotan Qureiys yang siap hendak membunuh beliau. Sebelum Imam Ali r.a.
melaksanakan tugas tersebut, ia dipesan oleh Nabi Muhammad s.a.w. agar
barang-barang amanat yang ada pada beliau dikembalikan kepada pemiliknya
masing-masing. Setelah itu bersama semua anggota keluarga Rasul Allah s.a.w.,
segera menyusul berhijrah.
Imam Ali r.a. membeli seekor unta untuk kendaraan bagi wanita yang akan
berangkat hijrah bersama-sama. Rombongan hijrah yang menyusul perjalanan
Rasul Allah s.a.w. terdiri dari keluarga Bani Hasyim dan dipimpin sendiri
oleh Imam Ali r.a. Di dalam rombongan Imam Ali r.a. ini termasuk Sitti
Fatimah r.a., Fatimah binti Asad bin Hasyim (ibu Imam Ali r.a.), Fatimah
binti Zubair bin Abdul Mutthalib dan Fatimah binti Hamzah bin Abdul
Mutthalib. Aiman dan Abu Waqid Al Laitsiy, ikut bergabung dalam rombongan.
Rombongan Imam Ali r.a. berangkat dalam keadaan terburu-buru. Perjalanan ini
tidak dilakukan secara diam-diam. Abu Waqid berjalan cepat-cepat menuntun
unta yang dikendarai para wanita, agar jangan terkejar oleh orang-orang kafir
Qureiys. Mengetahui hal itu, Imam Ali r.a. segera memperingatkan Abu Waqid,
supaya berjalan perlahan-lahan, karena semua penumpangnya wanita. Rombongan
berjalan melewati padang
pasir di bawah sengatan terik matahari.
Imam Ali r.a., sebagai pemimpin rombongan, berangkat dengan semangat yang
tinggi. Beliau siap menghadapi segala kemungkinan yang bakal dilakukan
orang-orang kafir Qureiys terhadap rombongan. Ia bertekad hendak mematahkan
moril dan kecongkakan mereka. Untuk itu ia siap berlawan tiap saat.
Mendengar rombongan Imam Ali r.a. berangkat, orang-orang Qureiys sangat
penasaran. Lebih-lebih karena rombongan Imam Ali r.a. berani meninggalkan
Makkah secara terang-terangan di siang hari. Orang-orang Qureiys menganggap
bahwa keberanian Imam Ali r.a. yang semacam itu sebagai tantangan terhadap
mereka.
Orang-orang Qureiys cepat-cepat mengirim delapan orang anggota pasukan
berkuda untuk mengejar Imam Ali r.a. dan rombongan. Pasukan itu ditugaskan
menangkapnya hidup-hidup atau mati. Delapan orang Qureiys itu, di sebuah
tempat bernama Dhajnan berhasil mendekati rombongan Imam Ali r.a.
Setelah Imam Ali r.a. mengetahui datangnya pasukan berkuda Qureiys, ia segera
memerintahkan dua orang lelaki anggota rombongan agar menjauhkan unta dan
menambatnya. Ia sendiri kemudian menghampiri para wanita guna membantu
menurunkan mereka dari punggung unta. Seterusnya ia maju seorang diri
menghadapi gerombolan Qureisy dengan pedang terhunus. Rupanya Imam Ali r.a.
hendak berbicara dengan bahasa yang dimengerti oleh mereka. Ia tahu benar
bagaimana cara menundukkan mereka.
Melihat Imam Ali r.a. mendekati mereka, gerombolan Qureiys itu
berteriak-teriak menusuk perasaan: "Hai penipu, apakah kaukira akan
dapat menyelamatkan perempuan-perempuan itu? Ayo, kembali! Engkau sudah tidak
berayah lagi."
Imam Ali r.a. dengan tenang menanggapi teriakan-teriakan gerombolan Qureiys
itu. Ia bertanya: "Kalau aku tidak mau berbuat itu...?"
"Mau tidak mau engkau harus kembali," sahut gerombolan Qureiys
dengan cepat.
Mereka lalu berusaha mendekati unta dan rombongan wanita. Imam Ali r.a.
menghalangi usaha mereka. Jenah, seorang hamba sahaya milik Harb bin Umayyah,
mencoba hendak memukul Imam Ali r.a. dari atas kuda. Akan tetapi belum sempat
ayunan pedangnya sampai, hantaman pedang Imam Ali r.a. telah mendahului tiba
di atas bahunya. Tubuhnya terbelah menjadi dua, sehingga pedang Imam Ali r.a.
sampai menancap pada punggung kuda. Serangan-balas secepat kilat itu sangat
menggetarkan teman-teman Jenah. Sambil menggeretakkan gigi, Imam Ali r.a.
berkata: "Lepaskan orang-orang yang hendak berangkat berjuang! Aku tidak
akan kembali dan aku tidak akan menyembah selain Allah Yang Maha Kuasa!"
Gerombolan Qureiys mundur. Mereka meminta kepada Imam Ali r.a. untuk
menyarungkan kembali pedangnya. Imam Ali r.a. dengan tegas menjawab:
"Aku hendak berangkat menyusul saudaraku, putera pamanku, Rasul Allah.
Siapa yang ingin kurobek-robek dagingnya dan kutumpahkan darahnya, cobalah
maju mendekati aku!"
Tanpa memberi jawaban lagi gerombolan Qureiys itu segera meninggalkan tempat.
Kejadian ini mencerminkan watak konfrontasi bersenjata yang bakal datang
antara kaum muslimin melawan agresi kafir Qureiys.
Di Dhajnan, rombongan Imam Ali r.a. beristirahat semalam. Ketika itu tiba
pula Ummu Aiman (ibu Aiman). Ia menyusul anaknya yang telah berangkat lebih
dahulu bersama Imam Ali r.a. Bersama Ummu Aiman turut pula sejumlah orang
muslimin yang berangkat hijrah. Keesokan harinya rombongan Imam Ali r.a.
beserta rombongan Ummu Aiman melanjutkan perjalanan. Imam Ali r.a. sudah
rindu sekali ingin segera bertemu dengan Rasul Allah s.a.w.
Waktu itu Rasul Allah s.a.w. bersama Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. sudah tiba
dekat kota
Madinah. Untuk beberapa waktu, beliau tinggal di Quba. Beliau menantikan
kedatangan rombongan Imam Ali r.a. Kepada Abu Bakar Ash Shiddiq, Rasul Allah
s.a.w. memberitahu, bahwa beliau tidak akan memasuki kota Madinah, sebelum putera pamannya dan
puterinya sendiri datang.
Selama dalam perjalanan itu Imam Ali r.a. tidak berkendaraan sama sekali. Ia
berjalan kaki-telanjang menempuh jarak kl 450 km sehingga kakinya pecah-pecah
dan membengkak. Akhirnya tibalah semua anggota rombongan dengan selamat di
Quba. Betapa gembiranya Rasul Allah s.a.w. menyambut kedatangan orang-orang
yang disayanginya itu.
Ketika Nabi Muhammad s.a.w. melihat Imam Ali r.a. tidak sanggup berjalan lagi
karena kakinya membengkak, beliau merangkul dan memeluknya seraya menangis
karena sangat terharu. Beliau kemudian meludah di atas telapak tangan, lalu
diusapkan pada kaki Imam Ali r.a. Konon sejak saat itu sampai wafatnya, Imam
Ali r.a. tidak pernah mengeluh karena sakit kaki.
Peristiwa yang sangat mengharukan itu berkesan sekali dalam hati Rasul Allah
s.a.w. dan tak terlupakan selama-lamanya. Berhubung dengan peristiwa itu,
turunlah wahyu Ilahi yang memberi penilaian tinggi kepada kaum Muhajirin,
seperti terdapat dalam Surah Ali 'Imran:195.
Ijab-Kabul Pernikahan
Sitti Fatimah Azzahra r.a. mencapai puncak keremajaannya dan kecantikannya
pada saat risalah yang dibawakan Nabi Muhammad s.a.w. sudah maju dengan pesat
di Madinah dan sekitarnya. Ketika itu Sitti Fatimah Azzahra r.a. benar-benar
telah menjadi remaja puteri.
Keelokan parasnya banyak menarik perhatian. Tidak sedikit pria terhormat yang
menggantungkan harapan ingin mempersunting puteri Rasul Allah s.a.w. itu.
Beberapa orang terkemuka dari kaum Muhajirin dan Anshar telah berusaha
melamarnya. Menanggapi lamaran itu, Nabi Muhammad s.a.w. mengemukakan, bahwa
beliau sedang menantikan datangnya petunjuk dari Allah s.w.t. mengenai
puterinya itu.
Pada suatu hari Abu Bakar Ash Shiddiq r.a., Umar Ibnul Khatab r.a. dan Sa'ad
bin Mu'adz bersama-sama Rasul Allah s.a.w. duduk dalam mesjid beliau. Pada
kesempatan itu diperbincangkan antara lain persoalan puteri Rasul Allah
s.a.w. Saat itu beliau bertanya kepada Abu Bakar Ash Shiddiq r.a.:
"Apakah engkau bersedia menyampaikan persoalan Fatimah itu kepada Ali bin
Abi Thalib?"
Abu Bakar Ash Shiddiq menyatakan kesediaanya. Ia beranjak untuk menghubungi
Imam Ali r.a. Sewaktu Imam Ali r.a. melihat datangnya Abu Bakar Ash Shiddiq
r.a. dengan tergopoh-gopoh dan terperanjat ia menyambutnya, kemudian
bertanya: "Anda datang membawa berita apa?"
Setelah duduk beristirahat sejenak, Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. segera
menjelaskan persoalannya: "Hai Ali, engkau adalah orang pertama yang
beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta mempunyai keutamaan lebih dibanding
dengan orang lain. Semua sifat utama ada pada dirimu. Demikian pula engkau
adalah kerabat Rasul Allah s.a.w. Beberapa orang sahabat terkemuka telah
menyampaikan lamaran kepada beliau untuk dapat mempersunting puteri beliau.
Lamaran itu oleh beliau semuanya ditolak. Beliau mengemukakan, bahwa
persoalan puterinya diserahkan kepada Allah s.w.t. Akan tetapi, hai Ali, apa
sebab hingga sekarang engkau belum pernah menyebut-nyebut puteri beliau itu
dan mengapa engkau tidak melamar untuk dirimu sendiri? Kuharap semoga Allah dan
Rasul-Nya akan menahan puteri itu untukmu."
Mendengar perkataan Abu Bakar r.a. mata Imam Ali r.a. berlinang-linang.
Menanggapi kata-kata itu, Imam Ali r.a. berkata: "Hai Abu Bakar, anda
telah membuat hatiku goncang yang semulanya tenang. Anda telah mengingatkan
sesuatu yang sudah kulupakan. Demi Allah, aku memang menghendaki Fatimah,
tetapi yang menjadi penghalang satu-satunya bagiku ialah karena aku tidak
mempunyai apa-apa."
Abu Bakar r.a. terharu mendengar jawaban Imam Ali yang memelas itu. Untuk
membesarkan dan menguatkan hati Imam Ali r.a., Abu Bakar r.a. berkata:
"Hai Ali, janganlah engkau berkata seperti itu. Bagi Allah dan Rasul-Nya
dunia dan seisinya ini hanyalah ibarat debu bertaburan belaka!"
Setelah berlangsung dialog seperlunya, Abu Bakar r.a. berhasil mendorong
keberanian Imam Ali r.a. untuk melamar puteri Rasul Allah s.a.w.
Beberapa waktu kemudian, Imam Ali r.a. datang menghadap Rasul Allah s.a.w.
yang ketika itu sedang berada di tempat kediaman Ummu Salmah. Mendengar pintu
diketuk orang, Ummu Salmah bertanya kepada Rasul Allah s.a.w.: "Siapakah
yang mengetuk pintu?" Rasul Allah s.a.w. menjawab: "Bangunlah dan
bukakan pintu baginya. Dia orang yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, dan ia
pun mencintai Allah dan Rasul-Nya!"
Jawaban Nabi Muhammad s.a.w. itu belum memuaskan Ummu Salmah r.a. Ia bertanya
lagi: "Ya, tetapi siapakah dia itu?"
"Dia saudaraku, orang kesayanganku!" jawab Nabi Muhammad s.a.w.
Tercantum dalam banyak riwayat, bahwa Ummu Salmah di kemudian hari
mengisahkan pengalamannya sendiri mengenai kunjungan Imam Ali r.a. kepada
Nabi Muhammad s.a.w. itu: "Aku berdiri cepat-cepat menuju ke pintu,
sampai kakiku terantuk-antuk. Setelah pintu kubuka, ternyata orang yang
datang itu ialah Ali bin Abi Thalib. Aku lalu kembali ke tempat semula. Ia
masuk, kemudian mengucapkan salam dan dijawab oleh Rasul Allah s.a.w. Ia
dipersilakan duduk di depan beliau. Ali bin Abi Thalib menundukkan kepala,
seolah-olah mempunyai maksud, tetapi malu hendak mengutarakannya.
Rasul Allah mendahului berkata: "Hai Ali nampaknya engkau mempunyai
suatu keperluan. Katakanlah apa yang ada dalam fikiranmu. Apa saja yang
engkau perlukan, akan kauperoleh dariku!"
Mendengar kata-kata Rasul Allah s.a.w. yang demikian itu, lahirlah keberanian
Ali bin Abi Thalib untuk berkata: "Maafkanlah, ya Rasul Allah. Anda
tentu ingat bahwa anda telah mengambil aku dari paman anda, Abu Thalib dan
bibi anda, Fatimah binti Asad, di kala aku masih kanak-kanak dan belum
mengerti apa-apa.
Sesungguhnya Allah telah memberi hidayat kepadaku melalui anda juga. Dan
anda, ya Rasul Allah, adalah tempat aku bernaung dan anda jugalah yang
menjadi wasilahku di dunia dan akhirat. Setelah Allah membesarkan diriku dan
sekarang menjadi dewasa, aku ingin berumah tangga; hidup bersama seorang
isteri. Sekarang aku datang menghadap untuk melamar puteri anda, Fatimah. Ya
Rasul Allah, apakah anda berkenan menyetujui dan menikahkan diriku dengan
dia?"
Ummu Salmah melanjutkan kisahnya: "Saat itu kulihat wajah Rasul Allah
nampak berseri-seri. Sambil tersenyum beliau berkata kepada Ali bin Abi
Thalib: "Hai Ali, apakah engkau mempunyai suatu bekal maskawin?'' .
"Demi Allah", jawab Ali bin Abi Thalib dengan terus terang,
"Anda sendiri mengetahui bagaimana keadaanku, tak ada sesuatu tentang
diriku yang tidak anda ketahui. Aku tidak mempunyai apa-apa selain sebuah
baju besi, sebilah pedang dan seekor unta."
"Tentang pedangmu itu," kata Rasul Allah s.a.w. menanggapi jawaban
Ali bin Abi Thalib, "engkau tetap membutuhkannya untuk melanjutkan
perjuangan di jalan Allah. Dan untamu itu engkau juga butuh untuk keperluan
mengambil air bagi keluargamu dan juga engkau memerlukannya dalam perjalanan
jauh. Oleh karena itu aku hendak menikahkan engkau hanya atas dasar maskawin
sebuah baju besi saja. Aku puas menerima barang itu dari tanganmu. Hai Ali
engkau wajib bergembira, sebab Allah 'Azza wajalla sebenarnya sudah lebih
dahulu menikahkan engkau di langit sebelum aku menikahkan engkau di
bumi!" Demikian versi riwayat yang diceritakan Ummu Salmah r.a.
Setelah segala-galanya siap, dengan perasaan puas dan hati gembira, dengan
disaksikan oleh para sahabat, Rasul Allah s.a.w. mengucapkan kata-kata ijab kabul pernikahan
puterinya: "Bahwasanya Allah s.w.t. memerintahkan aku supaya menikahkan
engkau Fatimah atas dasar maskawin 400 dirham (nilai sebuah baju besi).
Mudah-mudahan engkau dapat menerima hal itu."
"Ya, Rasul Allah, itu kuterima dengan baik", jawab Ali bin Abi
Thalib r.a. dalam pernikahan itu.
Rumah Tangga Sederhana
Maskawin sebesar 400 dirham itu diserahkan kepada Abu Bakar r.a. untuk diatur
penggunaannya. Dengan persetujuan Rasul Allah s.a.w., Abu Bakar r.a.
menyerahkan 66 dirham kepada Ummu Salmah untuk "biaya pesta"
perkawinan. Sisa uang itu dipergunakan untuk membeli perkakas dan peralatan
rumah tangga.
-sehelai baju kasar perempuan;
-sehelai kudung;
-selembar kain Qathifah buatan khaibar berwarna hitam;
-sebuah balai-balai;.
-dua buah kasur, terbuat dari kain kasar Mesir (yang sebuah berisi ijuk kurma
dan yang sebuah bulu kambing);
-empat buah bantal kulit buatan Thaif (berisi daun idzkir);
-kain tabir tipis terbuat dari bulu;
-sebuah tikar buatan Hijr;
-sebuah gilingan tepung;
-sebuah ember tembaga;
-kantong kulit tempat air minum;
-sebuah mangkuk susu;
-sebuah mangkuk air;
-sebuah wadah air untuk sesuci;
-sebuah kendi berwarna hijau;
-sebuah kuali tembikar;
-beberapa lembar kulit kambing;
-sehelai 'aba-ah (semacam jubah);
-dan sebuah kantong kulit tempat menyimpan air.
Sejalan dengan itu Imam Ali r.a. mempersiapkan tempat kediamannya dengan
perkakas yang sederhana dan mudah didapat. Lantai rumahnya ditaburi pasir
halus. Dari dinding ke dinding lain dipancangkan sebatang kayu untuk
menggantungkan pakaian. Untuk duduk-duduk disediakan beberapa lembar kulit
kambing dan sebuah bantal kulit berisi ijuk kurma. Itulah rumah kediaman Imam
Ali r.a. yang disiapkan guna menanti kedatangan isterinya, Sitti Fatimah
Azzahra r.a.
Selama satu bulan sesudah pernikahan, Sitti Fatimah r.a. masih tetap di
rumahnya yang lama. Imam Ali r.a. merasa malu untuk menyatakan keinginan
kepada Rasul Allah s.a.w. supaya puterinya itu diperkenankan pindah ke rumah
baru. Dengan ditemani oleh salah seorang kerabatnya dari Bani Hasyim, Imam
Ali r.a. menghadap Rasul Allah s.a.w. Lebih dulu mereka menemui Ummu Aiman,
pembantu keluarga Nabi Muhammad s.a.w. Kepada Ummu Aiman, Imam Ali r.a.
menyampaikan keinginannya.
Setelah itu, Ummu Aiman menemui Ummu Salmah r.a. guna menyampaikan apa yang
menjadi keinginan Imam Ali r.a. Sesudah Ummu Salmah r.a. mendengar persoalan
tersebut, ia terus pergi mendatangi isteri-isteri Nabi yang lain.
Guna membicarakan persoalan yang dibawa Ummu Salmah r.a., para isteri Nabi
Muhammad s.a.w. berkumpul. Kemudian mereka bersama-sama menghadap Rasul Allah
s.a.w. Ternyata beliau menyambut gembira keinginan Imam Ali r.a.
Suami-Isteri Yang
Serasi
Sitti Fatimah r.a. dengan perasaan bahagia pindah ke rumah suaminya yang
sangat sederhana itu. Selama ini ia telah menerima pelajaran cukup dari
ayahandanya tentang apa artinya kehidupan ini. Rasul Allah s.a.w. telah
mendidiknya, bahwa kemanusiaan itu adalah intisari kehidupan yang paling
berharga. Ia juga telah .diajar bahwa kebahagiaan rumah-tangga yang
ditegakkan di atas fondasi akhlaq utama dan nilai-nilai Islam, jauh lebih
agung dan lebih mulia dibanding dengan perkakas-perkakas rumah yang serba
megah dan mewah.
Imam Ali r.a. bersama isterinya hidup dengan rasa penuh kebanggaan dan
kebahagiaan. Dua-duanya selalu riang dan tak pernah mengalami ketegangan.
Sitti Fatimah r.a. menyadari, bahwa dirinya tidak hanya sebagai puteri
kesayangan Rasul Allah s.a.w., tetapi juga isteri seorang pahlawan Islam,
yang senantiasa sanggup berkorban, seorang pemegang panji-panji perjuangan
Islam yang murni dan agung. Sitti Fatimah berpendirian, dirinya harus dapat
menjadi tauladan. Terhadap suami ia berusaha bersikap seperti sikap ibunya
(Sitti Khadijah r.a.) terhadap ayahandanya, Nabi Muhammad s.a.w.
Dua sejoli suami isteri yang mulia dan bahagia itu selalu bekerja sama dan
saling bantu dalam mengurus keperluan-keperluan rumah tangga. Mereka sibuk
dengan kerja keras. Sitti Fatimah r.a. menepung gandum dan memutar gilingan
dengan tangan sendiri. Ia membuat roti, menyapu lantai dan mencuci. Hampir
tak ada pekerjaan rumah-tangga yang tidak ditangani dengan tenaga sendiri.
Rasul Allah s.a.w. sendiri sering menyaksikan puterinya sedang bekerja
bercucuran keringat. Bahkan tidak jarang beliau bersama Imam Ali r.a. ikut
menyingsingkan lengan baju membantu pekerjaan Sitti Fatimah r.a.
Banyak sekali buku-buku sejarah dan riwayat yang melukiskan betapa beratnya
kehidupan rumah-tangga Imam Ali r.a. Sebuah riwayat mengemukakan: Pada suatu
hari Rasul Allah s.a.w. berkunjung ke tempat kediaman Sitti Fatimah r.a.
Waktu itu puteri beliau sedang menggiling tepung sambil melinangkan air mata.
Baju yang dikenakannya kain kasar. Menyaksikan puterinya menangis, Rasul
Allah s.a.w. ikut melinangkan air mata. Tak lama kemudian beliau menghibur
puterinya: "Fatimah, terimalah kepahitan dunia untuk memperoleh
kenikmatan di akhirat kelak"
Riwayat lain mengatakan, bahwa pada suatu hari Rasul Allah s.a.w. datang
menjenguk Sitti Fatimah r.a., tepat: pada saat ia bersama suaminya sedang
bekerja menggiling tepung. Beliau terus bertanya: "Siapakah di antara
kalian berdua yang akan kugantikan?"
"Fatimah! " Jawab Imam Ali r.a. Sitti Fatimah lalu berhenti diganti
oleh ayahandanya menggiling tepung bersama Imam Ali r.a.
Masih banyak catatan sejarah yang melukiskan betapa beratnya penghidupan dan
kehidupan rumah-tangga Imam Ali r.a. Semuanya itu hanya menggambarkan betapa
besarnya kesanggupan Sitti Fatimah r.a. dalam menunaikan tugas hidupnya yang
penuh bakti kepada suami, taqwa kepada Allah dan setia kepada Rasul-Nya.
Ada sebuah
riwayat lain yang menuturkan betapa repotnya Sitti Fatimah r.a. sehari-hari
mengurus kehidupan rumah-tangganya. Riwayat itu menyatakan sebagai berikut:
Pada satu hari Rasul Allah s.a.w. bersama sejumlah sahabat berada dalam
masjid menunggu kedatangan Bilal bin Rabbah, yang akan mengumandangkan adzan
sebagaimana biasa dilakukan sehari-hari. Ketika Bilal terlambat datang, oleh
Rasul Allah s.a.w. ditegor dan ditanya apa sebabnya. Bilal menjelaskan:
"Aku baru saja datang dari rumah Fatimah. Ia sedang menggiling tepung.
Al Hasan, puteranya yang masih bayi, diletakkan dalam keadaan menangis keras.
Kukatakan kepadanya "Manakah yang lebih baik, aku menolong anakmu itu,
ataukah aku saja yang menggiling tepung". Ia menyahut: "Aku kasihan
kepada anakku". Gilingan itu segera kuambil lalu aku menggiling gandum.
Itulah yang membuatku datang terlambat!"
Mendengar keterangan Bilal itu Rasul Allah s.a.w. berkata: "Engkau
mengasihani dia dan Allah mengasihani dirimu!"
Hal-hal tersebut di atas adalah sekelumit gambaran tentang kehidupan suatu
keluarga suci di tengah-tengah masyarakat Islam. Kehidupan keluarga yang
penuh dengan semangat gotong-royong. Selain itu kita juga memperoleh gambaran
betapa sederhananya kehidupan pemimpin-pemimpin Islam pada masa itu. Itu
merupakan contoh kehidupan masyarakat yang dibangun oleh Islam dengan prinsip
ajaran keluhuran akhlaq. Itupun merupakan pencerminan kaidah-kaidah agama
Islam, yang diletakkan untuk mengatur kehidupan rumah-tangga.
Rasul Allah s.a.w., Imam Ali r.a. dan Sitti Fatimah r.a., ketiganya merupakan
tauladan bagi kehidupan seorang ayah, seorang suami dan seorang isteri di
dalam Islam. Hubungan antar anggota keluarga memang seharusnya demikian erat
dan serasi seperti mereka.
Tak ada tauladan hidup sederhana yang lebih indah dari tauladan yang
diberikan oleh keluarga Nubuwwah itu. Padahal jika mereka mau, lebih-lebih
jika Rasul Allah s.a.w. sendiri mengehendaki, kekayaan dan kemewahan apakah
yang tidak akan dapat diperoleh beliau?
Tetapi sebagai seorang pemimpin yang harus menjadi tauladan, sebagai seorang
yang menyerukan prinsip-prinsip kebenaran dan keadilan serta persamaan,
sebagai orang yang hidup menolak kemewahan duniawi, beliau hanya mengehendaki
supaya ajaran-ajarannya benar-benar terpadu dengan akhlaq dan cara hidup
ummatnya. Beliau mengehendaki agar tiap orang, tiap pendidik, tiap penguasa
dan tiap pemimpin bekerja untuk perbaikan masyarakat. Masing-masing supaya
mengajar, memimpin dan mendidik diri sendiri dengan akhlaq dan perilaku
utama, sebelum mengajak orang lain. Sebab akhlaq dan perilaku yang dapat
dilihat dengan nyata, mempunyai pengaruh lebih besar, lebih berkesan dan lebih
membekas dari pada sekedar ucapan-ucapan dan peringatan-peringatan belaka.
Dengan praktek yang nyata, ajakan yang baik akan lebih terjamin
keberhasilannya.
Sebuah riwayat lagi yang berasal dari Imam Ali r.a. sendiri mengatakan: Sitti
Fatimah pernah mengeluh karena tapak-tangannya menebal akibat terus-menerus
memutar gilingan tepung. Ia keluar hendak bertemu Rasul Allah s.a.w. Karena
tidak berhasil, ia menemui Aisyah r.a. Kepadanya diceritakan maksud
kedatangannya. Ketika Rasul Allah s.a.w. datang, beliau diberitahu oleh
Aisyah r.a. tentang maksud kedatangan Fatimah yang hendak minta diusahakan
seorang pembantu rumah-tangga. Rasul Allah s.a.w. kemudian datang ke rumah
kami. Waktu itu kami sedang siap-siap hendak tidur. Kepada kami beliau
berkata: "Kuberitahukan kalian tentang sesuatu yang lebih baik daripada
yang kalian minta kepadaku. Sambil berbaring ucapkanlah tasbih 33 kali,
tahmid 33 kali dan takbir 34 kali. Itu lebih baik bagi kalian daripada
seorang pembantu yang akan melayani kalian."
Sambutan Nabi Muhammad s.a.w. atas permintaan puterinya agar diberi pembantu,
merupakan sebuah pelajaran penting tentang rendah-hatinya seorang pemimpin di
dalam masyarakat Islam. Kepemimpinan seperti itulah yang diajarkan Rasul
Allah s.a.w. dan dipraktekan dalam kehidupan konkrit oleh keluarga Imam Ali
r.a. Mereka hidup setaraf dengan lapisan rakyat yang miskin dan menderita.
Pemimpin-pemimpin seperti itulah dan yang hanya seperti itulah, yang akan
sanggup menjadi pelopor dalam melaksanakan prinsip persamaan, kesederhanaan
dan kebersihan pribadi dalam kehidupan ini.
Putera-puteri
Sitti Fatimah r.a. melahirkan dua orang putera dan dua orang puteri.
Putera-puteranya bernama Al Hasan r.a. dan Al Husein r.a. Sedang
puteri-puterinya bernama Zainab r.a. dan Ummu Kalsum r.a. Rasul Allah s.a.w.
dengan gembira sekali menyambut kelahiran cucu-cucunya.
Al Hasan r.a. dan Al Husein r.a. mempunyai kedudukan tersendiri di dalam hati
beliau. Dua orang cucunya itu beliau asuh sendiri. Kaum muslimin pada zaman
hidupnya Nabi Muhammad s.a.w. menyaksikan sendiri betapa besarnya kecintaan
beliau kepada Al Hasan r.a. dan Al Husein r.a. Beliau menganjurkan supaya
orang mencintai dua "putera" beliau itu dan berpegang teguh pada
pesan itu.
Al Hasan r.a. dan Al Husein r.a. meninggalkan jejak yang jauh jangkauannya
bagi umat Islam. Al Husein r.a. gugur sebagai pahlawan syahid menghadapi
penindasan dinasti Bani Umayyah. Semangatnya terus berkesinambungan,
melestarikan dan membangkitkan perjuangan yang tegas dan seru di kalangan
ummat Islam menghadapi kedzaliman. Semangat Al Husein r.a. merupakan kekuatan
penggerak yang luar biasa dahsyatnya sepanjang sejarah.
Puteri beliau yang bernama Zainab r.a. merupakan pahlawan wanita muslim yang
sangat cemerlang dan menonjol sekali peranannya, dalam pertempuran di Karbala membela Al
Husein r.a. Di Karbala itulah dinasti Bani Umayyah menciptakan tragedi yang
menimpa A1 Husein r.a. beserta segenap anggota keluarganya. A1 Husein r.a.
gugur dan kepalanya diarak sebagai pameran keliling Kufah sampai ke Syam.
Setelah hidup bersuami isteri selama kurang lebih 10 tahun Sitti Fatimah r.a.
meninggal dunia dalam usia 28 tahun. Sepeninggal Sitti Fatimah r.a., Imam Ali
r.a. beristerikan beberapa orang wanita lainnya lagi. Menurut catatan
sejarah, hingga wafatnya Imam Ali r.a. menikah sampai 9 kali. Tentu saja
menurut ketentuan-ketentuan yang tidak bertentangan dengan hukum Islam. Dalam
satu periode, tidak pernah lebih 4 orang isteri.
Wanita pertama yang dinikahi Imam Ali r.a. sepeninggal Siti Fatimah r.a.
ialah Umamah binti Abil 'Ashiy. Ia anak perempuan iparnya sendiri, Zainab
binti Muhammad s.a.w., kakak perempuan Sitti Fatimah r.a. Pernikahan dengan
Umamah r.a. ini mempunyai sejarah tersendiri, yaitu untuk melaksanakan pesan
Sitti Fatimah r.a. kepada suaminya sebelum ia wafat. Nampaknya pesan itu
didasarkan kasih-sayang yang besar dari Umamah ra. kepada putera-puterinya.
Setelah nikah dengan Umamah r.a., Imam Ali r.a. nikah lagi dengan Khaulah
binti Ja'far bin Qeis. Berturut-turut kemudian Laila binti Mas'ud bin Khalid,
Ummul Banin binti Hazzan bin Khalid dan Ummu Walad. Isteri Imam Ali r.a. yang
keenam patut disebut secara khusus, karena ia tidak lain adalah Asma binti
Umais, sahabat terdekat Sitti Fatimah r.a. Asma inilah yang mendampingi Sitti
Fatimah r.a. dengan setia dan melayaninya dengan penuh kasih-sayang hingga
detik-detik terakhir hayatnya.
Isteri-isteri Imam Ali r.a. yang ke-7, ke-8 dan ke-9 ialah As-Shuhba, Ummu
Sa'id binti 'Urwah bin Mas'ud dan Muhayah binti Imruil Qeis. Dari 9 isteri,
di luar Sitti Fatimah r.a., Imam Ali r.a. mempunyai banyak anak. Jumlahnya
yang pasti masih menjadi perselisihan pendapat di kalangan para penulis
sejarah.
Al Mas'udiy dalam bukunya "Murujudz Dzahab" menyebut putera-puteri
Imam Ali r.a. semuanya berjumlah 25 orang. Sedangkan dalam buku "Almufid
Fil Irsyad" dikatakan 27 orang anak. Ibnu Sa'ad dalam bukunya yang
terkenal, "Thabaqat", menyebutnya 31 orang anak, dengan perincian:
14 orang anak lelaki dan 17 orang anak perempuan. Ini termasuk putera-puteri
Imam Ali r.a. dari isterinya yang pertama.
Bab IV : PERANAN KEPAHLAWANAN
Masih
ada sementara penulis sejarah yang dengan berbagai dalih dan alasan
mengatakan, bahwa Imam Ali r.a. bukan orang yang pertama-tama beriman
kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebagai alasan dikatakan, bahwa hukum belum
berlaku baginya, karena ketika ia memeluk Islam usianya masih sangat muda,
malahan dikatakan "masih kanak-kanak".
Alasan seperti itu tampak sekali dicari-cari. Sebab, seorang remaja yang
berusia 13 tahun, bukan seorang kanak-kanak lagi. Ia sudah mampu berfikir
membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Usia 13 tahun pada umumnya
bisa dipandang sebagai tahap permulaan masa akil baligh. Dalam usia akil
baligh itu orang sudah dapat menerima penjelasan-penjelasan dan
keterangan-keterangan tentang sesuatu dengan baik. Fikiran dan perasaannya
pun sudah berada dalam tingkatan aktif, dapat membedakan mana hal-hal yang
menyenangkan atau menyedihkan, mana yang mengagumkan dan mana yang
memuakkan, mana yang masuk akal dan mana yang tidak.
Seperti diketahui, sejak Imam Ali r.a. berusia 6 tahun langsung diasuh,
dibimbing dan dididik oleh Nabi Muhammad s.a.w. Menurut sistem pendidikan
modern, tingkat usia 6 tahun itu justru yang paling tepat bagi seseorang
anak memasuki sekolah dasar, yang akan berlangsung selama 6 tahun. Dari
usia 6 tahun sampai 12 tahun dapatlah dikatakan, bahwa Imam Ali r.a. telah
mendapat "pendidikan dasar" dari seorang guru yang paling
bijaksana.
Selama periode "pendidikkan dasar" itu, Imam Ali r.a. telah
dipersiapkan oleh gurunya untuk menyongsong datangnya masa pancaroba yang
akan menjadi ciri perobahan zaman. Ketika Imam Ali r.a. menginjak usia 13
tahun, terjadilah bi'tsah Muhammad sebagai Nabi dan Rasul, yang akan
menjungkir-balikkan masa jahiliyah dan menggantinya dengan kecerahan masa
hidayah. Masa "pendidikkan dasar" dan persiapan yang sangat tepat
waktunya itulah, yang kemudian mewarnai sikap hidup dan kepribadian Imam
Ali r.a. sebagai orang yang teguh imannya kepada Allah dan Rasul-Nya.
Ketika berlangsung blokade ekonomi dan pemboikotan sosial yang dilancarkan
orang-orang kafir Qureiys terhadap semua keluarga Bani Hasyim, Imam Ali
r.a. ikut langsung menghayati kesengsaraan dan penderitaan yang menjadi
akibatnya. Dengan mengikuti bimbingan serta tauladan Rasul Allah s.a.w.
beserta Sitti Khadijah r.a., dengan tangguh, tabah dan sabar, Imam Ali r.a.
ikut berjuang mempertahankan dan membela da'wah Islam.
Tidak hanya itu saja. Selama hampir empat tahun terkepung dalam Syi'ib,
Imam Ali r.a. memperoleh kesempatan yang luar biasa besarnya untuk menerima
pendidikan tauhid dan ilmu-ilmu Ilahiyah, langsung dari Rasul Allah s.a.w.
Satu kesempatan yang tidak pernah didapat oleh orang mukmin manapun. Dalam
keadaan materiil serba kurang, Imam Ali r.a. yang masih remaja itu
fikirannya terbuka seterang-terangnya guna menerima hidayah llahi, dan
dengan tuntunan Rasul Allah s.a.w. ia dapat mengenal hakekat kebenaran
Allah 'Azza wa Jalla.
Tentang kedinian Imam Ali r.a. beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi
Muhammad s.a.w. sendiri pernah menegaskannya. Penegasan itu disaksikan oleh
para sahabat dekat dan terkemuka, yaitu Abu Bakar Ash Shiddiq r.a., Umar
Ibnul Khattab r.a. dan Abu Ubaidah r.a. Hal itu tercantum dalam Kitab
"Kanzul Ummal", jilid VI, hlm. 393. Riwayatnya berasal dari Ibnu
Abbas.
Umar Ibnul Khattab berkata: "....Aku, Abu Bakar dan Abu Ubaidah
bersama beberapa orang sahabat Nabi lainnya pernah datang ke rumah Ummu
Salmah. Setiba disana aku melihat Ali bin Abi Thalib sedang berdiri di
pintu. Kami katakan kepadanya, bahwa kami hendak bertemu dengan Rasul Allah
s.a.w. Ia menjawab, sebentar lagi beliau akan keluar. Waktu beliau keluar,
kami segera berdiri. Kami lihat beliau bertopang pada Ali bin Abi Thalib
dan menepuk-nepuk bahunya sambil berucap: "Engkau unggul dan akan
tetap unggul, orang pertama yang beriman, seorang mukmin yang paling banyak
mengetahui hari-hari Allah (hari-hari turunnya nikmat dan cobaan), paling
setia menepati janji, paling adil dalam bertugas melakukan pembagian
ghanimah, paling bercinta-kasih kepada rakyat, dan paling banyak
menderita."
Membela Kebenaran
Di samping perjuangannya di bidang aqidah, ilmu dan pemikiran, Imam Ali
r.a. juga terkenal sebagai seorang muda yang memiliki kesanggupan berkorban
yang luar biasa besarnya. Ia mempunyai susunan jasmani yang sempurna dan
tenaga yang sangat kuat. Sudah tentu, itu saja belum menjadi jaminan bagi
seseorang untuk siap mempertaruhkan nyawanya membela kebenaran Allah dan
Rasul-Nya. Imannya yang teguh laksana gunung raksasa dan kesetiaannya yang
penuh kepada Allah dan Rasul-Nya, itulah yang menjadi pendorong utama.
Imam Ali r.a. tidak pernah menghitung-hitung resiko dalam perjuangan suci
menegakkan Islam. Dengan jasmani yang tegap dan kuat, serta iman yang kokoh
dan mantap, Imam Ali r.a. benar-benar mempunyai syarat fisik-materiil dan
mental-spiritual untuk menghadapi tahap-tahap perjuangan yang serba berat.
Di saat-saat Islam dan kaum muslimin berada dalam situasi yang kritis dan
gawat, Imam Ali r.a. selalu tampil memainkan peranan menentukan. Selama
hidup ia tak pernah mengalami hidup santai. Sejak muda remaja sampai akhir
hayatnya, ia keluar masuk dari kesulitan ke kesulitan lain, dan dari
pengorbanan ke pengorbanan yang lain. Namun demikian ia tak pernah
menyesali nasib, bahkan dengan semangat pengabdian yang tinggi kepada Allah
dan Rasul-Nya, ia senantiasa siap menghadapi segala tantangan. Satu-satunya
pamrih yang menjadi pemikirannya siang dan malam hanya ingin memperoleh
keridhoan Allah dan Rasul-Nya. Kesenangan hidup duniawi baginya bukan
apa-apa dibanding dengan kenikmatan ukhrawi yang telah dijanjikan Allah
s.w.t. bagi hamba-hamba-Nya yang berani hidup di atas kebenaran dan
keadilan.
berkali-kali imannya yang teguh diuji oleh Rasul Allah s.a.w. Tiap kali
diuji, tiap kali itu juga lulus dengan meraih nilai yang amat tinggi. Ujian
pertama yang maha berat ialah yang terjadi pada saat Rasul Allah s.a.w.
menerima perintah Allah s.w.t. supaya berhijrah ke Madinah.
Seperti diketahui, di satu malam yang gelap-gulita, komplotan kafir Qureiys
mengepung kediaman Rasul Allah s.a.w. dengan tujuan hendak membunuh beliau,
bilamana beliau meninggalkan rumah. Dalam peristiwa ini Imam Ali r.a.
memainkan peranan besar: Ia diminta oleh Rasul Allah s.a.w. supaya tidur di
atas pembaringan beliau menutup tubuhnya dengan selimut beliau guna mengelabui
mata orang-orang Qureiys. Tanpa tawar-menawar Imam Ali r.a. menyanggupinya.
Ia menangis bukan mencemaskan nyawanya sendiri, melainkan karena ia
khawatir atas keselamatan Rasul Allah s.a.w. yang saat itu berkemas-kemas
hendak hijrah meninggalkan kampung halaman.
Melihat Imam Ali menangis, maka Rasul Allah bertanya: "Apa sebab
engkau menangis, Apakah engkau takut mati?".
Imam Ali r.a. dengan tegas menjawab: "Tidak, ya Rasul Allah! Demi
Allah yang mengutusmu membawa kebenaran! Aku sangat khawatir terhadap diri
anda. Apakah anda akan selamat, ya R,asul Allah?"
"Ya," jawab Nabi Muhammad s.a.w. dengan tidak ragu-ragu.
Mendengar kata-kata yang pasti dari Rasul Allah s.a.w., Imam Ali r.a. terus
berkata: "Baiklah, aku patuh dan kutaati perintah anda. Aku rela
menebus keselamatan anda dengan nyawaku, ya Rasul Allah!"
Imam Ali r.a. segera menghampiri pembaringan Rasul Allah s.a.w. Kemudian
berselunjur mengenakan selimut beliau untuk menutupi tubuhnya. Saat itu
orang-orang kafir Qureiys sudah mulai berdatangan di sekitar rumah Rasul
Allah s.a.w. dan mengepungnya dari segala jurusan. Dengan perlindungan
Allah s.w.t. dan sambil membaca ayat 9 Surah Yaa Sin, beliau keluar tanpa
diketahui oleh orang-orang yang sedang mengepung dan mengintai. Orang-orang
Qureiys itu menduga, bahwa orang yang sedang berbaring dan berselimut itu
pasti Nabi Muhammad s.a.w. Mereka yang mengepung itu mewakili suku-suku
qabilah Qureiys yang telah bersepakat hendak membunuh Nabi Muhammad s.a.w.
dengan pedang secara serentak. Dengan cara demikian itu, tidak mungkin Bani
Hasyim dapat menuntut balas.
Imam Ali r.a. mengerti benar kemungkinan apa yang akan diperbuat
orang-orang kafir Qureiys terhadap dirinya karena ia tidur di pembaringan
Rasul Allah s.a.w. Hal itu sama sekali tidak membuatnya sedih atau takut.
Dengan kesabaran yang luar biasa, ia berserah diri pada Allah s.w.t. Ia
yakin, bahwa Dia-lah yang menentukan segala-galanya.
Menjelang subuh, Imam Ali r.a. bangun. Gerombolan Qureiys terus menyerbu ke
dalam rumah. Dengan suara membentak mereka bertanya: "Mana Muhammad?
Mana Muhammad?"
"Aku tak tahu di mana Muhammad berada!" jawab Imam Ali r.a.
dengan tenang.
Gerombolan Qureiys itu segera mencari-cari ke sudut-sudut rumah. Usaha
mereka sia-sia belaka. Gerombolan itu kecewa benar. Di dalam hati mereka
bertanya-tanya: "Kemana ia pergi?" Dalam suasana gaduh Imam Ali
r.a. bertanya: "Apa maksud kalian?"
"Mana, Muhammad? Mana Muhammad?" mereka mengulang-ulang
pertanyaan semula.
"Apakah kalian mengangkatku menjadi pengawasnya?" ujar Imam Ali
r.a. dengan nada memperolok-olok. "Bukankah kalian sendiri berniat
mengeluarkannya dari negeri ini? sekarang ia sudah keluar meninggalkan
kalian!"
Ucapan Imam Ali r.a. sungguh-sungguh menggambarkan ketabahan dan keberanian
hatinya. Cahaya pedang terhunus yang berkilauan, samasekali tidak
dihiraukan, bahkan orang-orang Qureiys yang kalap itu dicemoohkan.
Seandainya ada seorang saja dari gerombolan itu mengayunkan pedang ke arah
Imam Ali r.a., entahlah apa yang terjadi. Tetapi Allah tidak menghendaki hal
itu.
Keesokan harinya, Imam Ali r.a. berkemas-kemas mempersiapkan segala sesuatu
untuk berangkat membawa beberapa orang wanita Bani Hasyim, terutama Sitti
Fatimah r.a., menyusul perjalanan Nabi Muhammad s.a.w. dalam hijrahnya ke
Madinah.
Seperti telah diterangkan di muka, rombongan Imam Ali r.a. berangkat secara
terang-terangan di siang hari. Setibanya di Dhajnan ia membuka babak
konfrontasi bersenjata antara kaum muslimin dan kaum musyrikin.
Imam Ali r.a. yang ketika itu berusia 26 tahun, merupakan orang pertama
yang menghunus pedang untuk mematahkan agresi bersenjata orang-orang kafir
Qureiys. Terbelahnya tubuh Jenah menjadi dua dan larinya 7 orang pasukan
berkuda Qureiys yang semula mengejar rombongan, merupakan tonggak sejarah
yang menandai akan datangnya masa cerah bagi kaum muslimin dan masa suram
bagi kaum musyrikin.
|
Bab IV-1 : Perang Badr
Bab XV : PINTU ILMU
Dalam
riwayat yang ditulisnya, Ibnu Abbas mengatakan: "Demi Allah, Rasul
Allah s.a.w. telah memberi kepada Imam Ali sembilan-persepuluh dari semua
ilmu yang ada, dan demi Allah, Imam Ali masih juga mengetahui sebagian dari
sepersepuluh ilmu sisanya yang ada pada kalian atau pada mereka."
Mengenai hal itu cukuplah dikemukakan saja ucapan Rasul Allah s.a.w. yang
menegaskan: "Aku ini adalah kotanya ilmu atau kotanya hikmah,
sedangkan Ali adalah pintu gerbangnya. Barang siapa ingin memperoleh ilmu
hendaknya ia mengambil lewat pintunya."
Allah s.w.t. telah melimpahkan nikmat tiada terhingga kepada Imam Ali bin
Abi Thalib r.a. berupa ilmu dan hikmah, sehingga ia menjadi orang yang
paling banyak mengetahui dan menguasai isi A1 Qur'an serta ajaran-ajaran
Rasul Allah s.a.w. Dengan sendirinya ia pun merupakan orang yang paling
mampu menetapkan fatwa hukum Islam. Sebenarnya hal itu bukan merupakKan satu
kejutan, karena dia adalah satu-satunya orang muslim yang terdini memeluk
Islam dan hidup langsung di bawah naungan wahyu sejak masa kanak-kanak
sampai dewasa.
Sebuah riwayat hadits yang berasal dari Mu'adz bin Jabal mengatakan bahwa
Rasul Allah s.a.w. berkata kepada Imam Ali r.a.: "Engkau mengungguli
orang lain dalam tujuh perkara. Tak ada seorang Qureisy pun yang dapat
menyangkalnya. Yaitu:
-Engkau adalah orang pertama yang beriman kepada Allah,
-Engkau orang yang terdekat dengan janji Allah,
-Engkau orang yang termampu menegakkan perintah Allah,
-Engkau orang yang paling adil mengatur pembagian (ghanimah),
-Engkau orang yang paling berlaku adil terhadap rakyat,
-Engkau paling banyak mengetahui semua persoalan,
-dan Engkau orang yang paling tinggi nilai kebaikan sifatnya di sisi
Allah."
Jadi, kalau Rasul Allah s.a.w. sendiri sudah menilai Imam Ali r.a.
sedemikian lengkapnya, tidaklah keliru kalau dikatakan, bahwa Imam Ali r.a.
merupakan kualitas pilihan di kalangan ummat Islam.
Fashahah dan Balaghah
Al Mas'udiy meriwayatkan, bahwa lebih dari 480 khutbah yang diucapkan oleh
Imam Ali r.a. tanpa dipersiapkan lebih dahulu, dihafal oleh banyak orang.
Syarif Ar-Ridha mengatakan dalam kitab Khutbah Nahjil Balaghah, bahwa
Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib adalah pencipta dan pengajar ilmu
Fashahah dan juga merupakan orang yang melahirkan ilmu Balaghah.
Dari dialah munculnya aturan-aturan ilmu tersebut dan dari dia juga orang
mengambil kaidah-kaidah dan hukum-hukumnya. Tiap orang yang berbicara
sebagai khatib, pasti mengambil pepatah atau kata-kata rnutiara dari dia,
dan tiap orang yang pandai mengingatkan orang lain pasti mencari bantuan
dengan jalan mengutip kata-kata Imam Ali. Demikian kata Syarif Ar Ridha.
Tentang hal itu Muawiyah sendiri juga terpaksa harus mengakui keunggulan
lawannya, ketika ia berkata terus terang kepada Abu Mihfan:
"Seandainya semua mulut dijadikan satu, belum juga dapat menyamai
kepandaian Ali bin Abi Thalib. Demi Allah, tidak ada orang Qureiys yang
cakap berbicara seperti dia!"
Banyak sekali ungkapan dan kata-kata mutiara Imam Ali r.a. tercantum dalam
kitab Nahjul Balaghah, yang dibelakang hari diuraikan oleh Ibnu Abil Hadid
dalam bukunya Syarah Nahjil Balaghah, yang terdiri dari 20 jilid. Buku
Nahjul Balaghah kiranya cukuplah menjadi bukti, bahwa dalam hal menyusun
kalimat dan memilih kata-kata bermutu, memang tidak ada orang lain yang
dapat menyamai atau melebihi Imam Ali r.a. selain Rasul Allah s.a.w.
sendiri. Salah satu contoh ialah kata-katanya: "Tiap wadah bila diisi
menyempit kecuali wadah ilmu, ia bahkan makin bertambah luas."
Dalam kitab Al Bayan wat Tabyin, Al Jahidz mengetengahkan ucapan Imam Ali
r.a. yang mengatakan: "Nilai seseorang ialah perbuatan baiknya."
Dalam memberikan tanggapan terhadap ucapan Imam Ali r.a. tersebut, Ibnu
Aisyah mengatakan: "Selain kalam Allah dan Rasul-Nya, aku tidak pernah
menemukan sebuah kalimat yang lebih padat maknanya dan lebih umum
kemanfaatannya dibanding dengan ucapan-ucapan Imam Ali."
Pernah ada orang bertanya kepada Imam Ali r.a. tentang berapa jauhnya jarak
antara langit dan bumi. Imam Ali dengan mudah saja menjawab: "Jauhnya
secepat doa yang terkabul!" Orang itu masih bertanya lagi tentang
jauhnya jarak antara timur dan barat. Dijawab oleh Imam Ali r.a.:
"Sejauh perjalanan matahari sehari!"
Nahwu
Ilmu Nahwu yang merupakan salah satu cabang pokok ilmu bahasa Arab pun
sejarah pertumbuhannya tak dapat dipisahkan dari pemikiran Imam Ali r.a.
Dialah yang meletakkan dasar-dasar fundamental ilmu tersebut. Tokoh pertama
yang terkenal sebagai penyusun ilmu Tata Bahasa Arab, Abul Aswad Ad Dualiy,
di imla (didikte) oleh Imam Ali r.a. dalam meletakkan dasar-dasar ilmu
Nahwu dan kaidah-kaidahnya. Antara lain Imam Ali r.a.-lah yang membagi
jenis kata-kata dalam tiga kategori secara sistematik. Yaitu kata benda
(ism), kata kerja (fi'il) dan kata penghubung (harf). Ia jugalah yang
membagi kata benda ke dalam dua sifat. Ma'rifah, yaitu kata benda yang
jelas maksudnya dalam hubungan kalimat, dan Nakirah, yaitu lawan kata benda
Ma'rifah. Demikian juga yang berkaitan dengan jenis-jenis I'rab, seperti
rafa', nasb, jarr dan jazm.
Keistimewaannya ialah dalam meletakkan kaidah-kaidah tata-bahasa Arab itu,
Imam Ali r.a. seolah-olah seperti berbuat mu'jizat. Sebab sebelum itu,
belum pernah ada orang Arab yang mengenal sistematisasi penyusunan
tata-bahasa. Rumus-rumus tata-bahasa belum pernah dikenal orang sama
sekali. Padahal bahasa Arab adalah bahasa yang sangat tua, kaya dan rumit.
Bangsa-bangsa Eropa yang dalam abad modern sekarang ini menguasai peradaban
dunia, waktu itu masih tenggelam dalam vandalisme dan pengembaraan liar.
Jadi tidaklah keliru kalau dikatakan Imam Ali r.a. itu adalah bapak bahasa
Arab modern. Sebab rumus-rumus dan kaidah-kaidah yang diletakkan olehnya,
membuat bahasa Arab mudah dipelajari oleh orang asing.
Khutbah
Kecakapannya berkhutbah bukan asing lagi bagi para penulis sejarah Islam.
Imam Ali r.a. bukan hanya dikenal sebagai Bapak bahasa Arab, tetapi dalam
hal penggunaan dan penerapan bahasa pun ia dikenal sebagai seorang ahli
terkemuka. Keunggulannya dalam kecakapan berbahasa dan bersastra membuat
orang menarik kesimpulan, bahwa nilai perkataan Imam Ali r.a. berada di
bawah firman Allah Al Khaliq dan tutur-kata Rasul-Nya. Pada masa hidupnya
tidak sedikit orang datang kepadanya untuk menimba ilmu berkhutbah dan ilmu
menulis.
Abdul Hamid bin Yahya, seorang ilmuwan dan penulis Islam yang masyhur itu,
sampai berkata sambil membanggakan diri, bahwa ia mempunyai kumpulan
khutbah-khutbah Imam Ali sebanyak 70 perangkat. "Dan itu masih bertambah
terus," katanya. Akan tetapi Abdul Hamid itu masih kalah unggul
dibanding dengan Ibnu Nubatah, yang nama sebenarnya ialah Abdurrahman bin
Muhammad bin Ismail Al-Fariqiy Al-dudzamiy. Ia mengatakan: "Aku
menyimpan setumpuk khutbah-khutbahnya. Sampai sekarang masih bertambah
terus jumlahnya. Aku menyimpan 100 bab dari wejangan-wejangan Imam Ali bin
Abi Thalib."
Kecakapan Imam Ali r.a. menyusun pidato sangat membantu para peneliti
sejarah Islam, khususnya sejarah perjuangan Imam Ali r.a. sendiri, dalam
menghimpun data-data dan fakta-fakta. Dibanding dengan khutbah-khutbahnya,
khutbah-khutbah yang pernah diucapkan oleh para sahabat Nabi Muhammad
s.a.w. lainnya, belum ada sepersepuluhnya, seandainya semua itu hendak
dikumpulkan. Seorang penulis dan sejarawan klasik Islam, Abu Utsman
Al-Jahidz menegaskan hal tersebut dalam bukunya yang berjudul Al-Bayan wat
Tabyin.
Tauhid
Ilmu Tauhid atau ilmu Kalam adalah ilmu yang paling banyak dikejar dan
diselami oleh kaum muslimin yang berminat mendalami hakikat Islam. Ilmu
Tauhid merupakan induk ilmu-ilmu agama Islam, karena ilmu tersebut
menyangkut masalah ke-Tuhan-an. Kecuali itu, karena luhur dan tingginya
nilai suatu ilmu pengetahuan terletak pada sasaran ilmu itu sendiri.
Ilmu ke-Tuhan-an yang sasarannya adalah Dzat Yang Maha Agung, tidak bisa
tidak pasti merupakan ilmu yang paling tinggi mutu dan nilainya. Kaum awam
dan para ahli yang menekuni ilmu yang mulia itu, hampir tak ada yang
meragukan bahwa ilmu tersebut dikuasai dengan baik sekali oleh Imam Ali
r.a. Bahkan pribadinya sendiri di belakang hari dijadikan sumber penggalian
dan pembahasan ilmu tersebut, yakni ilmu Tauhid.
Kaum Mu'tazilah yang juga dikenal dengan sebutan Ahlut Tauhid Wal 'Adl,
para ahli ilmu qalam, dan para ahli fikir lainnya, jika diusut sumber ilmu
pengetahuannya masing-masing, akhirnya pasti akan bertemu pada pribadi dan
pemikiran Imam Ali r.a. Sebagai ilustrasi dan sekaligus pembuktian dapat
dikemukakan, bahwa tokoh utama kaum Mu'tazilah yang bernama Washil bin
'Atha, dasar-dasar ilmu pengetahuannya berasal dari Imam Ali r.a. Sebab
tokoh Mu'tazilah itu menimba ilmu dari Abu Hasyim Abdullah bin Muhammad
Ibnul Hanafiyah. Hasyim memperoleh ilmu dari ayahnya sendiri, yaitu
Muhammad Ibnul Hanafiyah. Sedang Muhammad Ibnul Hanafiyah bukan saja murid,
melainkan ia adalah putera Imam Ali r.a. sendiri, yakni saudara Al Hasan
dan Al Husein r.a. dari lain ibu.
Kaum Asy'ariy yang asalnya adalah para siswa Abul Hasan Ali bin Ismail bin
Abi Bisyr Al Asy'ariy, ilmu pengetahuan mereka didapat dari Abul Aliy Al-Juba-iy.
Bagi orang yang mendalami ilmu Tauhid dan meneliti asal-usul sejarahnya,
pasti mengetahui bahwa Abul Aliy Al-Juba-iy itu ialah seorang tokoh sangat
terkenal di kalangan kaum Mu'tazilah. Sedang kaum Mu'tazilah itu memperoleh
ilmu mereka dari Imam Ali r.a., seperti yang kami sebutkan di atas tadi.
Mengenai kaum Syi'ah, baik golongan Zaidiyyah maupun golongan Imamiyyah,
sumber ilmu pengetahuan mereka tak usah dipersoalkan lagi. Sudah pasti dari
tokoh pujaan mereka yang paling utama, yaitu Imam Ali bin Abi Thalib r.a
Fiqh
Orang yang paling lembut hatinya dan paling ramah di kalangan ummatku ialah
Abu Bakar. Demikian diungkapkan oleh Rasul Allah s.a.w. Sedang yang paling
keras membela agama ialah Umar Ibnul Khattab. Yang paling pemalu adalah
Utsman bin Affan. Adapun Ali, ajar Rasul Allah s.a.w. seterusnya, ialah
yang paling tahu tentang hukum.
Pernyataan Rasul Allah s.a.w. tersebut merupakan masnad bagi uraian Abu
Ya'la, sebagaimana tercantum dalam kitab karya seorang penulis kenamaan
As-Sayuthiy, yang berjudul Al Jami'us Shaghir (jilid I halaman 58). Yang
dimaksud dengan hukum bukan lain ialah hukum Islam, yaitu Fiqh. llmu Fiqh
merupakan salah satu cabang penting dari ilmu agama Islam.
Ilmu yang bersangkut-paut dengan semua ketentuan hukum Islam itu jelas
sekali berpangkal antara lain dari Imam Ali r.a. Boleh dibilang semua ahli
Fiqh di kalangan kaum muslimin menimba dan mengambil dasar-dasar ilmu
pengetahuannya masingmasing dari Fiqh Imam Ali. Rekan-rekan dan para
pengikut Imam Abu Hanifah, seperti Abu Yusuf, Muhammad dan sebagainya,
semua berguru kepada Abu Hanifah.
Seorang ahli Fiqh terkemuka yang madzhabnya dianut oleh ummat Islam Indonesia,
Imam Syafi'iy, adalah murid Muhammad bin Al Hasan yang ilmunya berasal dari
Abu Hanifah.
Tokoh pertama madzhab Hanbaliy, yaitu Imam Ahmad bin Hanbal, adalah murid
kinasih dan terkemuka dari Imam Syafi'iy. llmu pengetahuan yang ditimbanya
sudah tentu sama seperti ilmu yang didapat oleh Imam Syafi'iy sendiri,
yaitu berasal dari Imam Abu Hanifah.
Tokoh besar ilmu Fiqh, Abu Hanifah, menimba ilmu pengetahuan dari Ja'far
bin Muhammad Ibnul Hanafiyah. Ja'far adalah murid ayahnya sendiri,
sedangkan ayahnya itu ialah murid dan putera Imam Ali.
Tokoh pertama madzhab Malikiy, yaitu Imam Malik bin Anas, pun demikian
juga. Ia menimba ilmu pengetahuan tentang Fiqh dari Abdullah Ibnu Abbas.
Sedangkan Abdullah Ibnu Abbas sendiri diketahui dengan pasti bukan lain
adalah murid Imam Ali bin Abi Thalib r.a. Kalau ada yang mengatakan bahwa
ilmu Fiqh Imam Syafi'iy berasal dari Imam Malik, pangkal dan sumber
pokoknya berasal juga dari Imam Ali.
Fakta-fakta tersebut mengungkapkan kenyataan, bahwa 4 orang Imam Fiqh atau
tokoh-tokoh pertama empat madzhab Fiqh di seluruh dunia Islam sekarang ini,
ilmu pengetahuan Fiqhnya masing-masing berasal dari Imam Ali r.a. Tentu
saja tak perlu diragukan lagi, bahwa ilmu Fiqh yang ada di kalangan kaum
Syi'ah pasti berasal dari Imam Ali. Seorang tokoh besar Islam lainnya, Umar
Ibnul Khattab r.a., dikenal dan diakui sebagai seorang yang banyak memecahkan
masalah-masalah yang berkaitan dengan hukum Islam. Namun ia tidak lepas
dari pemikiran Imam Ali bin Abi Thalib r.a. Hal ini diakui sendiri olehnya
ketika mengatakan: "Tanpa Ali celakalah Umar!" Bahkan Khalifah
yang terkenal keras, tegas, tetapi bijaksana dan arif itu pernah juga
mengucap-kan "Tidak ada kesukaran (hukum) yang tak dapat dipecahkan
oleh Abul Hasan (Imam Ali)."
Waktu melukiskan bagaimana wibawa dan wewenang Imam Ali dalam menetapkan
fatwa hukum, Khalifah Umar r.a. juga menegaskan: "Tidak ada seorang
pun di dalam masjid yang dapat memberikan fatwa hukum, bila Ali
hadir."
Penguasaan, penafsiran dan penerapan hukum Islam oleh Imaln Ali r.a.
dilakukan secara tepat dan diakui kebenarannya oleh Rasul Allah s.a.w. Hal
itu dibuktikan dengan diangkatnya Imam Ali --pada masa itu-- sebagai qadhi
(hakim) di Yaman. Ketika melepas saudara misan kesayangannya itu Rasul
Allah s.a.w. sempat berdoa: "Ya Allah, bimbinglah hatinya dan
mantapkanlah ucapannya." Sebagai tanggapan terhadap harapan Rasul Allah
s.a.w. itu Imam Ali r.a. berkata: "Mulai saat ini aku tidak akan
ragu-ragu lagi mengambil keputusan hukum yang menyangkut dua belah
fihak."
Di antara banyak yurisprudensi, keputusan-keputusan hukum, yang dilahirkan
oleh pemikiran Imam Ali r.a. ialah yang menyangkut kasus perkara sebagai
berikut: Kasus seorang isteri yang melahirkan anak, padahal ia baru enam
bulan menikah dengan suaminya. Yaitu suatu penetapan hukum yang dilakukan
oleh Imam Ali r.a. berdasarkan Surah Al-Ahqaf ayat 15. Juga Imam Ali-lah
yang menetapkan fatwa hukum Islam tentang wanita hamil karena perbuatan
zina. Memecahkan masalah hukum Faraidh yang pelik dan rumit, yaitu hukum
tentang pembagian harta waris, Imam Ali r.a. sanggup melakukannya dengan
cepat dan tepat. Yurisprudensi ini lahir dari satu kasus yang terkenal
dalam sejarah Fiqh dengan nama "Kasus Minbariyyah". Kasus ini
menarik para ahli hukum Islam maupun non Islam. Peristiwa ini terjadi
ketika Imam Ali r.a. sedang berkhutbah di atas mimbar, tiba-tiba ada
seorang bertanya tentang hukum yang berkaitan dengan pembagian waris antara
dua orang anak perempuan, dua orang ayah dan seorang perempuan. Seketika
itu juga dan hanya dalam waktu beberapa detik saja, tanpa ragu-ragu Imam
Ali r.a. menjawab: "Seperdelapan yang menjadi hak perempuan itu berubah
menjadi sepersembilan!"
Dihitung secara matematik dan ditinjau dari sudut keadilan dan
kebijaksanaan berdasarkan Al-Qur'an, fatwa hukum Imam Ali r.a. tersebut
mencapai record dalam memecahkan kasus pembagian harta waris yang amat
pelik dan rumit. Seorang ahli hukum Faraidh sendiri, walau dengan bantuan
alat kalkulator, baru dapat menemukan angka yang disebutkan oleh Imam Ali
r.a. kalau sudah menghitung-hitung dahulu selama beberapa saat. Masalah itu
memang merupakan masalah matematika yang cukup ruwet. Tetapi menurut
kenyataan, fatwa Imam Ali r.a. yang diambil dalam waktu beberapa detik itu
setelah diuji dan diteliti secermat-cermatnya berdasarkan hukum Al-Qur'an
dan sunnah Rasul Allah s.a.w., terbukti benar dan tepat. Jelaslah hanya
orang yang betul-betul menguasai dasar-dasar hukum Fiqh sampai
sedalam-dalamnya sajalah yang dapat memberikan jawaban secepat itu!
Tafsir
Bagi orang awam, bahkan kaum ahli sekalipun, selalu menjumpai kenyataan
bahwa tafsir Al-Qur'an banyak sekali kaitannya dengan nama seorang ulama
besar, Abdullah Ibnu Abbas. Ulama ini memang terkenal sekali sebagai
seorang ahli tafsir Al Qur'an. Abdullah Ibnu Abbas juga seorang ulama yang
dipercaya oleh Khalifah Abu Bakar r.a. dan Khalifah Umar r.a. untuk
memberikan penafsiran tentang sesuatu ayat Al-Qur'an.
Sungguhpun demikian, ketika Abdullah Ibnu Abbas ditanya orang, bagaimana
perbandingan ilmu pengetahuan yang dimilikinya dengan ilmu pengetahuan yang
dimiliki oleh "putera paman anda" (Imam Ali r.a.), jawabnya
sederhana saja: "Perbandingannya seperti setetes air hujan dengan air
samudera!" Jawaban itu tidak mengherankan. Bukan hanya karena ia
rendah hati, melainkan juga karena ia adalah murid Imam Ali r.a. sendiri.
Dalam ilmu tafsir, nama dua orang itu hampir tak pernah pisah sama sekali.
Benar sekali penyaksian Abu Fudhail yang mendengar sendiri Imam Ali r.a.
berkata dari atas mimbar: "Tanyakanlah kepadaku selama aku ada. Apa
saja yang kalian tanyakan, aku sanggup menjawab. Tanyakanlah tentang Kitab
Allah. Demi Allah, tak ada satu ayat pun yang aku tidak mengetahui, apakah
ayat itu turun di waktu siang ataukah di waktu malam, di datarankah atau di
pegunungan."
Kata-kata Imam Ali r.a. itu bukan menunjukkan kesombongan, tetapi karena ia
tampak jengkel melihat ada orang yang menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an
dengan semena-mena. Dan apa yang diucapkannya itu bukan kata-kata hampa
yang tidak berbukti.
Menurut Ibnu Abil Hadid, Al-Madainiy meriwayatkan, bahwa dalam salah satu
khutbahnya Imam Ali r.a. pernah berkata: "Seandainya ada yang mengadu
kepadaku karena bantalnya dirobek orang, aku akan mengambil keputusan
hukum. Bagi ahli Taurat berdasarkan Tauratnya, bagi ahli Injil berdasarkan
Injilnya, dan bagi ahli Al-Qur'an berdasarkan Qur'an-nya!"
Sungguh besarlah nikmat Allah yang dilimpahkan kepada putera Abu Thalib
yang telah menerima asuhan dan pendidikan manusia terbesar sepanjang
sejarah, Nabi besar Muhammad s.a.w.! Tidak keliru kalau tiga orang Khalifah
sebelumnya memandang Imam Ali r.a. sebagai penasehat ahli yang sama sekali
tak dapat ditinggalkan fatwa-fatwanya.
Tilawatil Qur'an
Bagi Imam Ali r.a. ilmu Tilawatil Al-Qur'an merupakan ilmu yang paling
pertama kali diteguk dan diperolehnya langsung dari Rasul Allah s.a.w.
sejak berusia muda belia. Ialah orang yang paling tahu bagaimana Rasul
Allah s.a.w. membaca ayat-ayat Al-Qur'an. Sejak Rasul Allah s.a.w. masih
hidup, Imam Ali r.a. sudah dikenal sebagai orang pertama dan yang paling
dini menghafal Al-Qur'an. Kedudukannya yang sangat dekat dengan Rasul Allah
s.a.w. dan kecerdasannya membuat Imam Ali r.a. dapat menguasai dengan
sempurna ilmu Tilawatil Qur'an.
Ada kesepakatan
di kalangan para penyusun riwayat, bahwa di samping menguasai pengertian
dan tafsir Al-Qur'an secara baik, Imam Ali r.a. juga diakui sebagai seorang
ahli ilmu Tilawah. Keahlian dan kecakapannya di bidang ini sangat membantu
usaha menghimpun ayat-ayat suci Al-Qur'an di kemudian hari. Dalam pekerjaan
yang maha besar itu sumbangan dan peranan Imam Ali r.a. sangat menentukan
keberhasilannya.
Sebagaimana diketahui, setelah Rasul Allah s.a.w. wafat, Abu Bakar Ash
Shiddiq meneruskan kepemimpinan beliau atas ummat Islam. Di kala itu
terjadi peperangan-peperangan untuk menumpas kaum pembangkang zakat dan
gerakan kaum murtad, serta oknum-oknum petualang yang mengaku diri sebagai "nabi".
Dengan terjadinya konflik-konflik tersebut para sahabat yang hafal
ayat-ayat suci Al-Qur'an makin berkurang jumlahnya karena banyak yang gugur
di medan
tempur. Terdorong oleh kekhawatiran habisnya para sahabat yang hafal
ayat-ayat Al-Qur'an, atas usul Umar Ibnul Khattab r.a., Khalifah Abu Bakar
memerintahkan Zaid bin Tsabit supaya segera mengkodifikasi wahyu suci.
Tugas raksasa ini memerlukan ketekunan, kesabaran, ketelitian, kecermatan
dan kejujuran. Dalam pekerjaan mulia ini, Zaid bin Tsabit dimudahkan antara
lain oleh sumbangan Imam Ali r.a. yang tak ternilai besarnya.
Jika ditelusuri sejarah ilmu Tilawatil Qur'an, maka akan ditemukan
kenyataan bahwa para Imam dan para ahli Tilawah semuanya menimba ilmu dari
sumbernya yang pertama, yaitu Imam Ali r.a. Ambil saja sebagai misal, Abu
Umar bin Al-A'laa, 'Ashim bin Najd dan
sebagainya. Mereka semua berasal dari perguruan Abu Abdurrahman As-Sulamiy
Al-Qari. Sedangkan Abu Abdurrahman ini tak lain adalah murid Imam Ali r.a.
sendiri, yang belajar langsung dari gurunya itu.
Sebagai orang yang hidup taqwa dan menguasai Al-Qur'an baik lafadz maupun
maknanya, Imam Ali r.a. memandang Al-Qur'an sebagai satu-satunya juru
selamat bagi manusia dalam kehidupan dunia dan akhirat. Ketika menjelaskan
pandangannya terhadap Al-Qur'an, Imam Ali r.a. antara lain berkata:
"Kalian wajib mengetahui, bahwa Al-Qur'an itu adalah nasehat yang tak
pernah palsu, pembimbing yang tak pernah sesat, dan pembicara yang tak
kenal dusta. Tiap orang yang duduk membaca Al-Qur'an, ia pasti memperoleh
tambahan atau pengurangan, yaitu tambahan hidayat atau pengurangan
ketidak-tahuan. Ketahuilah bahwa tidak ada yang lebih unggul dan lebih
tinggi bagi seseorang daripada Al-Qur'an."
"Oleh karena itu sembuhkanlah penyakit kalian dengan Al-Qur'an, dan
dengan Al-Qur'an mohonlah pertolongan kepada Allah untuk mengatasi
kesukaran kalian. Dalam Al-Qur'an terdapat obat penyembuh bagi penyakit
yang paling parah, yaitu penyakit
kufur, kemunafikan dan kesesatan. Mohonlah kepada Allah dengan Al-Qur'an
dan dengan mencintai Al-Qur'an hadapkanlah diri kalian ke hadirat-Nya.
Janganlah dengan Al-Qur'an kalian meminta sesuatu kepada makhluk Allah.
Semua hamba Allah tidak dapat menghadapkan diri kepada-Nya melalui sesama
makhluk.
"Dan ketahuilah, bahwa Al-Qur'an adalah pemberi syafa'at yang
benar-benar dapat diharapkan. Juga merupakan pembicara terpercaya. Barang
siapa memperoleh syafa'at dari Al-Qur'an pada hari kiyamat, berarti ia
memperoleh syafa'at yang sejati. Dan Barang siapa yang dinilai buruk oleh
Al-Qur'an, pada hari kiyamat ia tidak akan dipercaya. Pada hari kiyamat
akan terdengar suara berseru: 'Bukankah orang yang berbuat akan diuji
dengan perbuatannya sendiri dan akan diuji pula oleh akibat dari
perbuatannya itu, kecuali orang yang berbuat menurut ajaran Al-Qur'an?'…"
"Oleh sebab itu jadilah kalian orang-orang yang berbuat sesuai dengan
Al-Qur'an dan mengikuti ajaran-ajarannya. Jadikanlah Al-Qur'an sebagai
penasehat bagi diri kalian. Jadikanlah Al-Qur'an sebagai pembimbing fikiran
dan pendapat kalian, dan jadikanlah Al-Qur'an sebagai pencegah hawa
nafsu!"
Demikianlah pandangan hidup seorang bapak ilmu Tilawatil Qur'an, Imam Ali
bin Abi Thalib r.a. Ilmunya menghayati pandangan hidupnya dan pandangan
hidupnya mengarahkan penerapan ilmunya. Dan itulah yang menjadi hakekat
dasar ilmu Tilawatil Qur'an.
Tarikat
Ilmu Tarikat pun tidak lepas kaitannya dengan Imam Ali r.a. sebagai sumber
sejarahnya. Di kalangan para ahli Tarikat, Imam Ali r.a. diakui sebagai
tokoh puncaknya. Semua ilmu Tarikat, Hakikat dan Tashawuf bersumber pada
pemikiran-pemikiran Imam Ali r.a.
Sebagai putera asuhan, sejak berusia 6 tahun, Imam Ali r.a. selalu berada
di dekat Rasul Allah s.a.w., hampir tak pernah pisah. Sedangkan Rasul Allah
s.a.w. sendiri pada saat menerima Ali bin Abi Thalib dalam tanggung
jawabnya, tengah mengalami satu proses yang luar biasa. Dari segi
kemanusiaannya, terutama kerohaniannya, beliau sedang diproses oleh
Al-Khaliq untuk diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Pada saat itulah Muhammad
s.a.w. melakukan kontemplasi (tafakur), perenungan dan dialog dalam fikiran
batin.
Beliau melakukan penyepian (khalwat) di bukit-bukit dan gua-gua sekitar kota Makkah. Suatu
proses yang berlangsung hebat sekali dalam hati nurani beliau. Dengan
prihatin dan jiwa yang bersih disertai pula dengan pandangan batin yang
tajam beliau menyaksikan ketidak-benaran dan ketimpangan-ketimpangan tata
kehidupan masyarakat dan keagamaan yang dihayati oleh masyarakat jahiliyah
masa itu. Hatinya terketuk melihat kerusakan-kerusakan dan dekadensi yang
menimpa kehidupan masyarakat. Tetapi kalau hanya menyalah-nyalahkan atau
mencela saja tidak akan mendatangkan kebaikan bagi masyarakat yang sedang
sesat dan bobrok itu. Alternatif lain, penggantinya, harus ada. Semuanya
itu berkecamuk dalam hati beliau s.a.w.
Sejak usia dini beliau sudah kritis dalam memandang kehidupan
lingkungannya. Sejak kecil beliau belum pernah hanyut terbawa oleh arus
adat, kebiasaan dan kepercayaan jahiliyah. Imam Ali r.a. menyaksikan
sendiri saudara pengasuhnya itu menempuh cara hidup keduniawian dan
kerohanian yang sangat jauh berbeda dari kebiasaan umum yang lazim berlaku
pada masa itu.
Dengan kepatuhan seorang anak yang ditanggapi secara tepat oleh seorang
dewasa, terjadilah suatu jalinan perpaduan antara Ali bin Abi Thalib dengan
Muhammad s.a.w. dalam periode beliau sedang menghadapi proses
pengangkatannya sebagai Nabi dan Rasul pembawa kebenaran Allah s.w.t. Tak
ada bagian-bagian proses itu yang lewat dari penyaksian Imam Ali bin Abi
Thalib. Ia selalu mengikuti ke mana saja saudara pengasuhnya itu pergi dan
memperhatikan benar-benar apa saja yang dilakukan oleh beliau s.a.w. Ia
mencontoh gaya
hidup jasmani dan rohani, termasuk cara-cara beribadah sebelum kenabian
beliau.
Suara yang berupa ajaran dan wejangan Rasul Allah s.a.w. dan cahaya
kebenaran Allah s.w.t. yang menerangi jiwa beliau diserap oleh Imam Ali bin
Abi Thalib. Hakekat kebenaran Allah 'Azza wa Jalla yang ditemukan dan
difahami oleh saudara pengasuhnya selama prosesnya yang bertahun-tahun itu,
diikuti, diterima dan dihayati oleh Ali bin Abi Thalib r.a. Itulah antara
lain yang memperkuat dasar mengapa Imam Ali r.a. berhak menyandang gelar
sebagai Bapak ilmu Tarikat, Hakekat, atau Tashawuf.
Mengenai ilmu di bidang ini, tokoh-tokoh terkemuka kaum Tarikat seperti Asy
Syibliy, Al-Junaid, Al-Asyariy, Abu Yazid Al-Bistamiy, Abu Mahfudz yang
terkenal dengan nama Al-Khurqiy, dan lain sebagainya, semua mengakui Imam
Ali r.a. sebagai tokoh puncak mereka.
Cara dan gaya
hidup Rasul Allah s.a.w., mulai dari yang sekecil-kecilnya sampai yang
sebesar-besarnya, hampir seluruhnya dijadikan tauladan oleh Imam Ali r.a.
Oleh karena itulah ia bukan saja hidup sebagai seorang ilmuwan yang
mencakup banyak bidang, melainkan juga seorang yang hidup penuh taqwa dan
menempuh cara hidup zuhud. Ia tidak risau atau terpengaruh oleh
kesenangan-kesenangan duniawi. Bahkan sampai menjadi Khalifah pun cara
hidup yang seperti itu dipertahankan sebagai sesuatu yang sudah manunggal
dengan keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah Rabbul'alamin.
Al-Kahfi
Penulis kitab Fadha'ilul Khamsah Minas Shihahis Sittah (jilid II, halaman
291-300), mengetengahkan suatu riwayat yang dikutip dari kitab Qishashul
Anbiya. Riwayat tersebut berkaitan dengan tafsir ayat 10 Surah Al-Kahfi,
yang terjemahannya sebagai berikut: "Ingatlah ketika pemuda-pemuda itu
mencari tempat berlindung di dalam gua, kemudian mereka berdoa: "Wahai
Allah, Tuhan kami, berilah rahmat kepada kami dari sisi-Mu…" Dengan
panjang lebar kitab Qishashul Anbiya mulai dari halaman 566 meriwayatkan
sebagai berikut:
Di kala Umar Ibnul Khattab memangku jabatan sebagai Amirul Mukminin, pernah
datang kepadanya beberapa orang pendeta Yahudi. Mereka berkata kepada
Khalifah: "Hai Khalifah Umar, anda adalah pemegang kekuasaan sesudah
Muhammad dan sahabatnya, Abu Bakar. Kami hendak menanyakan beberapa masalah
penting kepada anda. Jika anda dapat memberi jawaban kepada kami, barulah
kami mau mengerti bahwa Islam merupakan agama yang benar dan Muhammad
benar-benar seorang Nabi. Sebaliknya, jika anda tidak dapat memberi
jawaban, berarti bahwa agama Islam itu bathil dan Muhammad bukan seorang
Nabi."
"Silahkan bertanya tentang apa saja yang kalian inginkan," sahut
Khalifah Umar.
"Jelaskan kepada kami tentang induk kunci (gembok) mengancing langit,
apakah itu?" Tanya pendeta-pendeta itu, memulai
pertanyaan-pertanyaannya. "Terangkan kepada kami tentang adanya sebuah
kuburan yang berjalan bersama penghuninya, apakah itu? Tunjukkan kepada
kami tentang suatu makhluk yang dapat memberi peringatan kepada bangsanya,
tetapi ia bukan manusia dan bukan jin! Terangkan kepada kami tentang lima jenis makhluk
yang dapat berjalan di permukaan bumi, tetapi makhluk-makhluk itu tidak
dilahirkan dari kandungan ibu atau atau induknya! Beritahukan kepada kami
apa yang dikatakan oleh burung puyuh (gemak) di saat ia sedang berkicau!
Apakah yang dikatakan oleh ayam jantan di kala ia sedang berkokok! Apakah
yang dikatakan oleh kuda di saat ia sedang meringkik? Apakah yang dikatakan
oleh katak di waktu ia sedang bersuara? Apakah yang dikatakan oleh keledai
di saat ia sedang meringkik? Apakah yang dikatakan oleh burung pipit pada
waktu ia sedang berkicau?"
Khalifah Umar menundukkan kepala untuk berfikir sejenak, kemudian berkata:
"Bagi Umar, jika ia menjawab 'tidak tahu' atas pertanyaan-pertanyaan
yang memang tidak diketahui jawabannya, itu bukan suatu hal yang
memalukan!''
Mendengar jawaban Khalifah Umar seperti itu, pendeta-pendeta Yahudi yang
bertanya berdiri melonjak-lonjak kegirangan, sambil berkata: "Sekarang
kami bersaksi bahwa Muhammad memang bukan seorang Nabi, dan agama Islam itu
adalah bathil!"
Salman Al-Farisi yang saat itu hadir, segera bangkit dan berkata kepada
pendeta-pendeta Yahudi itu: "Kalian tunggu sebentar!"
Ia cepat-cepat pergi ke rumah Ali bin Abi Thalib. Setelah bertemu, Salman
berkata: "Ya Abal Hasan, selamatkanlah agama Islam!"
Imam Ali r.a. bingung, lalu bertanya: "Mengapa?"
Salman kemudian menceritakan apa yang sedang dihadapi oleh Khalifah Umar
Ibnul Khattab. Imam Ali segera saja berangkat menuju ke rumah Khalifah
Umar, berjalan lenggang memakai burdah (selembar kain penutup punggung atau
leher) peninggalan Rasul Allah s.a.w. Ketika Umar melihat Ali bin Abi
Thalib datang, ia bangun dari tempat duduk lalu buru-buru memeluknya,
sambil berkata: "Ya Abal Hasan, tiap ada kesulitan besar, engkau
selalu kupanggil!"
Setelah berhadap-hadapan dengan para pendeta yang sedang menunggu-nunggu
jawaban itu, Ali bin Abi Thalib herkata: "Silakan kalian bertanya
tentang apa saja yang kalian inginkan. Rasul Allah s.a.w. sudah mengajarku
seribu macam ilmu, dan tiap jenis dari ilmu-ilmu itu mempunyai seribu macam
cabang ilmu!"
Pendeta-pendeta Yahudi itu lalu mengulangi pertanyaan-pertanyaan mereka.
Sebelum menjawab, Ali bin Abi Thalib berkata: "Aku ingin mengajukan
suatu syarat kepada kalian, yaitu jika ternyata aku nanti sudah menjawab
pertanyaan-pertanyaan kalian sesuai dengan yang ada di dalam Taurat, kalian
supaya bersedia memeluk agama kami dan beriman!"
"Ya baik!" jawab mereka.
"Sekarang tanyakanlah satu demi satu," kata Ali bin Abi Thalib.
Mereka mulai bertanya: "Apakah induk kunci (gembok) yang mengancing
pintu-pintu langit?"
"Induk kunci itu," jawab Ali bin Abi Thalib, "ialah syirik
kepada Allah. Sebab semua hamba Allah, baik pria maupun wanita, jika ia
bersyirik kepada Allah, amalnya tidak akan dapat naik sampai ke hadhirat
Allah!"
Para pendeta Yahudi bertanya lagi: "Anak
kunci apakah yang dapat membuka pintu-pintu langit?"
Ali bin Abi Thalib menjawab: "Anak kunci itu ialah kesaksian
(syahadat) bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul
Allah!"
Para pendeta Yahudi itu saling pandang di
antara mereka, sambil berkata: "Orang itu benar juga!" Mereka
bertanya lebih lanjut: "Terangkanlah kepada kami tentang adanya sebuah
kuburan yang dapat berjalan bersama penghuninya!"
"Kuburan itu ialah ikan hiu (hut) yang menelan Nabi Yunus putera
Matta," jawab Ali bin Abi Thalib. "Nabi Yunus as. dibawa keliling
ketujuh samudera!"
Pendeta-pendeta itu meneruskan pertanyaannya lagi: "Jelaskan kepada
kami tentang makhluk yang dapat memberi peringatan kepada bangsanya, tetapi
makhluk itu bukan manusia dan bukan jin!"
Ali bin Abi Thalib menjawab: "Makhluk itu ialah semut Nabi Sulaiman
putera Nabi Dawud alaihimas salam. Semut itu berkata kepada kaumnya:
"Hai para semut, masuklah ke dalam tempat kediaman kalian, agar tidak
diinjak-injak oleh Sulaiman dan pasukan-nya dalam keadaan mereka tidak
sadar!"
Para pendeta Yahudi itu meneruskan pertanyaannya: "Beritahukan kepada
kami tentang lima
jenis makhluk yang berjalan di atas permukaan bumi, tetapi tidak satu pun
di antara makhluk-makhluk itu yang dilahirkan dari kandungan ibunya atau
induknya!"
Ali bin Abi Thalib menjawab: "Lima
makhluk itu ialah, pertama, Adam. Kedua, Hawa. Ketiga, Unta Nabi Shaleh.
Keempat, Domba Nabi Ibrahim. Kelima, Tongkat Nabi Musa (yang menjelma
menjadi seekor ular)."
Dua di antara tiga orang pendeta Yahudi itu setelah mendengar
jawaban-jawaban serta penjelasan yang diberikan oleh Imam Ali r.a. lalu
mengatakan: "Kami bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad
adalah Rasul Allah!"
Tetapi seorang pendeta lainnya, bangun berdiri sambil berkata kepada Ali
bin Abi Thalib: "Hai Ali, hati teman-temanku sudah dihinggapi oleh
sesuatu yang sama seperti iman dan keyakinan mengenai benarnya agama Islam.
Sekarang masih ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan kepada anda."
"Tanyakanlah apa saja yang kau inginkan," sahut Imam Ali.
"Coba terangkan kepadaku tentang sejumlah orang yang pada zaman dahulu
sudah mati selama 309 tahun, kemudian dihidupkan kembali oleh Allah.
Bagaimana hikayat tentang mereka itu?" Tanya pendeta tadi.
Ali bin Ali Thalib menjawab: "Hai pendeta Yahudi, mereka itu ialah
para penghuni gua. Hikayat tentang mereka itu sudah dikisahkan oleh Allah
s.w.t. kepada Rasul-Nya. Jika engkau mau, akan kubacakan kisah mereka itu."
Pendeta Yahudi itu menyahut: "Aku sudah banyak mendengar tentang
Qur'an kalian itu! Jika engkau memang benar-benar tahu, coba sebutkan
nama-nama mereka, nama ayah-ayah mereka, nama kota mereka, nama raja mereka, nama
anjing mereka, nama gunung serta gua mereka, dan semua kisah mereka dari
awal sampai akhir!"
Ali bin Abi Thalib kemudian membetulkan duduknya, menekuk lutut ke depan
perut, lalu ditopangnya dengan burdah yang diikatkan ke pinggang. Lalu ia
berkata: "Hai saudara Yahudi, Muhammad Rasul Allah s.a.w. kekasihku
telah menceritakan kepadaku, bahwa kisah itu terjadi di negeri Romawi, di
sebuah kota
bernama Aphesus, atau disebut juga dengan nama Tharsus. Tetapi nama kota itu pada zaman
dahulu ialah Aphesus (Ephese). Baru setelah Islam datang, kota itu berubah nama menjadi Tharsus
(Tarse, sekarang terletak di dalam wilayah Turki). Penduduk negeri itu
dahulunya mempunyai seorang raja yang baik. Setelah raja itu meninggal
dunia, berita kematiannya didengar oleh seorang raja Persia
bernama Diqyanius. Ia seorang raja kafir yang amat congkak dan dzalim. Ia
datang menyerbu negeri itu dengan kekuatan pasukannya, dan akhirnya
berhasil menguasai kota
Aphesus. Olehnya kota
itu dijadikan ibukota kerajaan, lalu dibangunlah sebuah Istana."
Baru sampai di situ, pendeta Yahudi yang bertanya itu berdiri, terus
bertanya: "Jika engkau benar-benar tahu, coba terangkan kepadaku
bentuk Istana itu, bagaimana serambi dan ruangan-ruangannya!"
Ali bin Abi Thalib menerangkan: "Hai saudara Yahudi, raja itu
membangun istana yang sangat megah, terbuat dari batu marmar. Panjangnya
satu farsakh (= kl 8 km) dan lebarnya pun satu farsakh. Pilar-pilarnya yang
berjumlah seribu buah, semuanya terbuat dari emas, dan lampu-lampu yang
berjumlah seribu buah, juga semuanya terbuat dari emas. Lampu-lampu itu
bergelantungan pada rantai-rantai yang terbuat dari perak. Tiap malam
apinya dinyalakan dengan sejenis minyak yang harum baunya. Di sebelah timur
serambi dibuat lubang-lubang cahaya sebanyak seratus buah, demikian pula di
sebelah baratnya. Sehingga matahari sejak mulai terbit sampai terbenam
selalu dapat menerangi serambi. Raja itu pun membuat sebuah singgasana dari
emas. Panjangnya 80 hasta dan lebarnya 40 hasta. Di sebelah kanannya
tersedia 80 buah kursi, semuanya terbuat dari emas. Di situlah para
hulubalang kerajaan duduk. Di sebelah kirinya juga disediakan 80 buah kursi
terbuat dari emas, untuk duduk para pepatih dan penguasa-penguasa tinggi
lainnya. Raja duduk di atas singgasana dengan mengenakan mahkota di atas
kepala."
Sampai di situ pendeta yang bersangkutan berdiri lagi sambil berkata:
"Jika engkau benar-benar tahu, coba terangkan kepadaku dari apakah
mahkota itu dibuat?"
"Hai saudara Yahudi," kata Imam Ali menerangkan, "mahkota
raja itu terbuat dari kepingan-kepingan emas, berkaki 9 buah, dan tiap
kakinya bertaburan mutiara yang memantulkan cahaya laksana bintang-bintang
menerangi kegelapan malam. Raja itu juga mempunyai 50 orang pelayan,
terdiri dari anak-anak para hulubalang. Semuanya memakai selempang dan baju
sutera berwarna merah. Celana mereka juga terbuat dari sutera berwarna
hijau. Semuanya dihias dengan gelang-gelang kaki yang sangat indah.
Masing-masing diberi tongkat terbuat dari emas. Mereka harus berdiri di
belakang raja. Selain mereka, raja juga mengangkat 6 orang, terdiri dari
anak-anak para cendekiawan, untuk dijadikan menteri-menteri atau
pembantu-pembantunya. Raja tidak mengambil suatu keputusan apa pun tanpa
berunding lehih dulu dengan mereka. Enam orang pembantu itu selalu berada
di kanan kiri raja, tiga orang berdiri di sebelah kanan dan yang tiga orang
lainnya berdiri di sebelah kiri."
Pendeta yang bertanya itu berdiri lagi. Lalu berkata: "Hai Ali, jika
yang kau katakan itu benar, coba sebutkan nama enam orang yang menjadi
pembantu-pembantu raja itu!"
Menanggapi hal itu, Imam Ali r.a. menjawab: "Kekasihku Muhammad Rasul
Allah s.a.w. menceritakan kepadaku, bahwa tiga orang yang berdiri di
sebelah kanan raja, masing-masing bernama Tamlikha, Miksalmina, dan
Mikhaslimina. Adapun tiga orang pembantu yang berdiri di sebelah kiri,
masing-masing bernama Martelius, Casitius dan Sidemius. Raja selalu
berunding dengan mereka mengenai segala urusan.
Tiap hari setelah raja duduk dalam serambi istana dikerumuni oleh semua
hulubalang dan para punggawa, masuklah tiga orang pelayan menghadap raja.
Seorang diantaranya membawa piala emas penuh berisi wewangian murni.
Seorang lagi membawa piala perak penuh berisi air sari bunga. Sedang yang
seorangnya lagi membawa seekor burung. Orang yang membawa burung ini
kemudian mengeluarkan suara isyarat, lalu burung itu terbang di atas piala
yang berisi air sari bunga. Burung itu berkecimpung di dalamnya dan setelah
itu ia mengibas-ngibaskan sayap serta bulunya, sampai sari-bunga itu habis
dipercikkan ke semua tempat sekitarnya.
Kemudian si pembawa burung tadi mengeluarkan suara isyarat lagi. Burung itu
terbang pula. Lalu hinggap di atas piala yang berisi wewangian murni.
Sambil berkecimpung di dalamnya, burung itu mengibas-ngibaskan sayap dan
bulunya, sampai wewangian murni yang ada dalam piala itu habis dipercikkan
ke tempat sekitarnya. Pembawa burung itu memberi isyarat suara lagi. Burung
itu lalu terbang dan hinggap di atas mahkota raja, sambil membentangkan
kedua sayap yang harum semerbak di atas kepala raja.
Demikianlah raja itu berada di atas singgasana kekuasaan selama tiga puluh
tahun. Selama itu ia tidak pernah diserang penyakit apa pun, tidak pernah
merasa pusing kepala, sakit perut, demam, berliur, berludah atau pun
beringus. Setelah sang raja merasa diri sedemikian kuat dan sehat, ia mulai
congkak, durhaka dan dzalim. Ia mengaku-aku diri sebagai "tuhan"
dan tidak mau lagi mengakui adanya Allah s.w.t.
Raja itu kemudian memanggil orang-orang terkemuka dari rakyatnya. Barang
siapa yang taat dan patuh kepadanya, diberi pakaian dan berbagai macam
hadiah lainnya. Tetapi barang siapa yang tidak mau taat atau tidak bersedia
mengikuti kemauannya, ia akan segera dibunuh. Oleh sebab itu semua orang
terpaksa mengiakan kemauannya. Dalam masa yang cukup lama, semua orang
patuh kepada raja itu, sampai ia disembah dan dipuja. Mereka tidak lagi
memuja dan menyembah Allah s.w.t.
Pada suatu hari perayaan ulang-tahunnya, raja sedang duduk di atas
singgasana mengenakan mahkota di atas kepala, tiba-tiba masuklah seorang
hulubalang memberi tahu, bahwa ada balatentara asing masuk menyerbu ke
dalam wilayah kerajaannya, dengan maksud hendak melancarkan peperangan
terhadap raja. Demikian sedih dan bingungnya raja itu, sampai tanpa
disadari mahkota yang sedang dipakainya jatuh dari kepala. Kemudian raja
itu sendiri jatuh terpelanting dari atas singgasana. Salah seorang pembantu
yang berdiri di sebelah kanan --seorang cerdas yang bernama Tamlikha--
memperhatikan keadaan sang raja dengan sepenuh fikiran. Ia berfikir, lalu
berkata di dalam hati: "Kalau Diqyanius itu benar-benar tuhan
sebagaimana menurut pengakuannya, tentu ia tidak akan sedih, tidak tidur,
tidak buang air kecil atau pun air besar. Itu semua bukanlah sifat-sifat
Tuhan."
Enam orang pembantu raja itu tiap hari selalu mengadakan pertemuan di
tempat salah seorang dari mereka secara bergiliran. Pada satu hari tibalah
giliran Tamlikha menerima kunjungan lima
orang temannya. Mereka berkumpul di rumah Tamlikha untuk makan dan minum,
tetapi Tamlikha sendiri tidak ikut makan dan minum. Teman-temannya bertanya:
"Hai Tamlikha, mengapa engkau tidak mau makan dan tidak mau
minum?"
"Teman-teman," sahut Tamlikha, "hatiku sedang dirisaukan
oleh sesuatu yang membuatku tidak ingin makan dan tidak ingin minum, juga
tidak ingin tidur."
Teman-temannya mengejar: "Apakah yang merisaukan hatimu, hai
Tamlikha?"
"Sudah lama aku memikirkan soal langit," ujar Tamlikha
menjelaskan. "Aku lalu bertanya pada diriku sendiri: 'siapakah yang
mengangkatnya ke atas sebagai atap yang senantiasa aman dan terpelihara,
tanpa gantungan dari atas dan tanpa tiang yang menopangnya dari bawah?
Siapakah yang menjalankan matahari dan bulan di langit itu? Siapakah yang
menghias langit itu dengan bintang-bintang bertaburan?' Kemudian kupikirkan
juga bumi ini: 'Siapakah yang membentang dan menghamparkan-nya di
cakrawala? Siapakah yang menahannya dengan gunung-gunung raksasa agar tidak
goyah, tidak goncang dan tidak miring?' Aku juga lama sekali memikirkan
diriku sendiri: 'Siapakah yang mengeluarkan aku sebagai bayi dari perut
ibuku? Siapakah yang memelihara hidupku dan memberi makan kepadaku?
Semuanya itu pasti ada yang membuat, dan sudah tentu bukan
Diqyanius'…"
Teman-teman Tamlikha lalu bertekuk lutut di hadapannya. Dua kaki Tamlikha
diciumi sambil berkata: "Hai Tamlikha dalam hati kami sekarang terasa
sesuatu seperti yang ada di dalam hatimu. Oleh karena itu, baiklah engkau
tunjukkan jalan keluar bagi kita semua!"
"Saudara-saudara," jawab Tamlikha, "baik aku maupun kalian
tidak menemukan akal selain harus lari meninggalkan raja yang dzalim itu,
pergi kepada Raja pencipta langit dan bumi!"
"Kami setuju dengan pendapatmu," sahut teman-temannya.
Tamlikha lalu berdiri, terus beranjak pergi untuk menjual buah kurma, dan
akhirnya berhasil mendapat uang sebanyak 3 dirham. Uang itu kemudian
diselipkan dalam kantong baju. Lalu berangkat berkendaraan kuda
bersama-sama dengan lima
orang temannya.
Setelah berjalan 3 mil jauhnya dari kota,
Tamlikha berkata kepada teman-temannya: "Saudara-saudara, kita
sekarang sudah terlepas dari raja dunia dan dari kekuasaannya. Sekarang
turunlah kalian dari kuda dan marilah kita berjalan kaki. Mudah-mudahan
Allah akan memudahkan urusan kita serta memberikan jalan keluar."
Mereka turun dari kudanya masing-masing. Lalu berjalan kaki sejauh 7
farsakh, sampai kaki mereka bengkak berdarah karena tidak biasa berjalan
kaki sejauh itu.
Tiba-tiba datanglah seorang penggembala menyambut mereka. Kepada
penggembala itu mereka bertanya: "Hai penggembala, apakah engkau
mempunyai air minum atau susu?"
"Aku mempunyai semua yang kalian inginkan," sahut penggembala
itu. "Tetapi kulihat wajah kalian semuanya seperti kaum bangsawan. Aku
menduga kalian itu pasti melarikan diri. Coba beritahukan kepadaku
bagaimana cerita perjalanan kalian itu!"
"Ah…, susahnya orang ini," jawab mereka. "Kami sudah memeluk
suatu agama, kami tidak boleh berdusta. Apakah kami akan selamat jika kami
mengatakan yang sebenarnya?"
"Ya," jawab penggembala itu.
Tamlikha dan teman-temannya lalu menceritakan semua yang terjadi pada diri
mereka. Mendengar cerita mereka, penggembala itu segera bertekuk lutut di
depan mereka, dan sambil menciumi kaki mereka, ia berkata: "Dalam
hatiku sekarang terasa sesuatu seperti yang ada dalam hati kalian. Kalian
berhenti sajalah dahulu di sini. Aku hendak mengembalikan kambing-kambing
itu kepada pemiliknya. Nanti aku akan segera kembali lagi kepada
kalian."
Tamlikha bersama teman-temannya berhenti. Penggembala itu segera pergi
untuk mengembalikan kambing-kambing gembalaannya. Tak lama kemudian ia
datang lagi berjalan kaki, diikuti oleh seekor anjing miliknya."
Waktu cerita Imam Ali sampai di situ, pendeta Yahudi yang bertanya melonjak
berdiri lagi sambil berkata: "Hai Ali, jika engkau benar-benar tahu,
coba sebutkan apakah warna anjing itu dan siapakah namanya?"
"Hai saudara Yahudi," kata Ali bin Abi Thalib memberitahukan,
"kekasihku Muhammad Rasul Allah s.a.w. menceritakan kepadaku, bahwa
anjing itu berwarna kehitam-hitaman dan bernama Qithmir. Ketika enam orang
pelarian itu melihat seekor anjing, masing-masing saling berkata kepada
temannya: kita khawatir kalau-kalau anjing itu nantinya akan membongkar
rahasia kita! Mereka minta kepada penggembala supaya anjing itu dihalau
saja dengan batu.
Anjing itu melihat kepada Tamlikha dan teman-temannya, lalu duduk di atas
dua kaki belakang, menggeliat, dan mengucapkan kata-kata dengan lancar dan
jelas sekali: "Hai orang-orang, mengapa kalian hendak mengusirku,
padahal aku ini bersaksi tiada tuhan selain Allah, tak ada sekutu apa pun
bagi-Nya. Biarlah aku menjaga kalian dari musuh, dan dengan berbuat
demikian aku mendekatkan diriku kepada Allah s.w.t."
Anjing itu akhirnya dibiarkan saja. Mereka lalu pergi. Penggembala tadi
mengajak mereka naik ke sebuah bukit. Lalu bersama mereka mendekati sebuah
gua."
Pendeta Yahudi yang menanyakan kisah itu, bangun lagi dari tempat duduknya
sambil berkata: "Apakah nama gunung itu dan apakah nama gua
itu?!"
Imam Ali menjelaskan: "Gunung itu bernama Naglus dan nama gua itu
ialah Washid, atau di sebut juga dengan nama Kheram!"
Ali bin Abi Thalib meneruskan ceritanya: secara tiba-tiba di depan gua itu
tumbuh pepohonan berbuah dan memancur mata-air deras sekali. Mereka makan
buah-buahan dan minum air yang tersedia di tempat itu. Setelah tiba waktu
malam, mereka masuk berlindung di dalam gua. Sedang anjing yang sejak tadi
mengikuti mereka, berjaga-jaga ndeprok sambil menjulurkan dua kaki depan
untuk menghalang-halangi pintu gua. Kemudian Allah s.w.t. memerintahkan
Malaikat maut supaya mencabut nyawa mereka. Kepada masing-masing orang dari
mereka Allah s.w.t. mewakilkan dua Malaikat untuk membalik-balik tubuh
mereka dari kanan ke kiri. Allah lalu memerintahkan matahari supaya pada
saat terbit condong memancarkan sinarnya ke dalam gua dari arah kanan, dan
pada saat hampir terbenam supaya sinarnya mulai meninggalkan mereka dari
arah kiri.
Suatu ketika waktu raja Diqyanius baru saja selesai berpesta ia bertanya
tentang enam orang pembantunya. Ia mendapat jawaban, bahwa mereka itu
melarikan diri. Raja Diqyanius sangat gusar. Bersama 80.000 pasukan berkuda
ia cepat-cepat berangkat menyelusuri jejak enam orang pembantu yang
melarikan diri. Ia naik ke atas bukit, kemudian mendekati gua. Ia melihat
enam orang pembantunya yang melarikan diri itu sedang tidur berbaring di
dalam gua. Ia tidak ragu-ragu dan memastikan bahwa enam orang itu
benar-benar sedang tidur.
Kepada para pengikutnya ia berkata: "Kalau aku hendak menghukum
mereka, tidak akan kujatuhkan hukuman yang lebih berat dari perbuatan
mereka yang telah menyiksa diri mereka sendiri di dalam gua. Panggillah
tukang-tukang batu supaya mereka segera datang ke mari!"
Setelah tukang-tukang batu itu tiba, mereka diperintahkan menutup rapat
pintu gua dengan batu-batu dan jish (bahan semacam semen). Selesai
dikerjakan, raja berkata kepada para pengikutnya: "Katakanlah kepada
mereka yang ada di dalam gua, kalau benar-benar mereka itu tidak berdusta
supaya minta tolong kepada Tuhan mereka yang ada di langit, agar mereka
dikeluarkan dari tempat itu."
Dalam guha tertutup rapat itu, mereka tinggal selama 309 tahun.
Setelah masa yang amat panjang itu lampau, Allah s.w.t. mengembalikan lagi
nyawa mereka. Pada saat matahari sudah mulai memancarkan sinar, mereka
merasa seakan-akan baru bangun dari tidurnya masing-masing. Yang seorang
berkata kepada yang lainnya: "Malam tadi kami lupa beribadah kepada
Allah, mari kita pergi ke mataair!"
Setelah mereka berada di luar gua, tiba-tiba mereka lihat mataair itu sudah
mengering kembali dan pepohonan yang ada pun sudah menjadi kering semuanya.
Allah s.w.t. membuat mereka mulai merasa lapar. Mereka saling bertanya:
"Siapakah di antara kita ini yang sanggup dan bersedia berangkat ke kota membawa uang
untuk bisa niendapatkan makanan? Tetapi yang akan pergi ke kota nanti supaya hati-hati benar, jangan
sampai membeli makanan yang dimasak dengan lemak-babi."
Tamlikha kemudian berkata: "Hai saudara-saudara, aku sajalah yang
berangkat untuk mendapatkan makanan. Tetapi, hai penggembala, berikanlah
bajumu kepadaku dan ambillah bajuku ini!"
Setelah Tamlikha memakai baju penggembala, ia berangkat menuju ke kota. Sepanjang jalan
ia melewati tempat-tempat yang sama sekali belum pernah dikenalnya, melalui
jalan-jalan yang belum pernah diketahui. Setibanya dekat pintu gerbang kota, ia
melihat bendera hijau berkibar di angkasa bertuliskan: "Tiada Tuhan
selain Allah dan Isa adalah Roh Allah."
Tamlikha berhenti sejenak memandang bendera itu sambil mengusap-usap mata,
lalu berkata seorang diri: "Kusangka aku ini masih tidur!"
Setelah agak lama memandang dan mengamat-amati bendera, ia meneruskan
perjalanan memasuki kota.
Dilihatnya banyak orang sedang membaca Injil. Ia berpapasan dengan
orang-orang yang belum pernah dikenal. Setibanya di sebuah pasar ia
bertanya kepada seorang penjaja roti: "Hai tukang roti, apakah nama kota kalian
ini?"
"Aphesus," sahut penjual roti itu.
"Siapakah nama raja kalian?" tanya Tamlikha lagi.
"Abdurrahman," jawab penjual roti.
"Kalau yang kaukatakan itu benar," kata Tamlikha, "urusanku
ini sungguh aneh sekali! Ambillah uang ini dan berilah makanan
kepadaku!"
Melihat uang itu, penjual roti keheran-heranan. Karena uang yang dibawa
Tamlikha itu uang zaman lampau, yang ukurannya lebih besar dan lebih berat.
Pendeta Yahudi yang bertanya itu kemudian berdiri lagi, lalu berkata kepada
Ali bin Abi Thalib: "Hai Ali, kalau benar-benar engkau mengetahui,
coba terangkan kepadaku berapa nilai uang lama itu dibanding dengan uang
baru!"
Imam Ali menerangkan: "Kekasihku Muhammad Rasul Allah s.a.w.
menceritakan kepadaku, bahwa uang yang dibawa oleh Tamlikha dibanding
dengan uang baru, ialah tiap dirham lama sama dengan sepuluh dan dua
pertiga dirham baru!"
Imam Ali kemudian melanjutkan ceritanya: Penjual Roti lalu berkata kepada
Tamlikha: "Aduhai, alangkah beruntungnya aku! Rupanya engkau baru
menemukan harta karun! Berikan sisa uang itu kepadaku! Kalau tidak, engkau
akan kuhadapkan kepada raja!"
"Aku tidak menemukan harta karun," sangkal Tamlikha. "Uang
ini kudapat tiga hari yang lalu dari hasil penjualan buah kurma seharga
tiga dirham! Aku kemudian meninggalkan kota karena orang-orang semuanya
menyembah Diqyanius!"
Penjual roti itu marah. Lalu berkata: "Apakah setelah engkau menemukan
harta karun masih juga tidak rela menyerahkan sisa uangmu itu kepadaku?
Lagi pula engkau telah menyebut-nyebut seorang raja durhaka yang mengaku
diri sebagai tuhan, padahal raja itu sudah mati lebih dari 300 tahun yang
silam! Apakah dengan begitu engkau hendak memperolok-olok aku?"
Tamlikha lalu ditangkap. Kemudian dibawa pergi menghadap raja. Raja yang
baru ini seorang yang dapat berfikir dan bersikap adil. Raja bertanya kepada
orang-orang yang membawa Tamlikha: "Bagaimana cerita tentang orang
ini?"
"Dia menemukan harta karun," jawab orang-orang yang membawanya.
Kepada Tamlikha, raja berkata: "Engkau tak perlu takut! Nabi Isa a.s.
memerintahkan supaya kami hanya memungut seperlima saja dari harta karun
itu. Serahkanlah yang seperlima itu kepadaku, dan selanjutnya engkau akan
selamat."
Tamlikha menjawab: "Baginda, aku sama sekali tidak menemukan harta
karun! Aku adalah penduduk kota
ini!"
Raja bertanya sambil keheran-heranan: "Engkau penduduk kota ini?"
"Ya. Benar," sahut Tamlikha.
"Adakah orang yang kau kenal?" tanya raja lagi.
"Ya, ada," jawab Tamlikha.
"Coba sebutkan siapa namanya," perintah raja.
Tamlikha menyebut nama-nama kurang lebih 1000 orang, tetapi tak ada satu
nama pun yang dikenal oleh raja atau oleh orang lain yang hadir
mendengarkan. Mereka berkata: "Ah…, semua itu bukan nama orang-orang
yang hidup di zaman kita sekarang. Tetapi, apakah engkau mempunyai rumah di
kota
ini?"
"Ya, tuanku," jawab Tamlikha. "Utuslah seorang menyertai
aku!"
Raja kemudian memerintahkan beberapa orang menyertai Tamlikha pergi. Oleh
Tamlikha mereka diajak menuju ke sebuah rumah yang paling tinggi di kota itu. Setibanya
di sana,
Tamlikha berkata kepada orang yang mengantarkan: "Inilah
rumahku!"
Pintu rumah itu lalu diketuk. Keluarlah seorang lelaki yang sudah sangat
lanjut usia. Sepasang alis di bawah keningnya sudah sedemikian putih dan
mengkerut hampir menutupi mata karena sudah terlampau tua. Ia terperanjat
ketakutan, lalu bertanya kepada orang-orang yang datang: "Kalian ada
perlu apa?"
Utusan raja yang menyertai Tamlikha menyahut: "Orang muda ini mengaku
rumah ini adalah rumahnya!"
Orang tua itu marah, memandang kepada Tamlikha. Sambil mengamat-amati ia
bertanya: "Siapa namamu?"
"Aku Tamlikha anak Filistin!"
Orang tua itu lalu berkata: "Coba ulangi lagi!"
Tamlikha menyebut lagi namanya. Tiba-tiba orang tua itu bertekuk lutut di
depan kaki Tamlikha sambil berucap: "Ini adalah datukku! Demi Allah, ia
salah seorang di antara orang-orang yang melarikan diri dari Diqyanius,
raja durhaka." Kemudian diteruskannya dengan suara haru: "Ia lari
berlindung kepada Yang Maha Perkasa, Pencipta langit dan bumi. Nabi kita,
Isa as., dahulu telah memberitahukan kisah mereka kepada kita dan mengatakan
bahwa mereka itu akan hidup kembali!"
Peristiwa yang terjadi di rumah orang tua itu kemudian di laporkan kepada
raja. Dengan menunggang kuda, raja segera datang menuju ke tempat Tamlikha
yang sedang berada di rumah orang tua tadi. Setelah melihat Tamlikha, raja
segera turun dari kuda. Oleh raja Tamlikha diangkat ke atas pundak,
sedangkan orang banyak beramai-ramai menciumi tangan dan kaki Tamlikha
sambil bertanya-tanya: "Hai Tamlikha, bagaimana keadaan
teman-temanmu?"
Kepada mereka Tamlikha memberi tahu, bahwa semua temannya masih berada di
dalam gua.
"Pada masa itu kota
Aphesus diurus oleh dua orang bangsawan istana. Seorang beragama Islam dan
seorang lainnya lagi beragama Nasrani. Dua orang bangsawan itu bersama
pengikutnya masing-masing pergi membawa Tamlikha menuju ke gua,"
demikian Imam Ali melanjutkan ceritanya.
Teman-teman Tamlikha semuanya masih berada di dalam gua itu. Setibanya
dekat gua, Tamlikha berkata kepada dua orang bangsawan dan para pengikut
mereka: "Aku khawatir kalau sampai teman-temanku mendengar suara tapak
kuda, atau gemerincingnya senjata. Mereka pasti menduga Diqyanius datang
dan mereka bakal mati semua. Oleh karena itu kalian berhenti saja di sini.
Biarlah aku sendiri yang akan menemui dan memberitahu mereka!"
Semua berhenti menunggu dan Tamlikha masuk seorang diri ke dalam gua.
Melihat Tamlikha datang, teman-temannya berdiri kegirangan, dan Tamlikha
dipeluknya kuat-kuat. Kepada Tamlikha mereka berkata: "Puji dan syukur
bagi Allah yang telah menyelamatkan dirimu dari Diqyanius!"
Tamlikha menukas: "Ada
urusan apa dengan Diqyanius? Tahukah kalian, sudah berapa lamakah kalian
tinggal di sini?"
"Kami tinggal sehari atau beberapa hari saja," jawab mereka.
"Tidak!" sangkal Tamlikha. "Kalian sudah tinggal di sini
selama 309 tahun! Diqyanius sudah lama meninggal dunia! Generasi demi
generasi sudah lewat silih berganti, dan penduduk kota itu sudah beriman kepada Allah yang
Maha Agung! Mereka sekarang datang untuk bertemu dengan kalian!"
Teman-teman Tamlikha menyahut: "Hai Tamlikha, apakah engkau hendak
menjadikan kami ini orang-orang yang menggemparkan seluruh jagad?"
"Lantas apa yang kalian inginkan?" Tamlikha balik bertanya.
"Angkatlah tanganmu ke atas dan kami pun akan berbuat seperti itu
juga," jawab mereka.
Mereka bertujuh semua mengangkat tangan ke atas, kemudian berdoa: "Ya
Allah, dengan kebenaran yang telah Kau perlihatkan kepada kami tentang
keanehan-keanehan yang kami alami sekarang ini, cabutlah kembali nyawa kami
tanpa sepengetahuan orang lain!"
Allah s.w.t. mengabulkan permohonan mereka. Lalu memerintahkan Malaikat
maut mencabut kembali nyawa mereka. Kemudian Allah s.w.t. melenyapkan pintu
gua tanpa bekas. Dua orang bangsawan yang menunggu-nunggu segera maju
mendekati gua, berputar-putar selama tujuh hari untuk mencari-cari
pintunya, tetapi tanpa hasil. Tak dapat ditemukan lubang atau jalan masuk
lainnya ke dalam gua. Pada saat itu dua orang bangsawan tadi menjadi yakin
tentang betapa hebatnya kekuasaan Allah s.w.t. Dua orang bangsawan itu
memandang semua peristiwa yang dialami oleh para penghuni gua, sebagai
peringatan yang diperlihatkan Allah kepada mereka.
Bangsawan yang beragama Islam lalu berkata: "Mereka mati dalam keadaan
memeluk agamaku! Akan kudirikan sebuah tempat ibadah di pintu guha
itu."
Sedang bangsawan yang beragama Nasrani berkata pula: "Mereka mati
dalam keadaan memeluk agamaku! Akan kudirikan sebuah biara di pintu gua
itu."
Dua orang bangsawan itu bertengkar, dan setelah melalui pertikaian senjata,
akhirnya bangsawan Nasrani terkalahkan oleh bangsawan yang beragama Islam.
Dengan terjadinya peristiwa tersebut, maka Allah berfirman, yang artinya:
"Orang-orang yang telah memenangkan urusan mereka berkata: 'Kami
hendak mendirikan sebuah rumah peribadatan di atas mereka'…" (S. Al
Kahfi: 21).
Sampai di situ Imam Ali bin Abi Thalib berhenti menceritakan kisah para
penghuni gua. Kemudian berkata kepada pendeta Yahudi yang menanyakan kisah
itu: "Itulah, hai Yahudi, apa yang telah terjadi dalam kisah mereka.
Demi Allah, sekarang aku hendak bertanya kepadamu, apakah semua yang
kuceritakan itu sesuai dengan apa yang tercantum dalam Taurat kalian?"
Pendeta Yahudi itu menjawab: "Ya Abal Hasan, engkau tidak menambah dan
tidak mengurangi, walau satu huruf pun! Sekarang engkau jangan menyebut
diriku sebagai orang Yahudi, sebab aku telah bersaksi bahwa tiada tuhan
selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba Allah serta Rasul-Nya. Aku pun
bersaksi juga, bahwa engkau orang yang paling berilmu di kalangan ummat
ini!"
Demikianlah hikayat tentang para penghuni gua (Ashhabul Kahfi), kutipan
dari kitab Qishasul Anbiya yang tercantum dalam kitab Fadha 'ilul Khamsah
Minas Shihahis Sittah, tulisan As Sayyid Murtadha Al Huseiniy Al Faruz
Aabaad, dalam menunjukkan banyaknya ilmu pengetahuan yang diperoleh Imam
Ali bin Abi Thalib dari Rasul Allah s.a.w.
Penanggalan Hijriyah
Selain ilmu pengetahuan yang mencakup berbagai bidang, Imam Ali r.a. juga
banyak melahirkan prakarsa-prakarsa yang dipersembahkan kepada kepentingan
kaum muslimin dan kejayaan Islam. Ada
satu prakarsanya yang tak mungkin dapat dilupakan sepanjang sejarah oleh
seluruh generasi ummat Islam sampai hari akhir kelak. Meskipun hampir tiap
hari hasil prakarsa itu dimanfaatkan oleh kaum muslimin, tetapi banyak di
antara mereka sendiri yang belum mengetahui, bahwa yang dimanfaatkannya itu
berasal dari Imam Ali r.a. Yaitu penanggalan Hijriyah.
Dalam kitab Tarikh yang ditulis oleh At-Thabariy disajikan sebuah riwayat
yang berasal dari Sa'id bin Al-Mushib, yang menyatakan, bahwa pada satu
hari Khalifah Umar Ibnul Khattab mengumpulkan sejumlah pemuka kaum muslimin
untuk merundingkan masalah penanggalan Islam. Kaum muslimin dan Khalifah
Umar r.a. berpendapat tentang perlunya diadakan penanggalan tersendiri,
agar kaum muslimin tidak lagi mengikuti penanggalan kaum Nasrani dan
Yahudi. Betapa tragisnya kalau kaum muslimin yang sudah dewasa itu masih
juga mempergunakan penanggalan Ahlul Kitab. Tetapi keinginan yang baik itu
terbentur pada jalan buntu karena tidak berhasil menemukan kapan
penanggalan Islam itu harus dimulai.
Di saat mereka sedang menghadapi kesukaran itu datanglah Imam Ali r.a.
Bukan main gembiranya Khalifah Umar r.a. melihat Imam Ali r.a. datang.
Segera saja disambut, kemudian kepadanya diajukan pertanyaan tentang
bagaimana sebaiknya penanggalan Islam itu dimulai.
Tanpa banyak fikir lagi Imam Ali r.a. menjawab: "Tetapkan saja mulai
hari hijrahnya Rasul Allah s.a.w., yaitu hari beliau meninggalkan tanah
syirik!"
Mendengar jawaban Imam Ali r.a. yang cepat dan tepat itu Khalifah Umar r.a.
dengan serta merta memeluk Imam Ali r.a. diiringi oleh gegap gempitanya
sambutan gembira kaum muslimin yang hadir. Khalifah Umar r.a. menerima
sepenuhnya pendapat Imam Ali r.a. tersebut, dan mulai hari itu jugalah
ditetapkan berlakunya penanggalan Hijriyah bagi kaum muslimin.
|
SEBUAH KENANGAN
Malam
semakin kelam dan gelap bertambah pekat… Seorang pemimpin besar, Imam Ali
bin Abi Thalib r.a., tak lama lagi, akan meninggalkan lawan-lawannya,
membiarkan mereka berkeliaran merusak kehidupan di muka bumi.
Di belahan bumi sana
ia hidup menyendiri dirundung kepedihan; hidup disayat-sayat kesunyian
kejam yang belum pernah dialaminya selama ini. Hidup terpisah menjauhkan
diri dari bencana kesesatan yang sedang melanda kaumnya. Terpisah bersama
hati parah dicekam duka lara. Seorang diri terjauhkan dari zamannya,
seakan-akan terhempas keluar dari permukaan bumi. Namun bumi ini selesai
sudah mencatat semua ucapan dan tutur katanya... ya, bahkan bumi itu
sendiri menjadi saksi abadi atas semua amal perbuatannya yang serba luar
biasa.
Di permukaan bumi ini ia hidup tiada tara…
memberi tanpa meminta… dimusuhi namun tak pernah menyiksa… sanggup melawan
tetapi lebih suka menyebar maaf sebanyak-banyaknya. Tak pernah menusuk hati
pembencinya dan tidak pula mengecewakan para pencintanya. Penolong bagi si
lemah, teman bagi yang hidup terasing, dan bapak bagi si yatim. Dekat dari
manusia tertekan yang mengharap uluran tangan untuk menghapus kemungkaran
dan penderitaan. Kaya ilmu dan berlimpah-limpah kearifannya. Hatinya
tenggelam dalam banjir air mata derita insan, di gunung-gunung dan di tiap
dataran. Mengayun pedang mematahkan kedzaliman dan kegelapan, namun cinta
kasihnya tetap tertumpah kepada orang teraniaya. Di kala sinar mentari
memancar terang ia sibuk menegakkan kebenaran dan keadilan… dan di masa
malam mulai kelam airmatanya berlinang menangisi derita ummat di hari-hari
mendatang…
Di bumi ia hidup tiada tara… Tiap
mendengar rintihan si madzlum, suaranya menggeledek menggoncang pautan si
dzalim. Tiap mendengar jerit orang meminta pertolongan tanpa ayal lagi ia
menghunus pedang berkilau memudarkan mata berniat jahat. Tiap mendengar
teriakan fakir kelaparan lubuk hatinya digenang airmata kasih, menggelegak
laksana air bah menerjang tanah gersang...
Selagi masih hidup di bumi ini, ia lain dari yang lain. Logika dan
penalarannya tepat dan benar. Cara hidupnya amat sederhana. Berbusana kain
kasar… dan senantiasa bersikap rendah hati. Di saat banyak manusia
tergelincir menukik ke bawah, ia justru rnenjulang tinggi meraih awan…
Sungguh aneh ia hidup di bumi ini. Di saat orang lain bergelimang
kenikmatan, ia bahkan terbenam dalam penderitaan… tetapi, tahukah saudara…
Siapakah orang yang gagah berani, genial, aneh, berpandangan jauh, dan
selalu dibebani penderitaan oleh orang-orang yang justru diinginkan olehnya
supaya mereka itu menikmati kehidupan dunia dan kebahagiaan akhirat?
Siapakah pria jantan itu… Ya, siapakah orang genial dan aneh itu? Bukankah
ia seorang yang dibenci lawan hanya karena mereka dengki dan irihati?
Bukankah ia seorang yang dijauhi oleh para sahabat hanya karena mereka
takut menghadapi ancaman lawannya? Dan, akhirnya ia seorang diri berjuang
menentang kemungkaran dan kebatilan, menghadapi manusia-manusia dzalim dengan
sikap tegak berdiri di atas jalan kebenaran. Ia tidak mabok di saat menang
dan tidak patah di saat kalah, sebab ia yakin kebenaran akhirnya pasti akan
menemukan tempatnya yang hilang, walau banyak orang takut dan lari
memejamkan mata. Siapa lagi orang sedemikian genialnya itu kalau bukan Imam
Ali bin Abi Thalib? Seorang Khalifah yang berasal dari Ahlu Bait Rasul
Allah s.a.w., seorang Amirul Mukminin, yang tak pernah hidup tanpa derita,
dan yang akhirnya menjadi korban pengkhianatan Abdurrahman bin Muljam.
* * * *
Malam itu malam penuh tanda-tanya. Awan tebal menyelimuti udara di langit
tinggi, berarak pelahan-lahan, kadang dikoyak sambaran petir mengkilat,
teriring hembusan angin lembut. Di sana-sini tampak burung-burung gagak tua
hinggap di sarangnya masing-masing, dengan kepala terangguk-angguk berat
menunduk, seolah-olah tak berdaya lagi mengicaukan suara gaduh menyongsong
datangnya hari esok, seakan-akan tak sanggup lagi menegakkan kepala
menghadapi intaian Elang Raksasa!
Imam Ali terjaga sepanjang malam tak dapat mengenyam nikmatnya tidur. Ia
membayangkan hari-hari mendatang yang penuh manusia tersiksa kedzaliman dan
hidup tertekan teraniaya. Tetapi di samping mereka ada manusia-manusia lain
yang serakah, menanjak dan meninggi, kuat dan congkak, menghardik dan
menelan orang-orang yang lemah. Ia membayangkan lawan-lawannya sedang
saling-bantu berbuat kemungkaran, orang-orang durhaka yang sedang
bahu-membahu bergandeng tangan mengejar maksiat. Bersamaan dengan itu ia
pun membayangkan para pendukung dan pengikutnya sedang berlomba-lomba
mundur meninggalkan kebenaran yang kemarin dibela dan dipertahankan oleh
mereka sendiri!
Imam Ali terjaga sepanjang malam, tak dapat mengenyam nikmatnya tidur.
Terbayang keadilan sedang diinjak-injak dan kebajikan sedang dilumur noda.
Segala yang suci sudah digadai oleh manusia-manusia yang hidup tanpa arah
dan hampa. Kemuliaan hidup kini hanya tergantung dan ditentukan oleh
kemauan manusia-manusia yang sedang berbuat kerusakan di bumi, dan…
kemunafikan merajalela di mana-mana!
Imam Ali terjaga sepanjang malam, tak dapat mengenyam nikmatnya tidur.
Terkenang hidupnya selama ini. Sejak lahir di permukaan bumi dirinya telah
menjadi kekuatan pembela kebenaran dan keadilan, menjadi saudara bagi semua
orang yang hidup sengsara, teraniaya dan terlunta-lunta. Ia seolah-olah
bagaikan geledek menyambar kepala orang-orang durhaka. Tidak hanya lidahnya
yang berbicara tentang mereka, tetapi pedangnya, si Dzul Fiqar, pun ikut
menggemerincingkan suara.
Di malam itu terbayang pada alam khayalnya lembaran-lerabaran sejarah
hidupnya sendiri di masa silam dan masa kini. Ia teringat pada kehidupan di
masa muda, menghunus pedang di depan hidung kaumnya, kaum musyrikin
Qureiys! Ia heran bercampur bangga, mengapa sampai sanggup berbuat seperti
itu, menarikan pedang di depan muka mereka untuk membela risalah agama. Ia
bangga turut menyebar berita gembira kepada mereka yang hidup mendambakan
kebenaran, dan pedih mengingatkan mereka yang berkecimpung di lumpur
kebatilan. Ia teringat, di kala itu orang-orang Qureiys mengkeret mundur
sambil melontarkan ejekan sia-sia. Dan ia tetap maju menempuh jalan
hidupnya sendiri, rela mengorbankan nyawa dan segala yang berharga dalam
menghadapi tantangan mereka, demi pengabdian kepada Allah dan agama-Nya
yang benar.
Terbayang olehnya kenangan lama, ketika berselunjur di pembaringan putera
pamannya, Muhammad Rasul Allah s.a.w., pada malam hijrah. Kala itu ia
terbaring di bawah bayangan puluhan pedang yang haus darah. Betapa resah
dan gelisah hatinya, bukan karena takut binasa, melainkan khawatir
kalau-kalau Abu Sufyan dengan bantuan kaum musyrikin Qureiys dan
tengkulak-tengkulak nyawa lainnya, akan berhasil mengganggu Rasul Allah
s.a.w. di tengah jalan. Ternyata di bawah lindungan Ilahi beliau lolos
dengan selamat, dan cahaya agama yang dibawanya berhasil menembus kegelapan
jahiliyah!
Ia masih terus mengenangkan kehidupannya di masa lalu. Teringat olehnya
ketika mengarungi peperangan-peperangan adil sebagai pahlawan. Dengan
semangat kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya ia berhasil meruntuhkan
benteng-benteng musuh dan menumpas kaum durhaka. Teringat pula ketika ia
sedang dikerumuni oleh kaum fakir miskin dan orang-orang lemah lainnya. Ia
melihat mereka bersembah sujud ke hadhirat Allah memanjatkan syukur, tiap kali
mereka menyaksikan tangannya mengayuri pedang di atas kepala musuh-musuh
mereka. Dengan mata kepala sendiri mereka melihat orang-orang Qureiys
durhaka lari tunggang-langgang menyelamatkan nyawa laksana belalang terbang
berserakan tertiup angin kencang.
Ia teringat kepada putera pamannya, Muhammad Rasul Allah s.a.w. sedang
menatap mukanya dengan sinar mata penuh kasih sayang, kemudian memeluk
sambil berucap: "Inilah saudaraku!" Ia juga teringat ketika
beliau datang berkunjung ke rumahnya di saat ia sedang tidur. Waktu
isterinya --Fatimah Azzahra binti Muhammad Rasul Allah s.a.w.-- hendak
membangunkan, tiba-tiba beliau berkata: "Biarkan dia! Mungkin
sepeninggalku ia akan 'bergadang' lama sekali!" Mendengar ucapan
ayahandanya seperti itu Sitti Fatimah menangis terisak-isak! Lebih dari itu
semua, ia pun teringat ketika Rasul Allah s.a.w. berkata kepadanya:
"Allah telah menghiasi hidupmu dengan perhiasan yang paling disukai
oleh-Nya. Yaitu bahwa engkau telah dikaruniai rasa cinta kasih kepada kaum
yang lemah dan merasa senang mempunyai pengikut-pengikut seperti mereka.
Sedang mereka juga merasa senang mempunyai pemimpin seperti engkau!"
Kemudian terbayang olehnya peristiwa wafatnya Rasul Allah s.a.w. di
hadapannya, yaitu saat beliau mengarahkan pandangan mata terakhir
kepadanya. Kini bayangan wajah isterinya yang telah lama mendahului --Siti
Fatimah r.a.-- terpampang di pelupuk mata, yang pada saat itu tampak sangat
sedih. Dikarenakan kehancuran hati dan perasaannya, belum sampai seratus
hari isteri tercinta itu menyusul ayahandanya dalam usia belum mencapai 30
tahun. Kini Imam Ali sedang teringat sewaktu mengantar kemangkatan
isterinya menghadap Allah Rabbul'alamin, yaitu saat ia berdiri di atas
makamnya sambil menangis tersedu-sedu, kemudian pulang ke rumah di petang
hari dengan hati yang hancur luluh. Kesedihan abadi di malam pudar!
Terlintas pula dalam ingatannya, ketika Umar Ibnul Khattab r.a. menolehkan
muka kepadanya seraya berkata: "Demi Allah, bila engkau yang memimpin
mereka --ummat muslimin-- engkau pasti akan membawa mereka ke jalan yang
benar dan ke cahaya yang terang benderang!" Di telinga Imam Ali
sekarang sedang mengiang-ngiang suara para sahabatnya, yaitu ketika mereka
berkata: "Pada masa hidupnya Rasul Allah s.a.w. kami mengenal orang-orang
munafik dari sikap mereka yang membenci anda!"
Ya…, bahkan Rasul Allah s.a.w. sendiri berkali-kali memperdengarkan ucapan:
"Hai Ali, tidak ada yang membencimu selain orang munafik!"
Saat itu Imam Ali teringat kepada kawan-kawan seperjuangan, ketika berjuang
bersama-sama dan bahu-membahu serta saling bantu di bawah pimpinan Rasul
Allah s.a.w. Sekarang di antara mereka ada yang masih terus berjuang dan
ada pula yang sudah berkomplot melawan dia, hanya karena didorong oleh
ambisi hendak merebut kekuasaan dan kepemimpinan. Tetapi mereka yang masih
tetap menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, dan mereka yang masih tetap
setia membela kebajikan… alangkah bahagianya dan berkahnya mereka itu.
Walaupun mereka hidup terasing di dunia, dicampakkan oleh musuh-musuh kebenaran
dan keadilan dan dirintangi oleh kedzaliman berselimut ribuan cara.
Imam Ali sekarang sedang membayang-bayangkan wajah Abu Dzar, yang ketika
itu mengenakan serban kumal mencari-cari Rasul Allah s.a.w. untuk dapat
mengabdikan diri kepada kebenaran Allah s.w.t. Setelah itu Abu Dzar
mencurahkan seluruh isi hati, fikiran dan perasaan serta segenap jiwa raga
kepada perjuangan membela kebenaran melawan kebatilan. Tetapi perjuangannya
yang gigih membela kaum madzlum, yang hidup sengsara, ternyata berakhir dengan
tragedi menyedihkan yang dibuka sumbatnya oleh Marwan bin Al-Hakam pada
zaman kekhalifahan Utsman bin Affan r.a. Ia kemudian diusir, dibuang dan
dipencilkan sampai datang ajal menjemput nyawa, dan sesudah semua puteranya
mati lebih dulu di depan matanya. Isteri Abu Dzar, seorang wanita baik
hati, sewaktu menghadapi kemangkatan suaminya, ingin mati lebih dulu agar
tidak sampai "mengalami kematian dua kali!" Yaitu mati dalam
hidup dan mati sesudah hidup. Abu Dzar mati kelaparan dalam cengkeraman
buas beberapa orang Bani Umayyah yang sedang berdiri di atas hamparan emas.
Betapa sedihnya Imam Ali teringat kepada Ammar bin Yasir; seorang sahabat
setia yang pada hari-hari belum lama berselang mati terbunuh. Ammar
benar-benar seperti saudara kandung Imam Ali sendiri. Seorang yang hidup
amat sederhana, penuh taqwa, jujur dan berani. Ia mati terbunuh melawan
gerombolan pemberontak Muawiyah di Shiffin.
Ya, dimanakah sekarang sahabat-sahabat Imam Ali? Teman-teman dan para
sahabat yang dulu menempuh jalan yang sama dan berdiri tegak bersama-sama
memadu tekad untuk membela kebenaran? Teman dan sahabat yang dulu tak
pernah meninggalkan dia, tak pernah mempergunjingkan dia, dan tak pernah
berlaku buruk terhadap dirinya? Dimanakah mereka itu semua? Mereka sekarang
sudah banyak sekali yang bertolak belakang. Namun Imam Ali masih tetap
terus berkecimpung dalam perjuangan sengit melawan kedzaliman dan
pelaku-pelakunya.
Imam Ali sekarang melaksanakan tugas perjuangan seorang diri, setelah
dahulu dikerumuni oleh banyak sahabat dan pendukung setia. Perjuangan
membela kebenaran dan keadilan melawan suatu kaum yang mempunyai anak-anak
liar dan pemuda-pemuda dekaden, sedangkan para orang tua mereka tidak
mendorong supaya mereka berbuat baik dan meninggalkan kemungkaran. Suatu kaum
yang hanya disegani oleh orang-orang yang takut berbicara, tidak dihormati
selain oleh orang-orang yang mengharapkan pemberiannya.
Alangkah kejamnya kehidupan ini, sehingga Imam Ali sampai detik-detik akhir
hayatnya hanya mengenal perjuangan dan penderitaan! Alangkah teganya
kehidupan ini, sampai membiarkan orang-orang yang baik hidup tersingkir
satu demi satu, dan sampai bumi ini penuh dengan kedzaliman dan kebathilan!
Aduhai, alangkah parahnya hari esok yang dibayangkan oleh Imam Ali dengan
fikiran dan perasaannya pada malam itu. Setelah malam itu lewat, apakah
gerangan yang akan dialami oleh pemimpin besar kaum muslimin itu? Seorang
pemimpin yang dirugikan oleh kejujurannya, tetapi ia tidak sudi berdusta
walau akan memperoleh keberuntungan. Setelah malam itu lewat, apalagi yang
akan dialami oleh seorang pernimpin yang menjadi bapak orang banyak itu?
Seorang pemimpin yang lebih suka menderita di dalam kebenaran daripada
hidup senang di dalam kebatilan. Ya, setelah malam itu lewat, apalagi yang
akan dialami oleh seorang pemimpin yang berfikir dan berperasaan adil
terhadap sesama manusia; dan seorang pemimpin yang bekerja mengabdi
kebenaran tak peduli apakah gunung-gunung akan runtuh ataukah bumi akan
longsor.
Alangkah gelapnya hari esok di mana si pandir akan merangkak berlagak
pandai dalam suasana penuh kedzaliman, agar orang-orang yang berkuasa mau
menarik-narik ekornya dengan bangga. Sedangkan kaum cerdik pandai yang tak
mau mengikuti jejak orang-orang itu akan digilas sampai pipih, kering dan
remuk, kehabisan nafas dan tinggal saja merasakan siksa dunia. Pendukung
kedzaliman yang memerangi Imam Ali dengan otak, hati, lidah dan pedang,
akan dapat menjadi manusia yang hidup senang. Suasana sungguh sudah
terjungkir balik, siang disulap menjadi malam, dan kiri disulap menjadi
kanan. Adapun pendukung keadilan yang membela Imam Ali dengan otak, hati,
lidah dan pedang, pasti akan menjadi orang-orang sengsara, teraniaya dan
dikepung penderitaan dari segenap jurusan!
Terbayang semuanya itu Imam Ali melinangkan airmata sambil mengusap-usap
janggut. Keheningan malam yang sunyi senyap seolah-olah ikut menangis
teriring suara hembusan angin sepoi-sepoi. Mata Imam Ali sampai membengkak
karena terlampau banyak memeras airmata. Ia kemudian mengarahkan pandangan
ke bintang-bintang dan awan di cakrawala. Remang-remang cahaya malam tanpa
pandang bulu meratai kemegahan rumah-rumah kaum yang dzalim dan gubuk-gubuk
reyot kaum yang madzlum. Tanpa pilih kasih kegelapan malam itu menggenangi
orang-orang berhati dengki dan orang-orang berbaik hati yang sedang
dirundung derita. Semua mendapat perlakuan sama.
Setelah itu Imam Ali teringat kepada sikapnya sendiri terhadap kekayaan
duniawi, kemudian berucap: "Hai dunia…, hai dunia, rayulah orang
selain aku!" Ya, benar-benar ia telah menjungkir-balikan dunianya di
depan wajah dunia!
Malam semakin kelam dan gelap bertambah pekat… Ia merasa hidup di dunia
seolah-olah sudah sampai di suatu tempat dimana ia harus berada seorang
diri. Betapa sedihnya hidup di permukaan bumi ini dalam sebuah rumah
seorang diri, rumah yang sunyi senyap lagi terpencil. Matanya dipejamkan
sejenak, seolah-olah sedang menangkap desiran malam yang mengerikan. Ia
terkantuk mimpi melihat Rasul Allah s.a.w. Dalam mimpi ia bertanya kepada
putera pamannya itu: "Ya Rasul Allah, apakah yang harus kuperbuat
terhadap ummatmu yang serong dan saling bermusuhan?" Beliau menjawab:
"Mohonlah pembalasan buruk bagi mereka hepada Allah!" Imam Ali
kemudian berdoa: "Ya Allah, gantilah mereka itu dengan orang-orang
yang baik bagiku, dan gantilah aku dengan orang yang lebih buruk bagi
mereka!"
Dalam mimpinya itu ia pun melihat kaum fakir miskin dan kaum lemah lainnya
bersama-sama orang-orang yang kuat sedang berada di dalam sebuah bahtera
oleng terpukul badai di tengah lautan. Semua orang yang ada dalam bahtera
itu cemas ketakutan menghadapi marabahaya di kegelapan malam. Mereka
dihempaskan ke sana
dan ke mari oleh angin ribut.
Itulah akhir mimpi dan kenangan hidupnya menjelang subuh dini hari yang
mengantar Abdur Rahman bin Muljam datang menyelinap ke dalam masjid dengan
senjata tajam di tangan. Dua hari kemudian ia wafat, dan Ibnu Muljam bukannya
berhasil membayar maskawin yang diminta oleh perempuan jalang bernama
Qitham binti Al Akhdar, melainkan ia harus membayar petualangannya dengan
nyawa sendiri!
Bersambung ke Bab
Penutup
|
Imam Ali bin Abi Thalib r.a. telah
meninggal dunia. Di masa hidupnya, ia telah menempati kedudukan tinggi dan
terhormat dalam kehidupan ummat manusia. Pada dirinya terhimpun nilai-nilai
kebenaran, keadilan, keimanan, kepahlawanan, kebajikan dan kemuliaan.
Suatu thiraz (type) yang jarang terdapat di kalangan ummat manusia. Thiraz
yang mempunyai bobot abadi dan tak mungkin ditiadakan atau terlupakan. Karena
ia mencerminkan hati nurani kemanusiaan. Pada segala zaman dan di semua
negeri, sejarah hidupnya selalu mengumandangkan berita tentang kesetiaan yang
sangat mengagumkan terhadap kebenaran.
Baik di masa kanak-kanak, di masa muda, maupun di masa tua, ia senantiasa
tetap setia kepada kebenaran. Kesetiaannya adalah kesetiaan seorang ahli
ibadah, seorang prajurit, seorang patriot, seorang penguasa. Kesetiaan yang
tak pernah goyah dalam segala tingkat usia, sungguh pun dalam keadaan yang
berbeda-beda.
Kesetiaannya kepada kebenaran bukanlah kesetiaan yang dibuat-buat, tetapi
kesetiaan fithriyyah. Kesetiaan yang berdasarkan keyakinan, bukan kesetiaan
karena keinginan memperoleh manfaat. Kesetiaannya kepada kebenaran tercermin
sekali dari sikapnya yang sanggup mengalahkan keduniawian dan menundukkan
bujuk-rayu serta rongrongannya.
Lihatlah ia menepung gandum sendiri! Lalu menggaruki ujung antan agar jangan
ada sisa tepung yang ketinggalan! Ia makan roti kering bercampur katul. Ia
menjauhkan diri dari istana imarah (pemerintahan) di Kufah. Ia lebih suka
tinggal di gubuk terbuat dari tanah liat!
Mengapa?
Karena kesetiaannya kepada kebenaran tidak bisa disatukan dengan kemewahan
duniawi!
Kegemarannya yang paling besar ialah meremehkan keduniawian dan menaklukan
bujuk-rayunya yang sangat dahsyat. Ia tidak sudi menyentuhkan tangan pada
keduniawian dan tidak tertarik sama sekali! Kepada rayuan duniawi ia
senantiasa berkata tegas "Tidak!"
Setelah memegang urusan kaum muslimin, menjadi seorang Khalifah, kegemarannya
itu berubah menjadi kewajiban. Ia pernah berkata: "Apakah aku harus
merasa puas disebut Amirul Mukminin, sedangkan aku tidak menyertai kaum
mukminin dalam masa kesusahan? Demi Allah, seandainya aku mau, aku dapat
memperoleh madu murni, gandum pilihan dan pakaian serba halus. Tetapi, jauh
nian aku bisa dikalahkan oleh hawa nafsu! Aku tidak sudi kekenyangan, sedang
di sekitarku banyak perut kelaparan, menderita dan sengsara."
Rasul Allah s.a.w. pernah mengatakan, bahwa kemiskinan mendekatkan orang
kepada kekufuran. Bertolak dari sini pulalah Imam Ali bin Abi Thalib r.a.
muncul dengan sebuah kalimat cemerlang: "Seandainya kemiskinan itu
berupa orang, tentu ia sudah kubunuh!"
Sungguhpun Imam Ali bin Abi Thalib r.a. sudah meninggal dunia, namun ia
senantiasa hidup dalam semua nilai-nilai kebenaran yang diperjuangkannya
sepanjang umur. Ia tetap akan hidup sebagai tauladan.
Merupakan keharusan bagi kaum muslimin, terutama bagi yang masih ada
keturunan darah Ahlul-Bait Rasul Allah s.a.w. untuk bertauladan dari
keutamaan kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib r.a.: kezuhudannya, kejujurannya,
keadilannya, keksatriaannya, kerendahan hatinya, kedermawanannya dan sembah
sujudnya kepada Allah s.w.t.
Malahan bagi keturunan Ahlul-Bait Rasul Allah s.a.w. dituntut lebih keras
lagi bertauladan kepada kehidupan Imam Ali r.a. Mereka tinggal mengikuti
garis yang telah ada. Akan merupakan penyimpangan, bila keturunan Ahlul-Bait
Rasul Allah s.a.w. tidak berbuat demikian.
Bertauladan kepada keutamaan kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib r.a. berarti
berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan, serta melawan kebathilan dan
kedzaliman, dengan kata lain beramar ma'ruf nahi mungkar. Menyerukan supaya
orang berbuat benar dan adil sudah merupakan satu perjuangan. Perjuangan
mencegah kemungkaran, nahi mungkar, adalah lebih berat daripada menyerukan
orang berbuat benar dan adil. Sebab tantangan akan muncul dari fihak yang
hendak dicegah!
Sepanjang usianya enam puluh tiga tahun, Imam Ali bin Abi Thalib r.a.
senantiasa ber-amar ma'ruf nahi mungkar.
Akhirnya kami tutup tulisan ini dengan kesadaran, bahwa bila terdapat
kekeliruan atau kekurangan, itu adalah kekeliruan dan kekurangan kami.
Sedangkan kebenaran buku ini kepada Allah s.w.t. jua kembalinya.
Wa maa taufiqi illa billah alaihi tawakkaltu wa ilaihi unib… Mudah-mudahan
Allah s.w.t. mengampuni dosa-dosa kami dan semoga Allah s.w.t., senantiasa
memberi bimbingan, hidayah dan taufiq-Nya kepada kami.
Amin ya Robbal 'alamin.
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar