Selasa, 20 September 2011

sejarah kehidupan imam Ali


ALI BIN ABU THOLIB
saking pakde nono.dipun posting dening mas yasir
Usaha menyingkat sejarah kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib r.a. dalam lembaran-lembaran buku, bukanlah pekerjaan yang mudah. Sejak semula telah terbayang kesukaran-kesukaran yang bakal dihadapi. Betapa tidak!

Kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib r.a., terutama pada tahap-tahap terakhir, sejak terbai'atnya sebagai Khalifah sampai wafatnya sebagai pahlawan syahid, bukankah satu kehidupan biasa. Ia merupakan satu proses kehidupan yang lain daripada yang lain. Ia menuntut penalaran luar biasa, menuntut kekuatan syaraf istimewa pula.

Kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib r.a. penuh dengan ledakan-ledakan luar biasa, keagungan dan hal-hal mempesonakan. Tetapi bersamaan dengan itu juga penuh dengan gelombang kekecewaan dan kengerian.

Oleh karena itu penulisan tentang semua segi kehidupannya menjadi benar-benar tidak mudah. Ditambah pula dengan adanya pihak-pihak yang menilai beliau secara berlebih-lebihan. Baik dalam memujinya maupun dalam mencacinya.

Imam Ali bin Abi Thalib r.a. sendiri tidak senang pada orang-orang yang menilai diri beliau secara berlebih-lebihan. Hal itu tercermin dengan jelas dari kata-kata beliau: "Ada dua fihak yang celaka karena berlebih-lebihan menilai sesuatu yang sebenarnya tidak kumiliki. Sedangkan pihak yang lain ialah yang demikian bencinya kepadaku sehingga mereka melontarkan segala kebohongan tentang diriku."

Dari sini pulalah maka Imam Ali r.a. mengatakan: "Ada segolongan orang yang demi cintanya kepadaku mereka bersedia masuk neraka. Tetapi ada segolongan lain yang demi kebenciannya kepadaku sampai-sampai mereka itu bersedia masuk neraka."

Ada dua faktor yang menyebabkan timbulnya pertentangan penilaian mengenai menantu dan sekaligus saudara misan Rasul Allah s.a.w. itu. Dua faktor itu ialah sifat atau watak pribadi Imam Ali r.a. sendiri dan situasi serta kondisi kehidupan Islam pada zaman hidupnya tokoh penting Islam itu.

Faktor mana yang lebih dominan, sehigga pribadi Imam Ali r.a. mempunyai kedudukan yang unik dalam sejarah Islam sulit dikatakan. Yang jelas kedua faktor itu memegang peran penting dan memberi arti khusus yang pengaruhnya hingga kini masih terasa. Bahkan sejak meninggalnya pada tahun 40 Hijriyah pendapat yang kontroversial mengenai dirinya itu tidak mereda, malahan makin berkembang sehingga sangat mewarnai sejarah Islam sampai abad ke-15 Hijriyah sekarang ini.

Periode kehidupan Imam Ali r.a. ditandai dengan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh ummat Islam, terutama setelah wafatnya Rasul Allah s.a.w. Belum lagi jenazah Rasul Allah s.a.w. dimakamkan telah muncul krisis. Dan krisis itu disusul pula oleh krisis-krisis lain. Ancaman dari dalam dan dari luar sangat membahayakan kedudukan Islam yang masih muda itu.

Pertentangan pribadi, qabilah, suku, golongan, bangsa dan antar-negara bermunculan hampir secara simultan. Keseimbangan kehidupan rohani dan jasmani, masalah keagamaan dan kenegaraan yang serasi dan seimbang di bawah satu pimpinan, yaitu di tangan Rasul Allah s.a.w. semasa hidupnya, tiba-tiba saja mengalami kegoncangan, ketidak-seimbangan dan ketidak-serasian.

Proses kristalisasi dan disintegrasi yang menyusul wafatnya Rasul Allah s.a.w. dihadapkan pada tokoh-tokoh terkemuka ummat Islam, yang selama itu merupakan pembantu-pembantu terdekat Rasul Allah s.a.w. Diantaranya Imam Ali r.a. sebagai salah satu tokoh yang menonjol dan dekat sekali dengan Rasul Allah s.a.w. Dan dialah salah seorang yang paling merasa berkepentingan terhadap kemaslahatan Islam dan ummatnya. Sebab dialah yang paling dini melibatkan diri sebagai pengikut setia Nabi Muhammad s.a.w.

Awal tahun Hijriyah ditandai oleh peranan Imam Ali r.a. Malam sebelum Rasul Allah s.a.w. melakukan hijrah ke Madinah, yang sangat bersejarah itu, rumah kediaman beliau dikepung rapat oleh para pemuda Qureiys: Mereka bertekad hendak membunuh nabi Muhammad s.a.w. Pada saat itulah Rasul Allah s.a.w. memerintahkan Imam Ali r.a. supaya mengenakan mantel hijau buatan Hadramaut dan agar saudara misannya itu berbaring di tempat tidur beliau. Imam Ali r.a. dengan kebanggaan dan keberaniannya melaksanakan tugas tersebut.

Ketika para pemuda Qureisy yang berniat jahat itu mengintip, mereka mengira Rasul Allah s.a.w. berada di dalam. Padahal sebenarnya saat itu Rasul Allah s.a.w. telah berhasil menyelinap keluar menuju ke rumah Abu Bakar r.a.

Ketaatannya kepada Rasul Allah s.a.w. dan keberaniannya pada malam hijrah itu bukan merupakan kasus tersendiri. Pada masa-masa hidupnya lebih lanjut, faktor keberanian ini sangat mewarnai kehidupan Imam Ali r.a. Dasar-dasar keberanian ini tambah diperkuat oleh keyakinannya yang makin teguh pada kebenaran ajaran Rasul Allah s.a.w. dan ketaqwaannya pada Allah s.w.t.

Ketaatannya pada Rasul Allah s.a.w. dan keberaniannya dalam membela serta menegakkan kebenaran-kebenaran agama Allah merupakan pendorong utama, sehingga kemudian ia diagungkan oleh pengikut-pengikutnya sebagai pahlawan besar ummat Islam.

Hal itulah yang antara lain telah menimbulkan perbedaan penilaian yang hasilnya melahirkan perselisihan pendapat. Yang menilai positif melambangkan Imam Ali r.a. sebagai contoh tokoh yang paling ideal, pelanjut cita-cita dan perjuangan Rasul Allah. Kemudian eksesnya menjadi berlebih-lebihan, sehingga sama sekali tidak disukai oleh yang bersangkutan sendiri.

Sebaliknya mereka yang menilai negatif, Imam Ali r.a. mereka anggap sebagai tokoh yang amat berambisi untuk mendapat kedudukan memimpin ummat Islam. Penilaian terakhir ini mengundang sifat-sifat kebencian dan menjurus ke permusuhan, dan akhirnya memuncak dalam bentuk peperangan melawan Imam Ali r.a.

Kepribadian dan watak Imam Ali r.a. yang unik itulah yang mengembangkan pendapat ekstrim tentang dirinya. Yang mengaguminya, kemudian memitoskan dan mendewakannya. Tidak jarang, karena ekses penyanjungan kepada Imam Ali r.a. akhirnya secara sadar atau tidak sadar golongan ini mengaburkan peran agung Rasul Allah s.a.w. Sebaliknya yang membenci Imam Ali r.a. melahirkan ekses mengkafirkannya.

Dua fihak yang sangat bertentangan penilaian terhadap Imam Ali r.a. tercermin pada dua kelompok yang terkenal dalam sejarah Islam.

Kaum Rawafidh bukan saja pengagum Imam Ali r.a., malahan boleh dibilang sebagai "kaum penyembah Imam Ali r.a." Semasa hidupnya, Imam Ali r.a. sendiri sudah berulang kali melarang tindak dan sikap mereka yang sangat keliru itu, tetapi sikap Imam Ali r.a. yang tidak mau disanjung dan disembah itu bahkan mereka nilai sebagai sikap yang agung. Imam Ali r.a. sampai-sampai mengingatkan mereka bahwa apa yang mereka lakukan itu syirik. Peringatan itu sama sekali tidak menyurutkan pendirian mereka.

Begitu fanatiknya mereka kepada Imam Ali r.a. sehingga mereka bersedia mengorbankan segala-galanya demi tegaknya pendirian itu. Bahkan ketika mereka dijatuhi hukuman dengan dibakar hidup-hidup, hukuman itu mereka terima dengan penuh ketaatan. Di tengah kobaran api unggun yang membakar diri mereka di depan umum, dengan penuh gairah mereka berseru: "Dia (Imam Ali) adalah tuhan. (Sebab) dialah yang menetapkan adzab neraka ini". Mereka rela mati dibakar dengan penuh keikhlasan. Mereka memandang layak hukuman demikian dijatuhkan oleh "tuhan" mereka sendiri.

Sangat berlawanan dengan kaum Rawafidh ini, adalah pendirian golongan Nawasib dan Khawarij yang sangat benci kepada Imam Ali r.a. Ironisnya, kaum Khawarij ini sebelumnya justru merupakan pengikut Imam Ali r.a. yang paling setia dan taat. Mulamula mereka sangat cinta, kagum, taat dan setia. Lalu berbalik 180 derajat menjadi muak, benci, mengutuk, bahkan mengkafirkan Imam Ali r.a. Itu terjadi ketika tokoh yang mereka kagumi itu bersedia menerima "perdamaian" dengan Muawiyah. Peristiwa yang dalam sejarah terkenal sebagai "Tahkim bi Kitabillah".

Kaum Khawarij itu menuntut kepada Imam Ali r.a. agar ia bertaubat kepada Allah atas perbuatan salah yang dilakukannya (mengadakan perdamaian dengan Muawiyah). Begitu mendalamnya kebencian mereka sehingga pada kesempatan apa, kapan dan di mana saja mereka melancarkan kecaman pedas dan memaki habis. Bahkan sejarah mencatat, Imam Ali r.a. wafat akibat pembunuhan yang dilakukan golongan Khawarij.

Sulit untuk dicari bahan bandingan bagi seorang tokoh yang begitu hebat menimbulkan pertentangan pendapat seperti yang ada pada diri Imam Ali r.a. Lebih sulit lagi untuk menarik kesimpulan dari kenyataan ini. Apakah karena ia orang besar, maka timbul pertentangan pendapat yang begitu hebat? Ataukah karena adanya pertentangan pendapat itu hingga ia menjadi mitos. Kenyataan adanya pertentangan pendapat itu sendiri sudah mengungkapkan, bahwa Imam Ali r.a. adalah tokoh potensial sekali, khususnya bagi ummat Islam.

Juga merupakan ironi sejarah, salah seorang yang pertama-tama berperan vital dalam membela Islam, akhirnya dijatuhkan oleh seorang yang ayahnya justru paling memusuhi Islam ketika Rasul Allah s.a.w. mulai dengan da'wahnya. Orang yang sejak masa anak-anak sudah mempertaruhkan segala-galanya demi tegak dan berkembangnya Islam, kepemimpinannya direbut oleh orang-orang yang pada awal Islam paling gigih menentang.

Lebih menyedihkan lagi karena orang yang melawan Imam Ali r.a. menempuh segala usaha dan tipu-daya "dengan mengatas-namakan Islam". Lebih parah lagi karena dengan "mengatas-namakan Islam" selama 136 tahun, kekuasaan Bani Umayyah, nama Imam Ali ditabukan, direndahkan dan dihina. Pada setiap khutbah, pada setiap doa sehabis shalat tidak pernah ditinggalkan cacian dan kutukan terhadap Imam Ali agar ia disiksa Allah.

Bahkan nama Imam Ali digunakan oleh dinasti Bani Umayyah untuk menegakkan kekuasaan otoriter. Tiap orang atau kelompok yang berani menentang, atau tidak sependapat dengan kebijaksanaan penguasa Bani Umayyah dapat ditindak dengan menggunakan dalih "pengikut Imam Ali" (Pecinta Ahlulbait).

Siapa yang mempelajari sejarah Imam Ali r.a. dengan jujur, pasti akan menemukan pada dirinya salah satu segi yang khas ada pada kehidupan tokoh legendaris itu. Nama Imam Ali r.a. identik dengan sifat-sifat manusiawi yang mendalam. Baik sejarah sendiri, maupun sejarawan tidak cukup mampu mengungkapkannya. Kaitan yang seperti itu biasanya oleh seorang penulis terpaksa dikesampingkan saja dengan penuh kesadaran dan kebijaksanaan.

Makin berkurangnya faktor-faktor kejiwaan yang menyulitkan pembahasan dan makin dibatasinya segi-segi sejarah yang hendak ditulis, bisa jadi lebih mendekati objektivitas. Tetapi apakah begitu jadinya?

Para sejarawan mengungkapkan bahwa pada ghalibnya makin lama seorang telah meninggal akan lebih mudah ditemukan objektivitas untuk pengungkapan riwayat orang yang bersangkutan. Akan tetapi kalau menyangkut Imam Ali r.a. hal itu masih dipertanyakan.

Dalam batas-batas pengungkapan yang demikianlah, buku "Imam Ali bin Abi Thalib r.a." ini mengetengahkan riwayat kehidupan Imam Ali pada masa asuhan, keluarganya, rumah-tangganya, peranan kepahlawanannya semasa Rasul Allah masih hidup, wafatnya Rasul Allah s.a.w., masa-masa kekhalifahan Abu Bakar r.a., Umar r.a., Utsman r.a., delapan hari tanpa khalifah, Perang Unta, Perang Shiffin, Gerakan Khawarij, keutamaan, pintu ilmu dan sebuah kenangan.
Bab I : Masa Asuhan
Dengan membaca buku-buku riwayat atau sejarah, kita akan mengenal tokok-tokoh pembela kebenaran dan keadilan: yang lebih mementingkan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi, tanpa pamrih dan bersedia mengorbankan diri untuk membela keyakinan yang dirasa benar dan adil.

Juga dengan membaca buku-buku riwayat atau sejarah, kita akan mengenal orang-orang yang senantiasa memusuhi kebenaran dan keadilan, yang lebih mementingkan kepentingan pribadi daripada kepentingan umum dan hanya memikirkan keuntungan saja tanpa memperdulikan halal atau haramnya sesuatu.

Dua macam sifat atau watak seperti di atas, tidak mungkin mendadak lahir setelah dewasa saja. Sifat tersebut lahir melalui proses. Hal ini juga berlaku bagi Imam Ali r.a.

Untuk mengetahui bagaimana proses Imam Ali bin Abi Thalib r.a. menjadi seorang pahlawan Islam yang tangguh, hingga dijadikan suri-tauladan oleh para pejuang Islam, marilah kita ikuti sejak kelahirannya, masa kanak-kanaknya, masa remajanya dan kemudian setelah dewasa.

Putera Ka'bah
Telah menjadi keyakinan orang yang beragama, bahwa manusia dapat merencanakan sesuatu dan berusaha mewujudkan rencananya. Akan tetapi apakah rencana tersebut akan tercapai atau gagal, manusia yang merencanakan tadi tak dapat menentukannya. Penentuan terakhir di tangan Allah s.w.t.

Banyak orang yang ingin agar isterinya dapat melahirkan putera atau puteri di tempat tertentu dan disaksikan oleh keluarga yang lengkap. Apakah keinginan atau rencana orangtua itu akan tercapai, Allah s.w.t. yang menentukan.

Bagaimana halnya dengan kelahiran Imam Ali r.a.? Di mana beliau dilahirkan? Di rumah Abu Thalib atau di tempat lain?

Tentang tempat kelahiran Imam Ali r.a., A1 Hakim dalam buku "Al Mustadrak", jilid III, halaman 483, antara lain mengemukakan: Ketika itu hari Jum'at, 13 bulan Rajab, 12 tahun sebelum Nabi Muhammad s.a.w. mendapat risalah. Seorang wanita, meskipun perutnya nampak besar sekali, bersama suaminya melakukan tawaf mengelilingi Ka'bah. Wanita yang bernama Fatimah itu tiba-tiba merasakan perutnya sakit. Ketika rasa sakitnya bertambah, segera diberitahukan kepada suaminya, Abu Thalib. Mendengar keluhan itu, Abu Thalib segera menggandeng isterinya masuk ke dalam Ka'bah. Menurut perkiraan, isterinya kelelahan. Diharapkan dengan beristirahat sebentar rasa sakitnya akan berkurang.

Kenyataannya tidak seperti yang diperkirakan Abu Thalib. Perut Fatimah bertambah sakit. Fatimah yang sudah berkali-kali melahirkan, telah mengerti isyarat apa yang sedang dialaminya. Sebagai seorang wanita yang shaleh, ia tidak mengungkapkan isyarat itu kepada suaminya. Dia khawatir jika suaminya tahu, tentu maksud suaminya menyelesaikan tawaf akan terganggu. Ia tidak ingin berbuat demikian. Suaminya tetap dianjurkan menyelesaikan tawafnya.

Dalam keheningan dan keredupan Baitullah, rumah Allah, Fatimah merasa perutnya bertambah mulas. Disaat itu yang teringat di hati Fatimah ialah bahwa rasa sakitnya akan berkurang dengan datangnya pertolongan Allah. Fatimah segera mengangkat tangan, yang sebelumnya memegang perut untuk menahan rasa sakit dan dengan suara sayu tersengal-sengal berucap: "Ya Allah, Ya Tuhanku. Aku bernaung kepada-Mu, kepada utusan-utusan-Mu dan Kitab-kitab yang datang dari-Mu. Aku percaya kepada ucapan datukku Ibrahim, pendiri rumah ini. Maka demi pendiri rumah ini dan demi jabang bayi yang ada di dalam perutku, aku mohon kepada-Mu untuk dimudahkan kelahirannya".

Beberapa saat seusai mengucapkan doa, lahirlah bayi dengan selamat. Bayi ini adalah putra ke-empat dari Fatimah. Sepanjang ingatan orang, inilah untuk pertama kali seorang wanita melahirkan puteranya dalam Ka'bah. Kelahiran bayi ini hanya disaksikan oleh ayah bundanya saja.

Kejadian yang luar biasa ini, beritanya segera tersiar ke berbagai penjuru. Berbondong-bondonglah mereka, terutama keluarga Bani Hasyim, datang ke Ka'bah, guna menyaksikan bayi yang baru lahir. Di antara yang datang ialah Nabi Muhammad s.a.w. Bayi ini saudara misan beliau sendiri. Beliau menggendong bayi tersebut, kemudian bersama ayah-ibunya pulang ke rumah Abu Thalib.

Meskipun bayi ini merupakan putera keempat, namun oleh ayahnya dipandang sebagai kurnia besar yang dilimpahkan Allah s.w.t. kepada keluarganya. Kegembiraan Abu Thalib ini tercermin dari perintah yang segera dikeluarkan untuk menyelenggarakan pesta walimah. Guna memeriahkan pesta itu, beberapa ekor ternak dipotong. Pemuka-pemuka Qureiys diundang mengunjungi pesta itu, sebagai penghormatan atas kelahiran puteranya. Pada kesempatan itulah Abu Thalib mengumumkan pemberian nama "Ali" kepada puteranya yang baru lahir. "Ali" berarti "luhur".

Nama dan Gelarnya
Sesungguhnya, sebelum berlangsung pesta walimah, di mana Abu Thalib mengumumkan nama "Ali" bagi puteranya yang keempat itu, Fatimah telah memberi nama "Haidarah", yang berarti "Singa". Satu nama yang diambil persamaannya dari nama Asad, nama datuknya dari pihak ibu, yang juga berarti "Singa".

Sementara orang mengatakan, bahwa yang memberi nama "Haidarah" ialah orang-orang Qureiys. Tetapi sejarah membuktikan, bahwa nama "Haidarah" itu sesungguhnya pemberian ibunya sendiri.

Bukti sejarah ini dapat diketahui dari peristiwa perang-tanding, seorang lawan seorang, antara Imam Ali r.a. melawan Marhaban. Dalam perang-tanding itu Marhaban mengagul-agulkan diri dengan bait syairnya: "Aku inilah yang diberi nama Marhaban oleh ibuku!" Imam Ali r.a. segera menukas dan melanjutkan bait syair itu dengan kata-katanya: "Aku inilah yang diberi nama Haidarah oleh ibuku!"

Hanya saja nama yang diberikan ibunya menjadi tenggelam sesudah pengumuman ayahnya dalam pesta walimah, yaitu "Ali". Ia lebih terkenal dengan nama Ali bin Abi Thalib.

Ketika di bawah asuhan Rasul Allah s.a.w., Imam Ali r.a. pernah diberi julukan "Abu Turab", yang artinya "Si Tanah". Pemberian julukan itu erat kaitannya dengan peristiwa ditemuinya Imam Ali r.a. di satu hari sedang tidur berbaring di atas tanah. Yang menemuinya Nabi Muhammad s.a.w. sendiri. Beliau menghampirinya dan duduk dekat kepalanya sambil mengusap-usap punggungnya guna membuang debu-tanah. Kemudian Nabi Muhammad s.a.w. membangunkannya seraya berkata: "Duduklah, engkau hai Abu Turab!"

Nama Abu Turab ini paling disukai oleh Imam Ali r.a. Ia sangat bangga bila dipanggil dengan nama itu. Menurut Al Bashri, nama Abu Turab ini di kemudian hari oleh orang-orang Bani Umayyah dijadikan bahan ejekan guna merendahkan martabat Khalifah Imam Ali r.a. Mereka mengatakan, bahwa pemberian nama Abu Turab" oleh Rasul Allah s.a.w. merupakan bukti tentang kekurangan dan kelemahan fitrahnya.

Disamping nama-nama tersebut di atas, Imam Ali r.a. juga terkenal dengan panggilan Abul Hasan. Ini terjadi, setelah kelahiran putera beliau, Al Hasan. Selain dari nama-nama tersebut di atas; Imam Ali r.a. banyak sekali mendapat gelar dan yang paling populer hingga sekarang ialah "Imam".

Di bawah Naungan Wahyu
Ketika Imam Ali r.a. menginjak usia 6 tahun, Makkah dan sekitarnya dilanda paceklik hebat. Sebagai akibatnya, kebutuhan pangan sehari-hari sulit diperoleh. Bagi mereka yang berkeluarga besar dan ekonomi lemah, seperti keluarga Abu Thalib, pukulan paceklik terasa parah sekali.

Pada masa paceklik ini, Nabi Muhammad s.a.w. telah berumah tangga dengan Sitti Khadijah binti Khuwalid r.a. Beliau tak dapat melupakan budi pamannya yang telah memelihara dan mengasuh beliau sejak kecil hingga dewasa. Bertahun-tahun beliau hidup di tengah-tengah keluarga Abu Thalib, mengikuti suka-dukanya dan mengetahui sendiri bagaimana keadaan penghidupannya.

Dalam suasana paceklik ini, Nabi Muhammad s.a.w. menyadari betapa beratnya beban yang dipikul pamannya, Abu Thalib, yang sudah lanjut usia. Hati beliau terketuk dan segera mengambil langkah untuk meringankan beban pamannya.

Nabi Muhammad s.a.w. mengetahui, bahwa Abbas bin Abdul Mutthalib, juga paman beliau, adalah seorang terkaya di kalangan Bani Hasyim. Dibanding dengan saudara-saudaranya, Abbas mempunyai kemampuan ekonomis yang lebih baik. Dengan tujuan untuk meringankan beban Abu Thalib, beliau temui Abbas bin Abdul Mutthalib. Kepada pamannya itu beliau kemukakan betapa berat derita yang ditanggung Abu Thalib sebagai akibat paceklik. Kemudian, dalam bentuk pertanyaan, Nabi Muhammad s.a.w berkata: "Bagaimana paman, kalau kita sekarang ini meringankan bebannya? Kusarankan agar paman mengambil salah seorang anaknya. Aku pun akan mengambil seorang."

Abbas bin Abdul Mutthalib menyambut baik saran Nabi Muhammad s.a.w. Setetah melalui perundingan dengan Abu Thalib, akhirnya terdapat kesepakatan: Ja'far bin Abi Thalib diserahkan kepada Abbas, sedang Ali bin Abi Thalib r.a. diasuh oleh Nabi Muhammad s.a.w.

Sejak itu Imam Ali r.a. diasuh oleh Nabi Muhammad s.a.w. dan isteri beliau, Sitti Khadijah binti Khuwailid r.a. Bagi Imam Ali r.a. sendiri lingkungan keluarga yang baru ini, bukan merupakan lingkungan asing. Sebab Nabi Muhammad sendiri dalam masa yang panjang pernah hidup di tengah-tengah keluarga Abu Thalib. Malahan yang menikahkan Nabi Muhammad s.a.w. dengan Sitti Khadijah binti Khuwalid r.a., juga Abu Thalib.

Bagi Nabi Muhammad s.a.w., Imam Ali r.a. bukan hanya sekedar saudara misan, malahan dalam pergaulan sudah merupakan saudara kandung. Lebih-lebih setelah dua orang putera lelaki beliau, Al Qasim dan Abdullah, meninggal. Betapa besar kasih sayang yang beliau curahkan kepada putera pamannya itu dapat diukur dari berapa besarnya kasih-sayang yang ditumpahkan Abu Thalib kepada beliau. Bahkan pada waktu dekat menjelang bi'tsah, Nabi Muhammad s.a.w. sering mengajak Imam Ali r.a. menyepi di gua Hira, yang terletak dekat kota Mekkah. Ada kalanya Imam Ali r.a. diajak mendaki bukit-bukit sekeliling Makkah guna menikmati keindahan dan kebesaran ciptaan Allah s.w.t.

Sejak usia muda Imam Ali r.a. sudah menghayati indahnya kehidupan di bawah naungan wahyu Illahi, sampai tiba saat kematangannya untuk menghadapi kehidupan sebagai orang dewasa. Selama masa itu beliau mengikuti perkembangan yang dialami Rasul Allah s.a.w. dalam kehidupannya.

Sungguh merupakan saat yang sangat menguntungkan bagi pertumbuhan jiwa Imam Ali r.a. dengan berada di dalam lingkungan keluarga termulia itu. Periode yang paling berkesan dalam kehidupan Imam Ali r.a. adalah dimulai dari usia 6 tahun sampai Nabi Muhammad s.a.w. menerima wahyu pertama dari Allah s.w.t. Imam Ali r.a. mendapat kesempatan yang paling baik, yang tidak pernah dialami oleh siapa pun juga, ketika Nabi Muhammad s.a.w. sedang dipersiapkan Allah s.w.t. untuk mendapat tugas sejarah yang maha penting itu.

Imam Ali r.a. menyaksikan dari dekat saudara misannya melaksanakan ibadah kepada Allah s.w.t dengan cara yang berbeda sama sekali dari tradisi dan kepercayaan orang-orang Makkah ketika itu. Imam Ali r.a. menyaksikan juga betapa saudara misannya menjauhi kehidupan jahiliyah, menjauhi kebiasaan minum khamar, menjauhi perzinahan. Selain itu, dengan mata kepala sendiri Imam Ali r.a. menyaksikan dan mengikuti perkembangan jiwa dan fikiran Nabi Muhammad s.a.w.

Semua warisan yang telah diterima Imam Ali r.a. dari para orangtuanya, kini berkembang mekar di hadapan seorang maha guru yang cakap dan bijaksana, yaitu putera pamannya sendiri. Manusia terbesar di dunia itulah yang menghubungkan diri Imam Ali r.a. dengan Allah s.w.t.

Masa Kanak-kanak
Tentang usia Imam Ali r.a. ketika Rasul Allah s.a.w. mulai melakukan da'wah risalah, terdapat riwayat yang berlainan. Sebagian riwayat mengatakan, bahwa Imam Ali r.a. pada waktu itu masih berusia 10 tahun. Sementara ahli sejarah lain mengatakan, Imam Ali r.a. ketika itu telah berusia 13 tahun. Yang terakhir ini antara lain ditegaskan oleh Syeikh Abul Qasyim Al Balakhiy.

Masalah usia Imam Ali r.a. ini banyak dipersoalkan oleh penulis sejarah, karena ada kaitannya dengan penilaian: apakah Imam Ali memeluk agama Islam di masa kanak-kanak ataukah setelah akil baligh. Tampaknya riwayat yang lebih kuat mengatakan bahwa Imam Ali r.a. telah berusia 13 tahun pada waktu Rasul Allah s.a.w. memulai da'wahnya.

Pada waktu Nabi Muhammad s.a.w. menerima tugas da'wah Ilahiyah, Imam Ali r.a. menyambutnya tanpa bimbang dan ragu. Hal itu dimungkinkan karena lama sebelumnya ia telah langsung hidup di bawah naungan Rasul Allah s.a.w. Bila ada hal yang ketika itu tidak mudah difahami Imam Ali r.a. hanyalah mengenai cara-cara pelaksanaan risalah dan beban tanggung jawab yang harus dipikulnya sebagai orang beriman.

Pada waktu Rasul Allah s.a.w. menerima perintah Allah s.w.t. supaya melakukan da'wah secara terbuka dan terang-terangan, Imam Ali r.a. ikut ambil bagian sebagai pembantu. Imam Ali r.a. antara lain menyampaikan seruan-seruan Rasul Allah s.a.w. kepada sejumlah orang tertentu di kalangan anggota-anggota keluarganya.

Tentang hal yang terakhir ini, ibnu Hisyam dalam riwayatnya mengemukakan, bahwa Imam Ali r.a. pernah mengatakan dengan jelas, bahwa Rasul Allah s.a.w. secara rahasia memberi tahu kepada siapa saja yang mau menerima dari kalangan anggota-anggota keluarga dan familinya, mengenai nikmat kenabian yang dilimpahkan Allah kepada beliau dan kepada umat manusia melalui beliau.

Untuk itu Rasul Allah s.a.w. menyampaikan da'wahnya lebih dahulu kepada anggota-anggota keluarga yang paling dekat, yaitu isterinya sendiri Sitti Khadijah r.a. dan saudara misan asuhannya, Imam Ali r.a. Setelah kepada dua orang itu, barulah kepada Zaid bin Haritsah, putera angkatnya.

Imam Ali r.a. sendiri sebagai orang yang paling dini melakukan tugas da'wah membantu Rasul Allah s.a.w. pernah menerangkan, bahwa pada masa itu tidak ada satu rumah pun yang menghimpun anggota-anggota keluarga dalam agama Islam, selain rumah-tangga Rasul Allah s.a.w. dan Khadijah r.a. "Dan akulah orang ketiga dalam rumah itu. Aku menyaksikan langsung cahaya wahyu dan risalah serta mencium semerbaknya bau kenabian" demikian kata Imam Ali r.a.

Ali bin Al Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Imam Ali r.a., melalui sebuah riwayat memberitahukan kapan datuknya mulai memeluk agama Islam. Ia mengatakan: "Ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tiga tahun lebih dulu sebelum orang lain."

Masa Remaja
Dari sejarah hidupnya, sejak usia kanak-kanak langsung menerima asuhan Rasul Allah s.a.w., tidak ada keraguan lagi, bahwa Imam Ali r.a. merupakan orang yang paling dini menerima hidayah Ilahi, paling dulu beriman dan bersujud kepada-Nya. Para peneliti buku-buku riwayat akan menemukan kenyataan tersebut dan dapat mengetahuinya dengan jelas.

Dalam masa remaja, Imam Ali r.a. sudah aktif membantu da'wah Rasul Allah s.a.w. Menurut Abdullah bin Abbas, Imam Ali r.a. sendiri pernah menceritakan tentang hal itu sebagai berikut:

"Setelah turun ayat 214 Surah Asy Syura (perintah Allah kepada Rasul-Nya supaya memperingatkan kaum kerabat yang terdekat), beliau memanggil aku. Kemudian berkata: "Hai Ali, Allah telah memerintahkan supaya aku memberi peringatan kepada kaum kerabatku yang terdekat. Aku merasa agak sedih, sebab aku tahu, jika aku berseru kepada mereka melaksanakan perintah itu, aku akan mengalami sesuatu yang tidak kusukai. Oleh karena itu aku diam saja sampai datanglah Jibril yang berkata kepadaku, "Hai Muhammad, jika engkau tidak berbuat seperti yang diperintahkan kepadamu, Tuhan akan menjatuhkan adzab kepadamu." Oleh karena itu, hai Ali, buatlah makanan. Masaklah paha kambing dan sediakan untuk kita susu sewadah besar. Setelah itu kumpulkan keluarga Bani Abdul Mutthalib. Mereka hendak kuajak bicara dan akan kusampaikan apa yang diperintahkan Allah kepadaku."

"Semua yang diperintahkan beliau kepadaku, kukerjakan segera. Kemudian anggota-anggota keluarga Bani Abdul Muttalib kuundang supaya hadir. Jumlah mereka yang hadir kurang lebih 40 orang. Di antara mereka itu terdapat para paman Rasul Allah s.a.w., seperti Abu Thalib, Hamzah, Abbas dan Abu Lahab. Setelah semuanya berkumpul, Rasul Allah s.a.w. memanggilku dan memerintahkan supaya makanan segera dihidangkan. Hidangan itu kusajikan. Rasul Allah s.a.w. mengambil sepotong daging, lalu diletakkan kembali pada tepi baki. Beliau mempersilakan mereka mulai menikmati hidangan: 'Silakan kalian makan, Bismillah!' Mereka semua makan dan minum sekenyang-kenyangnya. Demi Allah, mereka masing-masing makan dan minum sebanyak yang kuhidangkan."

"Ketika Rasul Allah s.a.w. hendak mulai berbicara beliau didahului oleh Abu Lahab. Abu Lahab berkata kepada hadirin dengan sinis: "Kalian benar-benar sudah disihir oleh saudara kalian!"

"Karena ucapan Abu Lahab semua yang hadir pergi meninggalkan tempat. Keesokan harinya aku diperintahkan lagi oleh Rasul Allah s.a.w. supaya mempersiapkan segala sesuatunya seperti kemarin. Setelah semua makan minum secukupnya, Nabi Muhammad s.a.w. berkata kepada mereka: "Hai Bani Abdul Mutthalib. Demi Allah, aku tidak pernah mengetahui ada seorang pemuda dari kalangan orang Arab, yang datang kepada kaumnya membawa sesuatu yang lebih mulia daripada yang kubawa kepada kalian. Untuk kalian aku membawa kebajikan dunia dan akhirat. Allah memerintahkan aku supaya mengajak kalian ke arah itu. Sekarang, siapakah di antara kalian yang mau membantuku dalam persoalan itu dan bersedia menjadi saudaraku, penerima wasiatku dan khalifahku?"

"Semua yang hadir bungkam. Hanya aku sendiri yang menjawab: "Aku !" Waktu itu aku seorang yang paling muda usianya dan masih hijau. Kukatakan lagi: "Ya, Rasul Allah, akulah yang menjadi pembantumu!" Beliau mengulangi ucapannya dan aku pun mengulangi kembali pernyataanku. Rasul Allah s.a.w. kemudian memegang tengkukku, seraya berseru kepada semua yang hadir: "Inilah saudaraku, penerima wasiatku dan khalifahku atas kalian!" Semua yang hadir berdiri sambil tertawa terbahak-bahak. Mereka berkata hampir serentak kepada Abu Thalib: "Hai Abu Thalib! Dia (yakni Muhammad) menyuruhmu supaya taat kepada anakmu!"

Hadits yang senada dengan apa yang dikemukakan Abdullah bin Abbas, juga diriwayatkan oleh Abu Ja'far At Thabary dalam bukunya "At Tarikh".

Itulah sekelumit riwayat tentang seorang muda remaja yang kemudian hari bakal menjadi pemimpin ummat Islam. Seorang pemimpin yang dihormati tidak saja oleh kaum muslimin, tetapi juga oleh para ahludz dzimmah, yaitu kaum Nasrani dan kaum Yahudi yang bersedia hidup damai di bawah pemerintahan Islam.

Di depan Abu Lahab, orang yang selama ini selalu mengancam-ancam dan menuntut supaya Rasul Allah s.a.w. menghentikan da'wahnya, Imam Ali r.a. yang masih remaja itu berani menyatakan dukungan dan bantuannya kepada Nabi Muhammad s.a.w.

Bab II : Lingkungan Keluarga
Pemimpin, yang riwayatnya kita bicarakan ini berasal dari lingkungan keluarga terkemuka qabilah Qureiys, yaitu Abul Hasan Ali bin Abi Thalib bin Abdul Mutthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushaiy bin Kilab. Ayah Imam Ali r.a., yakni Abu Thalib, adalah saudara kandung Abdullah bin Abdul Mutthalib, ayah Nabi Muhammad s.a.w. Jadi, Nabi Muhammad s.a.w. dan Imam Ali r.a. sama-sama berasal dari satu tulang sulbi seorang datuk: Abdul Mutthalib bin Hasyim. Jelasnya, baik Rasul Allah s.a.w. maupun Imam Ali r.a., dua-duanya termasuk keluarga Bani Abdul Mutthalib. Atau jika ditarik lebih ke atas lagi, dua-duanya termasuk keluarga Bani Hasyim. Dalam sejarah sebutan "keluarga Bani Hasyim" lebih populer dibanding dengan sebutan "Bani Abdul Mutthalib".

Hingga akhir hayatnya, Abdul Mutthalib merupakan pimpinan tertinggi qabilah Qureiys di Makkah. Sepeninggal Abdul Mutthalib, Abu Thalib menggantikan kedudukan ayahnya sebagai pemimpin Qureiys dan kepala kota Makkah. Abu Thalib juga merangkap sebagai pemimpin terkemuka Bani Hasyim.

Abdul Mutthalib mempunyai 10 orang putera. Tiga di antaranya ialah Abbas, Abu Thalib dan Abdullah. Nabi Muhammad s.a.w., manusia termulia di dunia, adalah putera Abdullah bin Abdul Mutthalib. Ia menjadi mundzir (juru ingat) bagi segenap
ummat manusia. Sedang Imam Ali r.a., seorang pemimpin kaum muslimin yang tiada taranya, adalah putera Abu Thalib bin Abdul Mutthalib. Ia jadi penuntun kaum muslimin sedunia.

Imam Ali r.a. mempunyai 3 orang saudara lelaki, yaitu Ja'far, 'Aqil dan Thalib. Di suatu medan pertempuran di Tabuk, Ja'far gugur sebagai pahlawan dalam perjuangan membela Nabi Muhammad s.a.w. dan Islam. 'Aqil dikurniai usia panjang hingga sempat mengalami zaman kekuasaan Muawiyah bin Abi Sufyan. Sedang Thalib, anak sulung Abu Thalib, wafat mendahului saudara-saudaranya.

Ibunda
Nama lengkap ibunda Imam Ali r.a. ialah Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushaiy bin Kilab. Fatimah binti Asad adalah seorang puteri dari Bani Hasyim yang pertama bersuamikan seorang berasal dari Bani Hasyim juga. Ia termasuk yang paling dini memeluk agama Islam, serta memberikan dukungan kepada da'wah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad s.a.w. Beliau sangat menghargai dan menghormati Fatimah binti Asad, bahkan memanggilnya dengan sebutan "Bunda" dan dipandang sebagai ibu kandung beliau sendiri.

Pada waktu Fatimah binti Asad wafat, Nabi Muhammad s.a.w. bersembahyang untuk jenazahnya. Di saat pemakamannya, Nabi Muhammad s.a.w. turun sendiri ke liang lahad dan setelah jenazahnya diselimuti dengan baju beliau, beliau berbaring sejenak di samping jenazahnya.

Mengetahui hal itu, beberapa orang sahabat sambil keheran-heranan bertanya: "Ya Rasul Allah, kami tidak pernah melihat anda berbuat seperti itu terhadap orang lain!"

"Tak seorangpun sesudah Abu Thalib yang kupatuhi selain dia", jawab Nabi Muhammad s.a.w. dengan segera. "Kuselimutkan bajuku, agar kepadanya diberi pakaian indah di dalam sorga, Aku berbaring di sampingnya, agar ia terhindar dari jepitan dan tekanan kubur."

Ayahanda
Ayahanda Imam Ali r.a. adalah seorang pemimpin Qureisy. Ia sangat terpandang, dicintai, dihormati dan disegani oleh penduduk Makkah. Beliau dihormati bukan semata-mata karena kedudukannya, tetapi lebih-lebih karena budi pekertinya yang luhur, jiwanya yang besar, kepribadiannya yang tinggi dan tindakannya yang senantiasa adil. Satu pribadi yang mengungguli semua orang pada zamannya. Baik dalam soal kesanggupannya, kemantapannya maupun dalam kegigihannya membela sesuatu yang diyakininya benar.

Tentang kesanggupan, kemantapan dan kegigihan Abu ThalIib dapat disaksikan dari penampilan-penampilan beliau menghadapi orang-orang kafir Qureiys. Dengan kekuatan sendiri ia memikul beban membela Nabi Muhammad s.a.w. dari tantangantantangan dan perlawanan orang-orang Qureiys. Satu beban yang tak pernah dipikul oleh paman-paman serta keluarga atau kerabat Nabi Muhammad s.a.w. yang lain. Penilaian yang semacam itu terhadap Abu Thalib, diterima bulat oleh para sejarawan dari segala mazhab.

Abu Thalib adalah orang yang teguh berdiri membentengi Nabi Muhammad s.a.w. dari segala bentuk rongrongan komplotan kafir Qureiys. Abu Thalib berbuat demikian didorong oleh pandangannya yang luas, penglihatan hati dan fikirannya yang tajam, tekad serta semangatnya yang tak terpatahkan.

Hal ini tercermin pula ketika untuk pertama kalinya Abu Thalib melihat puteranya, Imam Ali r.a., secara diam-diam bersembahyang di belakang Rasul Allah s.a.w. Diamatinya putera yang masih muda belia itu telah menjadi pengikut Nabi Muhammad s.a.w. Diperhatikan pula puteranya itu tidak gelisah bersembahyang meskipun dilihat ayahnya.

Malahan Imam Ali r.a. setelah mengetahui ayahnya melihat ia bersembahyang di belakang Rasul Allah, segera menghadap kepadanya, kemudian berkata: "Ayah, aku telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Aku mempercayai dan membenarkan agama yang dibawa olehnya dan aku bertekad hendak mengikuti jejaknya!"

Mendengar pernyataan puteranya yang terus terang tanpa dibikin-bikin, Abu Thalib berkata: "Sudah pasti ia mengajakmu ke arah kebajikan, oleh karena itu tetaplah engkau bersama dia!"

Lain kali Abu Thalib melihat puteranya sedang berdiri di sebelah kanan Nabi Muhammad s.a.w. yang siap menunaikan sembahyang. Dari kejauhan Abu Thalib melihat puteranya yang seorang lagi yaitu Ja'far. Ja'far segera dipanggil, kemudian diperintahkan: "Bergabunglah engkau menjadi sayap putera pamanmu di sebelah kiri, dan bersembahyanglah bersama dia!"

Abu Thalib seorang pemimpin yang mempunyai kebijaksanaan tinggi. Ia tidak bersitegang leher mempertahankan kebekuan zaman dan tidak menghalang-halangi hadirnya masa mendatang yang lebih cemerlang. Kebijaksanaan yang tinggi itu tercermin benar dari wasiyat yang diucapkannya pada detik-detik menjelang ajalnya, ditujukan kepada orang-orang Qureiys:

"…Wahai orang-orang Qureiys. Kuwasiatkan agar kalian senantiasa mengagungkan rumah itu (Ka'bah). Sebab di sanalah tempat keridhoan Tuhan dan sekaligus juga merupakan tiang penghidupan… Eratkanlah hubungan silaturrahmi, janganlah sekali-kali kalian putuskan. Jauhilah perbuatan dzalim… Betapa banyaknya sudah generasi-generasi terdahulu hancur binasa karena dzalim...!

"Wahai orang-orang Qureiys. Sambutlah dengan baik orang yang mengajak ke jalan yang benar, dan berikanlah pertolongan kepada setiap orang yang membutuhkan... Sebab dua perbuatan terpuji itu merupakan kemuliaan bagi seseorang, selagi ia masih hidup dan sesudah mati… Hendaknya kalian selalu berkata benar dan setia menunaikan amanat…!

"Kuwasiatkan kepada kalian supaya berlaku baik terhadap Muhammad. Sebab ia orang yang paling terpercaya di kalangan Qureiys dan tidak pernah berdusta…!

"Apa yang kuwasiatkan kepada kalian, semuanya telah terhimpun padanya. Kepada kita ia datang membawa misi yang sebenarnya dapat diterima oleh hati-sanubari, tetapi diingkari dengan ujung lidah, hanya karena takut akan tidak disukai orang lain. Demi Allah, aku seakan-akan dapat melihat bahwa orang-orang Arab lapisan bawah, orang-orang yang hidup terlunta-lunta, dan orang-orang yang lemah tidak berdaya, sudah siap menyambut baik seruannya, membenarkan tutur-katanya, dan menjunjung tinggi missi yang di bawanya. Bersama mereka itulah Muhammad mengarungi ancaman gelombang maut!

"Namun aku juga seolah-olah sudah melihat, bahwa orang-orang Arab akan dengan tulus hati mengikhlaskan kecintaan mereka dan mempercayakan kepemimpinan kepadanya."

"Demi Allah, barang siapa yang mengikuti jejak langkahnya, ia pasti akan menemukan jalan yang benar. Dan barang siapa yang mengikuti petunjuk serta bimbingannya, ia pasti selamat!"

"Seandainya aku masih mempunyai sisa umur, semua rong-rongan yang mengganggu dia, pasti akan kuhentikan dan kucegah, dan ia pasti akan kuhindarkan dari tiap marabahaya yang akan menirnpanya…"

Wasiat yang gamblang itu tidak memerlukan ulasan lagi. Dari wasiyat yang diucapkan sesaat sebelum ajalnya datang, orang dapat mengambil kesimpulan sendiri, siapa sebenarnya Abu Thalib itu, bagaimana sikapnya terhadap Nabi Muhammad s.a.w. dan sejauh mana pandangan dan fikirannya terhadap Islam.

Sikap, pandangan dan fikiran yang sangat positif itulah yang memberi kesanggupan kepadanya untuk mencurahkan seluruh hidupnya melindungi pembawa da'wah yang mengajak manusia ke jalan yang benar.

Abu Thalib bukan hanya mengenal kebenaran Nabi Muhammad s.a.w., tetapi juga mengenal pribadi beliau dengan baik. Ia paman beliau, pengasuh dan pemelihara beliau sejak kanak-kanak sampai dewasa. Dalam waktu yang amat panjang, Abu Thalib menyaksikan sendiri bagaimana praktek kehidupan Nabi Muhammad s.a.w. sehari-hari. Abu Thalib rindu sekali ingin melihat hakekat kebenaran yang dibawa Nabi Muhammad s.a.w. Hatinya pedih dan kesal menyaksikan kaumnya menyia-nyiakan akal fikiran dan hidup mereka di depan tumpukan batu, yang dianggapnya sebagai sesembahan dan tuhan-tuhan.

Dengan tangguh Abu Thalib menghadapi tantangan-tantangan kafir Qureiys serta menggagalkan rencana-rencana jahat yang mereka tujukan terhadap Rasul Allah s.a.w. Ketika orang-orang kafir Qureiys sudah merasa putus asa dan tidak sanggup lagi membendung da'wah risalah Nabi Muhammad s.a.w., dan tidak berdaya lagi menggertak Abu Thalib supaya menghentikan perlindungan dan pembelaannya kepada Rasul Allah s.a.w., maka tokoh-tokoh mereka mengambil keputusan: melancarkan blokade dan pemboikotan total terhadap semua orang Bani Hasyim dan Bani Abdul Mutthalib.

Blokade dan pemboikotan total yang demikian itu adalah cara-cara yang di cela oleh tradisi dan moral bangsa Arab sendiri. Tetapi bagi kaum kafir Qureiys, itu bukan soal. Yang penting, tujuan harus tercapai. Segala cara atau jalan mereka halalkan demi tujuan.

Blokade kafir Qureiys itu ternyata lebih mendorong orang-orang Bani Hasyim dan Bani Abdul Mutthalib untuk bertambah cenderung dan berfihak kepada Abu Thalib. Orang-orang Bani Hasyim dan Bani Abdul Mutthalib berhimpun dalam sebuah Syi'ib (lembah di antara dua bukit).

Dengan semangat baja mereka hadapi kepungan ketat serta pemboikotan total di bidang ekonomi dan sosial. Selama lebih kurang 3 tahun mereka menahan penderitaan dan kelaparan. Mereka sampai terpaksa menelan dedaunan sekedar untuk mengganjel perut yang lapar. Selama masa yang penuh derita dan sengsara itu, Abu Thalib tetap tegak berdiri laksana gunung raksasa yang kokoh-kuat, tak tergoyahkan oleh gelombang badai dan tiupan angin ribut.

Dengan tegas Abu Thalib menolak setiap kompromi dan tawar-menawar yang diajukan oleh orang-orang kafir Qureiys. Penolakkannya itu diucapkan dengan bait-bait syair. Inilah di antara syair-syair tersebut :

"Sadarlah kalian, sadarlah,
sebelum banyak liang digali orang,
dan orang-orang tak bersalah diperlakukan sewenang-wenang.
Janganlah kalian ikuti perintah orang jahat tiada berakhlaq
untuk memutuskan tali persahabatan
dan persaudaraan dengan kita.
Demi Tuhan Penguasa Ka'bah,
Kami tak akan menyerahkan Muhammad ke dalam marabahaya
yang dirajut orang-orana penentang zaman,
sebelum terbedakan mana leher kami dan mana leher kalian,
dan sebelum tangan berjatuhan ditebas pedang mengkilat tajam!"


Ya… benarlah. Jika Abu Thalib sudah mempercayai suatu kebenaran, kepercayaannya itu benar-benar keras dan mantap. Sekeras dan semantap kepercayaan yang diwariskan kepada putera bungsunya, Imam Ali r.a., bahkan sampai kepada anak cucu keturunan Imam Ali r.a.!

Abu Thalib bergerak membela Nabi Muhammad s.a.w. bukan disebabkan karena beliau putera saudaranya sendiri. Abu Thalib menyingsingkan lengan baju, karena Nabi Muhammad s.a.w. seorang yang menyerukan kebenaran dan mengajak manusia ke arah kebajikan! Ia membela kebenaran dan bukan membela kekerabatan. Ia menentang dan melawan saudaranya sendiri, Abu Lahab, karena ia tahu, Abu Lahab berada di atas kebatilan.

Tentang betapa adil dan jujurnya Abu Thalib dapat pula disaksikan dari peristiwa berikut. Pada suatu hari Rasul Allah s.a.w. memberitahukan kepada Abu Thalib, bahwa naskah pemboikotan yang ditempelkan oleh orang-orang kafir Qureiys pada dinding Ka'bah sudah hancur di makan rayap, sehingga tak ada lagi bagian yang tinggal selain yang bertuliskan: "Dengan Nama Allah."

Setelah mendengar keterangan Rasul Allah s.a.w., Abu Thalib segera mendatangi sejumlah tokoh Qureiys. Kepada tokoh-tokoh kafir Qureiys itu, Abu Thalib berkata dengan lantang: "Hai orang-orang Qureiys, putera saudaraku telah memberitahu kepadaku, bahwa naskah pemboikotan yang kalian tulis dan kalian gantungkan pada Ka'bah, sekarang sudah hancur. Tengoklah naskah kalian itu! Kalau benar terjadi seperti apa yang dikatakan oleh Muhammad, hentikanlah pemboikotan kalian terhadap kami. Tetapi jika Muhammad ternyata berdusta, ia akan kuserahkan kepada kalian!"

Abu Thalib mengatakan semuanya itu hanya berdasarkan kepercayaan yang penuh kepada Nabi Muhammad s.a.w. Ia sendiri belum pernah melihat bagaimana keadaan naskah yang tergantung pada dinding Ka'bah.

Tokoh-tokoh Qureiys merasa puas dengan kesediaan Abu Thalib menyerahkan Nabi Muhammad s.a.w., bila terbukti beliau berdusta. Mereka segera pergi menuju Ka'bah untuk menengok naskah pemboikotan dan ternyata benar apa yang dikatakan Nabi Muhammad s.a.w. Tokoh-tokoh kafir Qureiys lemas, tak berdaya dan terpaksa mengumumkan penghentian pemboikotan pada hari itu juga. Aksi komplotan mereka berakhir dengan kegagalan.

Dari peristiwa tersebut Abu Thalib memperoleh pembuktian langsung dari Allah s.w.t. tentang benarnya kepercayaan yang selama ini dipertahankan dan dijaganya baik-baik. Pembuktian yang didapatnya sebagai mu'jizat Rasul Allah s.a.w. itu datang dari kekuasaan Allah dan bukan datang dari seorang famili yang harus diikuti.

Jauh sebelum kejadian di atas, orang-orang kafir Qureiys sudah berkali-kali menghimbau Abu Thalib baik dengan bujuk rayu, maupun dengan ancaman kekerasan. Orang-orang kafir Qureiys pernah mengancam Abu Thalib dengan kata-kata:

"Hai Abu Thalib, engkau orang yang sudah lanjut usia, terhormat dan mempunyai kedudukan terpandang… Kami telah berkali-kali meminta kepadamu supaya engkau melarang putera saudaramu terus menerus berda'wah, tetapi engkau tidak mau melarangnya… Kami tidak dapat lagi menahan kesabaran mendengar orangtua kami dicerca, tuhan-tuhan kami dicela, dan orang-orang arif kami dijelek-jelekkan... Silakan engkau pilih… Apakah engkau bersedia mencegah Muhammad supaya tidak terus menerus menyerang kami, atau, kamilah yang akan bertindak memerangi dia, termasuk engkau sekaligus, sampai salah satu fihak binasa…"

Mendengar ancaman itu, Abu Thalib bukannya menjadi mundur dalam membela kebenaran Nabi Muhammad s.a.w., malahan justru bertambah teguh pendiriannya, semakin tinggi semangatnya dan merasa lebih mampu memberikan tamparan keras terhadap muka orang Qureiys yang sudah semakin nekad. Melalui syairnya dengan tegas Abu Thalib menjawab:

"Aku tahu bahwa agama Muhammad, agama terbaik bagi segenap manusia. Demi Allah, hai Muhammad, mereka tak akan dapat menyentuhmu, sebelum aku terkapar berkalang tanah."

Pada suatu hari Abu Thalib sedang duduk santai di rumah. Tiba-tiba datang Rasul Allah s.a.w. kelihatan sedih dan kesal. Setelah duduk, Rasul Allah s.a.w. segera menyampaikan persoalannya. Mendengar keterangan beliau, Abu Thalib segera mengerti, bahwa orang-orang kafir Qureiys telah berhasil membujuk salah seorang yang berperangai jahat di kalangan mereka melemparkan kotoran ternak dan gumpalan darah beku ke atas kepala Rasul Allah s.a.w. Pelemparan itu dilakukan, di saat Nabi Muhammad s.a.w. sedang sujud bermunajat ke hadirat Allah s.w.t.

Dengan tidak menunggu waktu lagi Abu Thalib bangkit. Dengan tangan kanan membawa pedang terhunus dan tangan kiri menggandeng Nabi Muhammad s.a.w., ia berangkat mendatangi gerombolan Qureiys yang telah mengganggu Nabi Muhammad s.a.w. Setiba di depan gerombolan itu, Abu Thalib berhenti sejenak. Diperhatikannya gerak-gerik gerombolan itu. Seorang demi seorang mereka mundur. Rupanya di luar perkiraan mereka, bahwa Nabi Muhammad s.a.w. akan datang kembali bersama pamannya.

Abu Thalib terus berteriak kepada gerombolan itu: "Demi Allah, yang Muhammad beriman kepada-Nya. Jika ada seorang dari kalian yang berani melawan, akan kupersingkat umurnya dengan pedang ini!"

Setelah itu Abu Thalib dengan tangannya sendiri membersihkan tubuh Nabi Muhammd s.a.w. dari kotoran ternak dan darah. Semua kotoran itu dikumpulkan, digenggam, lalu dilemparkan ke wajah orang-orang Qureiys yang sedang siap hendak lari. Di hadapan Abu Thalib kelihatan sekali kekerdilan gerombolan itu.

Dalam membela dan melindungi Rasul Allah s.a.w. dari marabahaya keteguhan Abu Thalib dapat diandalkan benar. Keteguhannya itu tercermin juga dari syair-syair yang diucapkannya sendiri:

Janganlah kalian sulut api pengobar perang,
Yang akibat-pahitnya akan ditelan semua orang!
Demi Allah, Muhammad tak nanti 'kan kuserahkan
Kepada tangan pencetus bencana mengerikan.
Kenalkah kalian siapa Hasyim,
Ksatria yang pernah berpesan,
Agar kami berani berperang dengan semangat jantan?
Kami bukan pejuang-pejuang yang jemu perang,
Tak'kan kami sesali yang gugur di medan juang!
Kubela Rasul, utusan Penguasa Maha Kuasa,
Pembawa amanat berkilauan laksana kilat bercahaya,
Kubela dan kulindungi utusan Tuhan Ilahi,
Karena ia manusia kesayanganku sendiri,
Kulindungi ia dari serangan musuh-musuhnya,
Laksana gadis kulindungi dari gangguan pria!
Hai Abu Ya'la,
Teguh dan sabarlah dalam agama Muhammad,
Nyatakan dirimu terang-terangan sebagai muslim yang mantap,
Bulatkan tekad mendampingi pembawa kebenaran Tuhan,
Betapa riang hatiku mendengar engkau beriman,
Janganlah engkau menjadi kafir tidak bertuhan,
Jadikan dirimu pembela Rasul dan pembela Tuhan,
Tunjukkan agamamu di mata Qureiys terang-terangan,
Katakanlah: Muhammad bukan si tukang sihir!


Datukanda
Pada waktu jemaah haji berjubel tiap tahun di sekitar sumur Zamzam, tentu mereka teringat kepada nama seorang terhormat yang dikagumi rakyatnya. Nama seorang yang dengan tangan dan keringat sendiri menggali sumur itu hingga airnya memancar, setelah sekian abad lamanya tertutup. Sumur Zamzam tak dapat dipisahkan dari nama Abdul Mutthalib.

Pada satu malam, di kala Abdul Mutthalib sedang tidur, jiwanya yang putih bersih menyongsong suara orang berseru: "Galilah Thaibah!" Abdul Mutthalib terjaga. Ia tak mengerti takwil mimpinya. Pada malam berikutnya orang yang bersuara itu muncul kembali dalam mimpi. "Galilah barrah!".

Abdul Mutthalib terbangun. Ia masih tak dapat memahami apa yang harus dilakukan. Pada malam ketiga, sekali lagi ia mendengar suara itu di dalam mimpi: "Galilah Zamzam!" Abdul Mutthalib bertanya: "Apakah arti Zamzam?" orang yang berseru itu menjelaskan: "Ia tidak kunjung kering dan tak berkurang airnya, sanggup memberi minum kepada jemaah haji betapa pun besar jumlahnya!" Kemudian ditunjukkan tempatnya.

Pagi-pagi buta, dengan disertai puteranya, Al Harits, ia berangkat menuju letak sumur yang ditunjuk dalam mimpi. Bersama puteranya ia bekerja menggali. Tak lama kemudian memancar air dari sumber yang abadi. Sebenarnya tempat itu dahulunya merupakan sumur. Hanya dalam kurun waktu yang panjang telah tertimbun oleh batu-batu besar dan pasir. Dahulu kala sumur itu merupakan kurnia Allah s.w.t. kepada Nabi Isma'il a.s. bersama bundanya.

Abdul Mutthalib atau Syaibah (nama aslinya) adalah seorang yang mempunyai type cemerlang. Sukar ditemukan bandingannya. Keharuman namanya menjadi buah bibir orang di segenap penjuru gurun sahara Semenanjung Arabia. Karena banyak pekerjaan terpuji yang dilakukannya, sehingga ia disebut dengan nama panggilan "Syaibatul Hamd". Bahkan banyak yang menyebutnya sebagai "Pemberi makan manusia di dataran dan pengumpan margasatwa di pegunungan!"

Abdul Mutthalib seorang yang memiliki kebijaksanaan yang luas dan iman yang dalam. Hal ini tercermin dengan jelas, tatkala Abrahah datang ke Makkah membawa pasukan yang luar biasa besarnya guna menghancurkan Ka'bah. Setelah Abdul Mutthalib mengetahui bahwa kaumnya tidak sanggup menghadapi pasukan penyerbu, maka diperintahkan supaya masing-masing pergi mengungsi ke daerah-daerah pegunungan. Tinggalkan kota Makkah sebagai kota kosong. Anak dan isteri serta hak miliknya masing-masing supaya dibawa. Mengenai keselamatan Ka'bah diserahkan kepada Pemilik rumah suci itu.

Pada suatu hari, Abdul Mutthalib pergi menemui Abrahah. Ketika Abdul Mutthalib ditanya oleh Abrahah tentang maksud kedatangannya, Abdul Mutthalib dengan tegas menjawab: "Aku datang kepada tuan untuk meminta kembali unta-untaku yang tuan ambil."

Abrahah menyatakan keheranannya karena Abdul Mutthalib sebagai penguasa Makkah tidak memikirkan Ka'bah yang akan dihancurkannya itu, tetapi hanya memikirkan unta-untanya saja.

Guna menghilangkan keheranan Raja Yaman itu, Abdul Mutthalib dengan jelas mengatakan, bahwa unta-unta yang kalian ambil adalah milikku, sedang Ka'bah yang hendak dihancurkan itu mempunyai pemiliknya sendiri yang akan melindungi keselamatannya.

Itulah pendirian seorang yang benar-benar berketuhanan. Seorang yang hidup di tengah-tengah gelombang penyembahan berhala. Jiwa dan hati nuraninya dikuasai sepenuhnya oleh perasaan halus yang tersembunyi, yang mengakui dengan haqqul yakin, bahwa di sana terdapat Tuhan Yang Maha Mulia, Maha Agung dan Maha Kuasa.

Kemurnian iman Abdul Mutthalib tampak jelas sekali. Walaupun ia tahu, bahwa di sekitar Ka'bah bercokol 300 buah lebih berhala, tidak kepada sebuah berhala pun ia meminta pertolongan guna menyelamatkan Ka'bah. Ia tidak meminta kepada si Hubal, tidak kepada Laat dan tidak pula kepada si Uzza! Meskipun tidak ada jarak pemisah antara berhala-berhala itu dengan Ka'bah, Abdul Mutthalib sama sekali tidak sudi meminta sesuatu kepada patung sembahan jahiliyah itu!

Tidak lain ia hanya memohon kepada Allah, tunduk dan khusuk kepada-Nya, serta hanya mau berlindung kepada Yang Maha Agung dan Maha Tinggi, sesuai dengan isyarat yang diberikan oleh perasaan halus yang tersembunyi di dalam hati nuraninya: "Ya Tuhan, tiap orang mempertahankan rumahnya, oleh karena itu pertahankanlah Rumah-Mu!" Alangkah sederhana dan mantapnya doa seperti itu.

Doa Abdul Mutthalib ternyata bukan seperti melempar batu ke lubuk. Pukulan yang mematikan dialami oleh balatentara Abrahah. Dengan suatu "pasukan" yang paling lemah berupa burung-burung Ababil, Allah s.w.t. menghancurkan mereka. Burung-burung menyebarkan maut di kalangan balatentara Abrahah. Bangkai mereka bergelimpangan menjadi cerita sejarah.

Sifat pasrah diri Abdul Mutthalib kepada Allah seperti di atas seakan-akan kekanak-kanakan. Sungguh tidaklah demikian. Pasrah diri Abdul Mutthalib bukan pasrah diri orang yang sama sekali tak berdaya, melainkan karena keyakinan imannya, bahwa di sana ada Allah Maha Kuasa, Tuhan yang senantiasa berada di belakang setiap gerak dan perbuatan. Abdul Mutthalib yakin, sesuatu yang tak dapat dilaksanakan dengan kekuatan kebajikan yang ada pada manusia akan ditentukan persoalannya oleh Dia sendiri Yang Maha Kuasa. Sungguh, suatu kepasrahan yang sangat polos, indah dan murni.

Melalui Abdul Mutthalib Allah s.w.t. melimpahkan kemudahan dan keberkahan kepada penduduk Makkah. Lebih dari satu kali langit dan udara Makkah sedemikian gersangnya. Tidak setetes air hujan pun yang turun membasahi bumi. Hampir saja penduduk mati kekeringan dan dilanda paceklik amat berat. Pada saat yang berat itu, penduduk mendatangi Abdul Mutthalib. Abdul Mutthalib mengajak mereka berbondong-bondong menuju sebuah puncak bukit. Di puncak bukit itulah dengan khusyu' Abdul Mutthalib berdoa: "Ya Tuhan, mereka itu adalah hamba-hamba-Mu. Engkau mengetahui apa yang sedang menimpa kami semua. Oleh karena itu jauhkanlah kegersangan dari kami, turunkanlah hujan membawa rahmat dan berkah, menumbuhkan tetanaman, memberi kehidupan dan penghidupan."

Iman Abdul Mutthalib kelihatannya memang lain dari yang yang lain. Iman seorang yang hidup di masa penyembahan berhala masih menjadi agama peribadatan di mana-mana. Namun Abdul Mutthalib mengenal Allah melalui setiap nikmat yang terlimpah kepadanya dan dari tiap langkah yang berhasil ditempuhnya.

Ketika ia mendengar kelahiran cucunya, Nabi Muhammad s.a.w., segera diemban dan dibawa masuk ke dalam Ka'bah. Disana ia memanjatkan puji syukur dalam bentuk syair:

"Puji syukur bagi Allah yang mengaruniakan kepadaku,
seorang anak yang baik susunan bentuknya ini,
selagi dalam buaian ia mengungguli anak yang lain.
Ia kulindungkan pada Tuhan Maha Perkasa
sampai kusaksikan masa dewasanya."


Abdul Mutthalib ditunjukkan oleh penglihatan batinnya sendiri, sehingga dapat mengetahui bahwa anak yang baru lahir itu akan memainkan peranan besar di kemudian hari. Oleh karena itu ia mencintai Nabi Muhammad s.a.w. melebihi kecintaan yang diberikannya kepada siapapun.

Tiap kali Abdul Mutthalib bertemu dengan Abu Thalib, tangan puteranya itu selalu ditarik, kemudian dilekatkan pada tangan cucunya, Nabi Muhammad s.a.w., sambil berkata: "Hai Abu Thalib, di kemudian hari anak ini akan mempunyai kedudukan, oleh karena itu jagalah dia baik-baik. Jangan kaubiarkan ada sesuatu yang tidak baik menyentuhnya!"

Amanat ayahnya dipenuhi dengan baik oleh Abu Thalib. Ia jaga dan pelihara putera saudaranya itu sebagaimana mestinya. Ia mengasuh anak itu sesuai dengan kematangan berfikirnya, ketinggian martabat keturunannya dan kebesaran sifat keutamaannya.

Abdul Mutthalib adalah datukanda Nabi Muhammd s.a.w., juga datukanda Imam Ali r.a.

Setelah keluarga besar itu ditinggal wafat oleh Abdul Mutthalib dan Abu Thalib, Imam Ali r.a. sebagai cucu Abdul Mutthalib dan putera Abu Thalib mewarisi budi pekerti luhur dan kebesaran jiwa yang sukar ditemukan bandingannya. Ia benar-benar mewarisi dua hal sekaligus: akhlaq utama dan darah mulia.


Bab III : Rumah Tangga Serasi
Lahirnya Sitti Fatimah Azzahra r.a. merupakan rahmat yang dilimpahkan llahi kepada Nabi Muhammad s.a.w. Ia telah menjadi wadah suatu keturunan yang suci. Ia laksana benih yang akan menumbuhkan pohon besar pelanjut keturunan Rasul Allah s.a.w. Ia satu-satunya yang menjadi sumber keturunan paling mulia yang dikenal umat Islam di seluruh dunia. Sitti Fatimah Azzahra r.a. dilahirkan di Makkah, pada hari Jumaat, 20 Jumadil Akhir, kurang lebih lima tahun sebelum bi'tsah.

Sitti Fatimah Azzahra r.a. tumbuh dan berkembang di bawah naungan wahyu Ilahi, di tengah kancah pertarungan sengit antara Islam dan Jahiliyah, di kala sedang gencar-gencarnya perjuangan para perintis iman melawan penyembah berhala.

Dalam keadaan masih kanak-kanak Sitti Fatimah Azzahra r.a. sudah harus mengalami penderitaan, merasakan kehausan dan kelaparan. Ia berkenalan dengan pahit getirnya perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan. Lebih dari tiga tahun ia bersama ayah bundanya hidup menderita di dalam Syi'ib, akibat pemboikotan orang-orang kafir Qureiys terhadap keluarga Bani Hasyim.

Setelah bebas dari penderitaan jasmaniah selama di Syi'ib, datang pula pukulan batin atas diri Sitti Fatimah Azzahra r.a., berupa wafatnya bunda tercinta, Sitti Khadijah r.a. Kabut sedih selalu menutupi kecerahan hidup sehari-hari dengan putusnya sumber kecintaan dan kasih sayang ibu.

Puteri Kesayangan seorang  Nabiullah
Rasul Allah s.a.w. sangat mencintai puterinya ini. Sitti Fatimah Azzahra r.a. adalah puteri bungsu yang paling disayang dan dikasihani junjungan kita Rasul Allah s.a.w. Nabi Muhammad s.a.w. merasa tak ada seorang pun di dunia yang paling berkenan di hati beliau dan yang paling dekat disisinya selain puteri bungsunya itu.

Demikian besar rasa cinta Rasul Allah s.a.w. kepada puteri bungsunya itu dibuktikan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas. Menurut hadits tersebut Rasul Allah s.a.w. berkata kepada Imam Ali r.a. demikian:

"Wahai Ali! Sesungguhnya Fatimah adalah bagian dari aku. Dia adalah cahaya mataku dan buah hatiku. Barang siapa menyusahkan dia, ia menyusahkan aku dan siapa yang menyenangkan dia, ia menyenangkan aku…"

Pernyataan beliau itu bukan sekedar cetusan emosi, melainkan suatu penegasan bagi umatnya, bahwa puteri beliau itu merupakan lambang keagungan abadi yang ditinggalkan di tengah ummatnya.

Di kala masih kanak-kanak Sitti Fatimah Azzahra r.a. menyaksikan sendiri cobaan yang dialami oleh ayah-bundanya, baik berupa gangguan-gangguan, maupun penganiayaan-penganiayaan yang dilakukan orang-orang kafir Qureiys. Ia hidup di udara Makkah yang penuh dengan debu perlawanan orang-orang kafir terhadap keluarga Nubuwaah, keluarga yang menjadi pusat iman, hidayah dan keutamaan. Ia menyaksikan ketangguhan dan ketegasan orang-orang mukminin dalam perjuangan gagah berani menanggulangi komplotan-komplotan Qureiys. Suasana perjuangan itu membekas sedalam-dalamnya pada jiwa Sitti Fatimah Azzahra r.a. dan memainkan peranan penting dalam pembentukan pribadinya, serta mempersiapkan kekuatan mental guna menghadapi kesukaran-kesukaran di masa depan.

Setelah ibunya wafat, Sitti Fatimah Azzahra r.a. hidup bersama ayahandanya. Satu-satunya orang yang paling dicintai. Ialah yang meringankan penderitaan Rasul Allah s.a.w. tatkala ditinggal wafat isteri beliau, Sitti Khadijah. Pada satu hari Sitti Fatimah Azzahra r.a. menyaksikan ayahnya pulang dengan kepala dan tubuh penuh pasir, yang baru saja dilemparkan oleh orang-orang Qureys, di saat ayahandanya itu sedang sujud. Dengan hati remuk-redam laksana disayat sembilu, Sitti Fatimah r.a. segera membersihkan kepala dan tubuh ayahandanya. Kemudian diambilnya air guna mencucinya. Ia menangis tersedu-sedu menyaksikan kekejaman orang-orang Qureisy terhadap ayahnya.

Kesedihan hati puterinya itu dirasakan benar oleh Nabi Muhammad s.a.w. Guna menguatkan hati puterinya dan meringankan rasa sedihnya, maka Nabi Muhammad s.a.w., sambil membelai-belai kepala puteri bungsunya itu, berkata: "Jangan menangis..., Allah melindungi ayahmu dan akan memenangkannya dari musuh-musuh agama dan risalah-Nya"

Dengan tutur kata penuh semangat itu, Rasul Allah s.a.w. menanamkan daya-juang tinggi ke dalam jiwa Sitti Fatimah r.a., dan sekaligus mengisinya dengan kesabaran, ketabahan serta kepercayaan akan kemenangan akhir. Meskipun orang-orang sesat dan durhaka seperti kafir Qureiys itu senantiasa mengganggu dan melakukan penganiayaan-penganiayaan, namun Nabi Muhammad s:a.w. tetap melaksanakan tugas risalahnya.

Pada ketika lain lagi, Sitti Fatimah r.a. menyaksikan ayahandanya pulang dengan tubuh penuh dengan kotoran kulit janin unta yang baru dilahirkan. Yang melemparkan kotoran atau najis ke punggung Rasul Allah s.a.w. itu Uqbah bin Mu'aith, Ubaiy bin Khalaf dan Umayyah bin Khalaf. Melihat ayahandanya berlumuran najis, Sitti Fatimah r.a. segera membersihkannya dengan air sambil menangis.

Nabi Muhammad rupanya menganggap perbuatan ketiga kafir Qureiys ini sudah keterlaluan. Karena itulah maka pada waktu itu beliau memanjatkan doa kehadirat Allah s.w.t.: "Ya Allah celakakanlah orang-orang Qureiys itu. Ya Allah, binasakanlah 'Uqbah bin Mu'aith. Ya Allah binasakanlah Ubay bin Khalaf dan Umayyah bin Khalaf"

Masih banyak lagi pelajaran yang diperoleh Sitti Fatimah dari penderitaan ayahandanya dalam perjuangan menegakkan kebenaran Allah. Semuanya itu menjadi bekal hidup baginya untuk menghadapi masa mendatang yang berat dan penuh cobaan. Kehidupan yang serba berat dan keras di kemudian hari memang memerlukan mental gemblengan.

Hijrah Madinah
Tepat pada saat orang-orang kafir Qureiys selesai mempersiapkan komplotan terror untuk membunuh Rasul Allah s.a.w., Madinah telah siap menerima kedatangan beliau. Nabi Muhammad meninggalkan kota Makkah secara diam-diam di tengah kegelapan malam. Beliau bersama Abu Bakar Ash Shiddiq meninggalkan kampung halaman, keluarga tercinta dan sanak famili. Beliau berhijrah, seperti dahulu pernah juga dilakukan Nabi Ibrahim as. dan Musa a.s.

Di antara orang-orang yang ditinggalkan Nabi Muhammad s.a.w. termasuk puteri kesayangan beliau, Sitti Fatimah r.a. dan putera paman beliau yang diasuh dengan kasih sayang sejak kecil, yaitu Imam Ali r.a. yang selama ini menjadi pembantu terpercaya beliau.

Imam Ali r.a. sengaja ditinggalkan oleh Nabi Muhammad untuk melaksanakan tugas khusus: berbaring di tempat tidur beliau, guna mengelabui mata komplotan Qureiys yang siap hendak membunuh beliau. Sebelum Imam Ali r.a. melaksanakan tugas tersebut, ia dipesan oleh Nabi Muhammad s.a.w. agar barang-barang amanat yang ada pada beliau dikembalikan kepada pemiliknya masing-masing. Setelah itu bersama semua anggota keluarga Rasul Allah s.a.w., segera menyusul berhijrah.

Imam Ali r.a. membeli seekor unta untuk kendaraan bagi wanita yang akan berangkat hijrah bersama-sama. Rombongan hijrah yang menyusul perjalanan Rasul Allah s.a.w. terdiri dari keluarga Bani Hasyim dan dipimpin sendiri oleh Imam Ali r.a. Di dalam rombongan Imam Ali r.a. ini termasuk Sitti Fatimah r.a., Fatimah binti Asad bin Hasyim (ibu Imam Ali r.a.), Fatimah binti Zubair bin Abdul Mutthalib dan Fatimah binti Hamzah bin Abdul Mutthalib. Aiman dan Abu Waqid Al Laitsiy, ikut bergabung dalam rombongan.

Rombongan Imam Ali r.a. berangkat dalam keadaan terburu-buru. Perjalanan ini tidak dilakukan secara diam-diam. Abu Waqid berjalan cepat-cepat menuntun unta yang dikendarai para wanita, agar jangan terkejar oleh orang-orang kafir Qureiys. Mengetahui hal itu, Imam Ali r.a. segera memperingatkan Abu Waqid, supaya berjalan perlahan-lahan, karena semua penumpangnya wanita. Rombongan berjalan melewati padang pasir di bawah sengatan terik matahari.

Imam Ali r.a., sebagai pemimpin rombongan, berangkat dengan semangat yang tinggi. Beliau siap menghadapi segala kemungkinan yang bakal dilakukan orang-orang kafir Qureiys terhadap rombongan. Ia bertekad hendak mematahkan moril dan kecongkakan mereka. Untuk itu ia siap berlawan tiap saat.

Mendengar rombongan Imam Ali r.a. berangkat, orang-orang Qureiys sangat penasaran. Lebih-lebih karena rombongan Imam Ali r.a. berani meninggalkan Makkah secara terang-terangan di siang hari. Orang-orang Qureiys menganggap bahwa keberanian Imam Ali r.a. yang semacam itu sebagai tantangan terhadap mereka.

Orang-orang Qureiys cepat-cepat mengirim delapan orang anggota pasukan berkuda untuk mengejar Imam Ali r.a. dan rombongan. Pasukan itu ditugaskan menangkapnya hidup-hidup atau mati. Delapan orang Qureiys itu, di sebuah tempat bernama Dhajnan berhasil mendekati rombongan Imam Ali r.a.

Setelah Imam Ali r.a. mengetahui datangnya pasukan berkuda Qureiys, ia segera memerintahkan dua orang lelaki anggota rombongan agar menjauhkan unta dan menambatnya. Ia sendiri kemudian menghampiri para wanita guna membantu menurunkan mereka dari punggung unta. Seterusnya ia maju seorang diri menghadapi gerombolan Qureisy dengan pedang terhunus. Rupanya Imam Ali r.a. hendak berbicara dengan bahasa yang dimengerti oleh mereka. Ia tahu benar bagaimana cara menundukkan mereka.

Melihat Imam Ali r.a. mendekati mereka, gerombolan Qureiys itu berteriak-teriak menusuk perasaan: "Hai penipu, apakah kaukira akan dapat menyelamatkan perempuan-perempuan itu? Ayo, kembali! Engkau sudah tidak berayah lagi."

Imam Ali r.a. dengan tenang menanggapi teriakan-teriakan gerombolan Qureiys itu. Ia bertanya: "Kalau aku tidak mau berbuat itu...?"

"Mau tidak mau engkau harus kembali," sahut gerombolan Qureiys dengan cepat.

Mereka lalu berusaha mendekati unta dan rombongan wanita. Imam Ali r.a. menghalangi usaha mereka. Jenah, seorang hamba sahaya milik Harb bin Umayyah, mencoba hendak memukul Imam Ali r.a. dari atas kuda. Akan tetapi belum sempat ayunan pedangnya sampai, hantaman pedang Imam Ali r.a. telah mendahului tiba di atas bahunya. Tubuhnya terbelah menjadi dua, sehingga pedang Imam Ali r.a. sampai menancap pada punggung kuda. Serangan-balas secepat kilat itu sangat menggetarkan teman-teman Jenah. Sambil menggeretakkan gigi, Imam Ali r.a. berkata: "Lepaskan orang-orang yang hendak berangkat berjuang! Aku tidak akan kembali dan aku tidak akan menyembah selain Allah Yang Maha Kuasa!"

Gerombolan Qureiys mundur. Mereka meminta kepada Imam Ali r.a. untuk menyarungkan kembali pedangnya. Imam Ali r.a. dengan tegas menjawab: "Aku hendak berangkat menyusul saudaraku, putera pamanku, Rasul Allah. Siapa yang ingin kurobek-robek dagingnya dan kutumpahkan darahnya, cobalah maju mendekati aku!"

Tanpa memberi jawaban lagi gerombolan Qureiys itu segera meninggalkan tempat. Kejadian ini mencerminkan watak konfrontasi bersenjata yang bakal datang antara kaum muslimin melawan agresi kafir Qureiys.

Di Dhajnan, rombongan Imam Ali r.a. beristirahat semalam. Ketika itu tiba pula Ummu Aiman (ibu Aiman). Ia menyusul anaknya yang telah berangkat lebih dahulu bersama Imam Ali r.a. Bersama Ummu Aiman turut pula sejumlah orang muslimin yang berangkat hijrah. Keesokan harinya rombongan Imam Ali r.a. beserta rombongan Ummu Aiman melanjutkan perjalanan. Imam Ali r.a. sudah rindu sekali ingin segera bertemu dengan Rasul Allah s.a.w.

Waktu itu Rasul Allah s.a.w. bersama Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. sudah tiba dekat kota Madinah. Untuk beberapa waktu, beliau tinggal di Quba. Beliau menantikan kedatangan rombongan Imam Ali r.a. Kepada Abu Bakar Ash Shiddiq, Rasul Allah s.a.w. memberitahu, bahwa beliau tidak akan memasuki kota Madinah, sebelum putera pamannya dan puterinya sendiri datang.

Selama dalam perjalanan itu Imam Ali r.a. tidak berkendaraan sama sekali. Ia berjalan kaki-telanjang menempuh jarak kl 450 km sehingga kakinya pecah-pecah dan membengkak. Akhirnya tibalah semua anggota rombongan dengan selamat di Quba. Betapa gembiranya Rasul Allah s.a.w. menyambut kedatangan orang-orang yang disayanginya itu.

Ketika Nabi Muhammad s.a.w. melihat Imam Ali r.a. tidak sanggup berjalan lagi karena kakinya membengkak, beliau merangkul dan memeluknya seraya menangis karena sangat terharu. Beliau kemudian meludah di atas telapak tangan, lalu diusapkan pada kaki Imam Ali r.a. Konon sejak saat itu sampai wafatnya, Imam Ali r.a. tidak pernah mengeluh karena sakit kaki.

Peristiwa yang sangat mengharukan itu berkesan sekali dalam hati Rasul Allah s.a.w. dan tak terlupakan selama-lamanya. Berhubung dengan peristiwa itu, turunlah wahyu Ilahi yang memberi penilaian tinggi kepada kaum Muhajirin, seperti terdapat dalam Surah Ali 'Imran:195.

Ijab-Kabul Pernikahan
Sitti Fatimah Azzahra r.a. mencapai puncak keremajaannya dan kecantikannya pada saat risalah yang dibawakan Nabi Muhammad s.a.w. sudah maju dengan pesat di Madinah dan sekitarnya. Ketika itu Sitti Fatimah Azzahra r.a. benar-benar telah menjadi remaja puteri.

Keelokan parasnya banyak menarik perhatian. Tidak sedikit pria terhormat yang menggantungkan harapan ingin mempersunting puteri Rasul Allah s.a.w. itu. Beberapa orang terkemuka dari kaum Muhajirin dan Anshar telah berusaha melamarnya. Menanggapi lamaran itu, Nabi Muhammad s.a.w. mengemukakan, bahwa beliau sedang menantikan datangnya petunjuk dari Allah s.w.t. mengenai puterinya itu.

Pada suatu hari Abu Bakar Ash Shiddiq r.a., Umar Ibnul Khatab r.a. dan Sa'ad bin Mu'adz bersama-sama Rasul Allah s.a.w. duduk dalam mesjid beliau. Pada kesempatan itu diperbincangkan antara lain persoalan puteri Rasul Allah s.a.w. Saat itu beliau bertanya kepada Abu Bakar Ash Shiddiq r.a.: "Apakah engkau bersedia menyampaikan persoalan Fatimah itu kepada Ali bin Abi Thalib?"

Abu Bakar Ash Shiddiq menyatakan kesediaanya. Ia beranjak untuk menghubungi Imam Ali r.a. Sewaktu Imam Ali r.a. melihat datangnya Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. dengan tergopoh-gopoh dan terperanjat ia menyambutnya, kemudian bertanya: "Anda datang membawa berita apa?"

Setelah duduk beristirahat sejenak, Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. segera menjelaskan persoalannya: "Hai Ali, engkau adalah orang pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta mempunyai keutamaan lebih dibanding dengan orang lain. Semua sifat utama ada pada dirimu. Demikian pula engkau adalah kerabat Rasul Allah s.a.w. Beberapa orang sahabat terkemuka telah menyampaikan lamaran kepada beliau untuk dapat mempersunting puteri beliau. Lamaran itu oleh beliau semuanya ditolak. Beliau mengemukakan, bahwa persoalan puterinya diserahkan kepada Allah s.w.t. Akan tetapi, hai Ali, apa sebab hingga sekarang engkau belum pernah menyebut-nyebut puteri beliau itu dan mengapa engkau tidak melamar untuk dirimu sendiri? Kuharap semoga Allah dan Rasul-Nya akan menahan puteri itu untukmu."

Mendengar perkataan Abu Bakar r.a. mata Imam Ali r.a. berlinang-linang. Menanggapi kata-kata itu, Imam Ali r.a. berkata: "Hai Abu Bakar, anda telah membuat hatiku goncang yang semulanya tenang. Anda telah mengingatkan sesuatu yang sudah kulupakan. Demi Allah, aku memang menghendaki Fatimah, tetapi yang menjadi penghalang satu-satunya bagiku ialah karena aku tidak mempunyai apa-apa."

Abu Bakar r.a. terharu mendengar jawaban Imam Ali yang memelas itu. Untuk membesarkan dan menguatkan hati Imam Ali r.a., Abu Bakar r.a. berkata: "Hai Ali, janganlah engkau berkata seperti itu. Bagi Allah dan Rasul-Nya dunia dan seisinya ini hanyalah ibarat debu bertaburan belaka!"

Setelah berlangsung dialog seperlunya, Abu Bakar r.a. berhasil mendorong keberanian Imam Ali r.a. untuk melamar puteri Rasul Allah s.a.w.

Beberapa waktu kemudian, Imam Ali r.a. datang menghadap Rasul Allah s.a.w. yang ketika itu sedang berada di tempat kediaman Ummu Salmah. Mendengar pintu diketuk orang, Ummu Salmah bertanya kepada Rasul Allah s.a.w.: "Siapakah yang mengetuk pintu?" Rasul Allah s.a.w. menjawab: "Bangunlah dan bukakan pintu baginya. Dia orang yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, dan ia pun mencintai Allah dan Rasul-Nya!"

Jawaban Nabi Muhammad s.a.w. itu belum memuaskan Ummu Salmah r.a. Ia bertanya lagi: "Ya, tetapi siapakah dia itu?"

"Dia saudaraku, orang kesayanganku!" jawab Nabi Muhammad s.a.w.

Tercantum dalam banyak riwayat, bahwa Ummu Salmah di kemudian hari mengisahkan pengalamannya sendiri mengenai kunjungan Imam Ali r.a. kepada Nabi Muhammad s.a.w. itu: "Aku berdiri cepat-cepat menuju ke pintu, sampai kakiku terantuk-antuk. Setelah pintu kubuka, ternyata orang yang datang itu ialah Ali bin Abi Thalib. Aku lalu kembali ke tempat semula. Ia masuk, kemudian mengucapkan salam dan dijawab oleh Rasul Allah s.a.w. Ia dipersilakan duduk di depan beliau. Ali bin Abi Thalib menundukkan kepala, seolah-olah mempunyai maksud, tetapi malu hendak mengutarakannya.

Rasul Allah mendahului berkata: "Hai Ali nampaknya engkau mempunyai suatu keperluan. Katakanlah apa yang ada dalam fikiranmu. Apa saja yang engkau perlukan, akan kauperoleh dariku!"

Mendengar kata-kata Rasul Allah s.a.w. yang demikian itu, lahirlah keberanian Ali bin Abi Thalib untuk berkata: "Maafkanlah, ya Rasul Allah. Anda tentu ingat bahwa anda telah mengambil aku dari paman anda, Abu Thalib dan bibi anda, Fatimah binti Asad, di kala aku masih kanak-kanak dan belum mengerti apa-apa.

Sesungguhnya Allah telah memberi hidayat kepadaku melalui anda juga. Dan anda, ya Rasul Allah, adalah tempat aku bernaung dan anda jugalah yang menjadi wasilahku di dunia dan akhirat. Setelah Allah membesarkan diriku dan sekarang menjadi dewasa, aku ingin berumah tangga; hidup bersama seorang isteri. Sekarang aku datang menghadap untuk melamar puteri anda, Fatimah. Ya Rasul Allah, apakah anda berkenan menyetujui dan menikahkan diriku dengan dia?"

Ummu Salmah melanjutkan kisahnya: "Saat itu kulihat wajah Rasul Allah nampak berseri-seri. Sambil tersenyum beliau berkata kepada Ali bin Abi Thalib: "Hai Ali, apakah engkau mempunyai suatu bekal maskawin?'' .

"Demi Allah", jawab Ali bin Abi Thalib dengan terus terang, "Anda sendiri mengetahui bagaimana keadaanku, tak ada sesuatu tentang diriku yang tidak anda ketahui. Aku tidak mempunyai apa-apa selain sebuah baju besi, sebilah pedang dan seekor unta."

"Tentang pedangmu itu," kata Rasul Allah s.a.w. menanggapi jawaban Ali bin Abi Thalib, "engkau tetap membutuhkannya untuk melanjutkan perjuangan di jalan Allah. Dan untamu itu engkau juga butuh untuk keperluan mengambil air bagi keluargamu dan juga engkau memerlukannya dalam perjalanan jauh. Oleh karena itu aku hendak menikahkan engkau hanya atas dasar maskawin sebuah baju besi saja. Aku puas menerima barang itu dari tanganmu. Hai Ali engkau wajib bergembira, sebab Allah 'Azza wajalla sebenarnya sudah lebih dahulu menikahkan engkau di langit sebelum aku menikahkan engkau di bumi!" Demikian versi riwayat yang diceritakan Ummu Salmah r.a.

Setelah segala-galanya siap, dengan perasaan puas dan hati gembira, dengan disaksikan oleh para sahabat, Rasul Allah s.a.w. mengucapkan kata-kata ijab kabul pernikahan puterinya: "Bahwasanya Allah s.w.t. memerintahkan aku supaya menikahkan engkau Fatimah atas dasar maskawin 400 dirham (nilai sebuah baju besi). Mudah-mudahan engkau dapat menerima hal itu."

"Ya, Rasul Allah, itu kuterima dengan baik", jawab Ali bin Abi Thalib r.a. dalam pernikahan itu.

Rumah Tangga Sederhana
Maskawin sebesar 400 dirham itu diserahkan kepada Abu Bakar r.a. untuk diatur penggunaannya. Dengan persetujuan Rasul Allah s.a.w., Abu Bakar r.a. menyerahkan 66 dirham kepada Ummu Salmah untuk "biaya pesta" perkawinan. Sisa uang itu dipergunakan untuk membeli perkakas dan peralatan rumah tangga.

-sehelai baju kasar perempuan;
-sehelai kudung;
-selembar kain Qathifah buatan khaibar berwarna hitam;
-sebuah balai-balai;.
-dua buah kasur, terbuat dari kain kasar Mesir (yang sebuah berisi ijuk kurma dan yang sebuah bulu kambing);
-empat buah bantal kulit buatan Thaif (berisi daun idzkir);
-kain tabir tipis terbuat dari bulu;
-sebuah tikar buatan Hijr;
-sebuah gilingan tepung;
-sebuah ember tembaga;
-kantong kulit tempat air minum;
-sebuah mangkuk susu;
-sebuah mangkuk air;
-sebuah wadah air untuk sesuci;
-sebuah kendi berwarna hijau;
-sebuah kuali tembikar;
-beberapa lembar kulit kambing;
-sehelai 'aba-ah (semacam jubah);
-dan sebuah kantong kulit tempat menyimpan air.


Sejalan dengan itu Imam Ali r.a. mempersiapkan tempat kediamannya dengan perkakas yang sederhana dan mudah didapat. Lantai rumahnya ditaburi pasir halus. Dari dinding ke dinding lain dipancangkan sebatang kayu untuk menggantungkan pakaian. Untuk duduk-duduk disediakan beberapa lembar kulit kambing dan sebuah bantal kulit berisi ijuk kurma. Itulah rumah kediaman Imam Ali r.a. yang disiapkan guna menanti kedatangan isterinya, Sitti Fatimah Azzahra r.a.

Selama satu bulan sesudah pernikahan, Sitti Fatimah r.a. masih tetap di rumahnya yang lama. Imam Ali r.a. merasa malu untuk menyatakan keinginan kepada Rasul Allah s.a.w. supaya puterinya itu diperkenankan pindah ke rumah baru. Dengan ditemani oleh salah seorang kerabatnya dari Bani Hasyim, Imam Ali r.a. menghadap Rasul Allah s.a.w. Lebih dulu mereka menemui Ummu Aiman, pembantu keluarga Nabi Muhammad s.a.w. Kepada Ummu Aiman, Imam Ali r.a. menyampaikan keinginannya.

Setelah itu, Ummu Aiman menemui Ummu Salmah r.a. guna menyampaikan apa yang menjadi keinginan Imam Ali r.a. Sesudah Ummu Salmah r.a. mendengar persoalan tersebut, ia terus pergi mendatangi isteri-isteri Nabi yang lain.

Guna membicarakan persoalan yang dibawa Ummu Salmah r.a., para isteri Nabi Muhammad s.a.w. berkumpul. Kemudian mereka bersama-sama menghadap Rasul Allah s.a.w. Ternyata beliau menyambut gembira keinginan Imam Ali r.a.

Suami-Isteri Yang Serasi
Sitti Fatimah r.a. dengan perasaan bahagia pindah ke rumah suaminya yang sangat sederhana itu. Selama ini ia telah menerima pelajaran cukup dari ayahandanya tentang apa artinya kehidupan ini. Rasul Allah s.a.w. telah mendidiknya, bahwa kemanusiaan itu adalah intisari kehidupan yang paling berharga. Ia juga telah .diajar bahwa kebahagiaan rumah-tangga yang ditegakkan di atas fondasi akhlaq utama dan nilai-nilai Islam, jauh lebih agung dan lebih mulia dibanding dengan perkakas-perkakas rumah yang serba megah dan mewah.

Imam Ali r.a. bersama isterinya hidup dengan rasa penuh kebanggaan dan kebahagiaan. Dua-duanya selalu riang dan tak pernah mengalami ketegangan. Sitti Fatimah r.a. menyadari, bahwa dirinya tidak hanya sebagai puteri kesayangan Rasul Allah s.a.w., tetapi juga isteri seorang pahlawan Islam, yang senantiasa sanggup berkorban, seorang pemegang panji-panji perjuangan Islam yang murni dan agung. Sitti Fatimah berpendirian, dirinya harus dapat menjadi tauladan. Terhadap suami ia berusaha bersikap seperti sikap ibunya (Sitti Khadijah r.a.) terhadap ayahandanya, Nabi Muhammad s.a.w.

Dua sejoli suami isteri yang mulia dan bahagia itu selalu bekerja sama dan saling bantu dalam mengurus keperluan-keperluan rumah tangga. Mereka sibuk dengan kerja keras. Sitti Fatimah r.a. menepung gandum dan memutar gilingan dengan tangan sendiri. Ia membuat roti, menyapu lantai dan mencuci. Hampir tak ada pekerjaan rumah-tangga yang tidak ditangani dengan tenaga sendiri.

Rasul Allah s.a.w. sendiri sering menyaksikan puterinya sedang bekerja bercucuran keringat. Bahkan tidak jarang beliau bersama Imam Ali r.a. ikut menyingsingkan lengan baju membantu pekerjaan Sitti Fatimah r.a.

Banyak sekali buku-buku sejarah dan riwayat yang melukiskan betapa beratnya kehidupan rumah-tangga Imam Ali r.a. Sebuah riwayat mengemukakan: Pada suatu hari Rasul Allah s.a.w. berkunjung ke tempat kediaman Sitti Fatimah r.a. Waktu itu puteri beliau sedang menggiling tepung sambil melinangkan air mata. Baju yang dikenakannya kain kasar. Menyaksikan puterinya menangis, Rasul Allah s.a.w. ikut melinangkan air mata. Tak lama kemudian beliau menghibur puterinya: "Fatimah, terimalah kepahitan dunia untuk memperoleh kenikmatan di akhirat kelak"

Riwayat lain mengatakan, bahwa pada suatu hari Rasul Allah s.a.w. datang menjenguk Sitti Fatimah r.a., tepat: pada saat ia bersama suaminya sedang bekerja menggiling tepung. Beliau terus bertanya: "Siapakah di antara kalian berdua yang akan kugantikan?"

"Fatimah! " Jawab Imam Ali r.a. Sitti Fatimah lalu berhenti diganti oleh ayahandanya menggiling tepung bersama Imam Ali r.a.

Masih banyak catatan sejarah yang melukiskan betapa beratnya penghidupan dan kehidupan rumah-tangga Imam Ali r.a. Semuanya itu hanya menggambarkan betapa besarnya kesanggupan Sitti Fatimah r.a. dalam menunaikan tugas hidupnya yang penuh bakti kepada suami, taqwa kepada Allah dan setia kepada Rasul-Nya.

Ada sebuah riwayat lain yang menuturkan betapa repotnya Sitti Fatimah r.a. sehari-hari mengurus kehidupan rumah-tangganya. Riwayat itu menyatakan sebagai berikut: Pada satu hari Rasul Allah s.a.w. bersama sejumlah sahabat berada dalam masjid menunggu kedatangan Bilal bin Rabbah, yang akan mengumandangkan adzan sebagaimana biasa dilakukan sehari-hari. Ketika Bilal terlambat datang, oleh Rasul Allah s.a.w. ditegor dan ditanya apa sebabnya. Bilal menjelaskan:

"Aku baru saja datang dari rumah Fatimah. Ia sedang menggiling tepung. Al Hasan, puteranya yang masih bayi, diletakkan dalam keadaan menangis keras. Kukatakan kepadanya "Manakah yang lebih baik, aku menolong anakmu itu, ataukah aku saja yang menggiling tepung". Ia menyahut: "Aku kasihan kepada anakku". Gilingan itu segera kuambil lalu aku menggiling gandum. Itulah yang membuatku datang terlambat!"

Mendengar keterangan Bilal itu Rasul Allah s.a.w. berkata: "Engkau mengasihani dia dan Allah mengasihani dirimu!"

Hal-hal tersebut di atas adalah sekelumit gambaran tentang kehidupan suatu keluarga suci di tengah-tengah masyarakat Islam. Kehidupan keluarga yang penuh dengan semangat gotong-royong. Selain itu kita juga memperoleh gambaran betapa sederhananya kehidupan pemimpin-pemimpin Islam pada masa itu. Itu merupakan contoh kehidupan masyarakat yang dibangun oleh Islam dengan prinsip ajaran keluhuran akhlaq. Itupun merupakan pencerminan kaidah-kaidah agama Islam, yang diletakkan untuk mengatur kehidupan rumah-tangga.

Rasul Allah s.a.w., Imam Ali r.a. dan Sitti Fatimah r.a., ketiganya merupakan tauladan bagi kehidupan seorang ayah, seorang suami dan seorang isteri di dalam Islam. Hubungan antar anggota keluarga memang seharusnya demikian erat dan serasi seperti mereka.

Tak ada tauladan hidup sederhana yang lebih indah dari tauladan yang diberikan oleh keluarga Nubuwwah itu. Padahal jika mereka mau, lebih-lebih jika Rasul Allah s.a.w. sendiri mengehendaki, kekayaan dan kemewahan apakah yang tidak akan dapat diperoleh beliau?

Tetapi sebagai seorang pemimpin yang harus menjadi tauladan, sebagai seorang yang menyerukan prinsip-prinsip kebenaran dan keadilan serta persamaan, sebagai orang yang hidup menolak kemewahan duniawi, beliau hanya mengehendaki supaya ajaran-ajarannya benar-benar terpadu dengan akhlaq dan cara hidup ummatnya. Beliau mengehendaki agar tiap orang, tiap pendidik, tiap penguasa dan tiap pemimpin bekerja untuk perbaikan masyarakat. Masing-masing supaya mengajar, memimpin dan mendidik diri sendiri dengan akhlaq dan perilaku utama, sebelum mengajak orang lain. Sebab akhlaq dan perilaku yang dapat dilihat dengan nyata, mempunyai pengaruh lebih besar, lebih berkesan dan lebih membekas dari pada sekedar ucapan-ucapan dan peringatan-peringatan belaka. Dengan praktek yang nyata, ajakan yang baik akan lebih terjamin keberhasilannya.

Sebuah riwayat lagi yang berasal dari Imam Ali r.a. sendiri mengatakan: Sitti Fatimah pernah mengeluh karena tapak-tangannya menebal akibat terus-menerus memutar gilingan tepung. Ia keluar hendak bertemu Rasul Allah s.a.w. Karena tidak berhasil, ia menemui Aisyah r.a. Kepadanya diceritakan maksud kedatangannya. Ketika Rasul Allah s.a.w. datang, beliau diberitahu oleh Aisyah r.a. tentang maksud kedatangan Fatimah yang hendak minta diusahakan seorang pembantu rumah-tangga. Rasul Allah s.a.w. kemudian datang ke rumah kami. Waktu itu kami sedang siap-siap hendak tidur. Kepada kami beliau berkata: "Kuberitahukan kalian tentang sesuatu yang lebih baik daripada yang kalian minta kepadaku. Sambil berbaring ucapkanlah tasbih 33 kali, tahmid 33 kali dan takbir 34 kali. Itu lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu yang akan melayani kalian."

Sambutan Nabi Muhammad s.a.w. atas permintaan puterinya agar diberi pembantu, merupakan sebuah pelajaran penting tentang rendah-hatinya seorang pemimpin di dalam masyarakat Islam. Kepemimpinan seperti itulah yang diajarkan Rasul Allah s.a.w. dan dipraktekan dalam kehidupan konkrit oleh keluarga Imam Ali r.a. Mereka hidup setaraf dengan lapisan rakyat yang miskin dan menderita. Pemimpin-pemimpin seperti itulah dan yang hanya seperti itulah, yang akan sanggup menjadi pelopor dalam melaksanakan prinsip persamaan, kesederhanaan dan kebersihan pribadi dalam kehidupan ini.

Putera-puteri
Sitti Fatimah r.a. melahirkan dua orang putera dan dua orang puteri. Putera-puteranya bernama Al Hasan r.a. dan Al Husein r.a. Sedang puteri-puterinya bernama Zainab r.a. dan Ummu Kalsum r.a. Rasul Allah s.a.w. dengan gembira sekali menyambut kelahiran cucu-cucunya.

Al Hasan r.a. dan Al Husein r.a. mempunyai kedudukan tersendiri di dalam hati beliau. Dua orang cucunya itu beliau asuh sendiri. Kaum muslimin pada zaman hidupnya Nabi Muhammad s.a.w. menyaksikan sendiri betapa besarnya kecintaan beliau kepada Al Hasan r.a. dan Al Husein r.a. Beliau menganjurkan supaya orang mencintai dua "putera" beliau itu dan berpegang teguh pada pesan itu.

Al Hasan r.a. dan Al Husein r.a. meninggalkan jejak yang jauh jangkauannya bagi umat Islam. Al Husein r.a. gugur sebagai pahlawan syahid menghadapi penindasan dinasti Bani Umayyah. Semangatnya terus berkesinambungan, melestarikan dan membangkitkan perjuangan yang tegas dan seru di kalangan ummat Islam menghadapi kedzaliman. Semangat Al Husein r.a. merupakan kekuatan penggerak yang luar biasa dahsyatnya sepanjang sejarah.

Puteri beliau yang bernama Zainab r.a. merupakan pahlawan wanita muslim yang sangat cemerlang dan menonjol sekali peranannya, dalam pertempuran di Karbala membela Al Husein r.a. Di Karbala itulah dinasti Bani Umayyah menciptakan tragedi yang menimpa A1 Husein r.a. beserta segenap anggota keluarganya. A1 Husein r.a. gugur dan kepalanya diarak sebagai pameran keliling Kufah sampai ke Syam.
Setelah hidup bersuami isteri selama kurang lebih 10 tahun Sitti Fatimah r.a. meninggal dunia dalam usia 28 tahun. Sepeninggal Sitti Fatimah r.a., Imam Ali r.a. beristerikan beberapa orang wanita lainnya lagi. Menurut catatan sejarah, hingga wafatnya Imam Ali r.a. menikah sampai 9 kali. Tentu saja menurut ketentuan-ketentuan yang tidak bertentangan dengan hukum Islam. Dalam satu periode, tidak pernah lebih 4 orang isteri.

Wanita pertama yang dinikahi Imam Ali r.a. sepeninggal Siti Fatimah r.a. ialah Umamah binti Abil 'Ashiy. Ia anak perempuan iparnya sendiri, Zainab binti Muhammad s.a.w., kakak perempuan Sitti Fatimah r.a. Pernikahan dengan Umamah r.a. ini mempunyai sejarah tersendiri, yaitu untuk melaksanakan pesan Sitti Fatimah r.a. kepada suaminya sebelum ia wafat. Nampaknya pesan itu didasarkan kasih-sayang yang besar dari Umamah ra. kepada putera-puterinya.

Setelah nikah dengan Umamah r.a., Imam Ali r.a. nikah lagi dengan Khaulah binti Ja'far bin Qeis. Berturut-turut kemudian Laila binti Mas'ud bin Khalid, Ummul Banin binti Hazzan bin Khalid dan Ummu Walad. Isteri Imam Ali r.a. yang keenam patut disebut secara khusus, karena ia tidak lain adalah Asma binti Umais, sahabat terdekat Sitti Fatimah r.a. Asma inilah yang mendampingi Sitti Fatimah r.a. dengan setia dan melayaninya dengan penuh kasih-sayang hingga detik-detik terakhir hayatnya.

Isteri-isteri Imam Ali r.a. yang ke-7, ke-8 dan ke-9 ialah As-Shuhba, Ummu Sa'id binti 'Urwah bin Mas'ud dan Muhayah binti Imruil Qeis. Dari 9 isteri, di luar Sitti Fatimah r.a., Imam Ali r.a. mempunyai banyak anak. Jumlahnya yang pasti masih menjadi perselisihan pendapat di kalangan para penulis sejarah.

Al Mas'udiy dalam bukunya "Murujudz Dzahab" menyebut putera-puteri Imam Ali r.a. semuanya berjumlah 25 orang. Sedangkan dalam buku "Almufid Fil Irsyad" dikatakan 27 orang anak. Ibnu Sa'ad dalam bukunya yang terkenal, "Thabaqat", menyebutnya 31 orang anak, dengan perincian: 14 orang anak lelaki dan 17 orang anak perempuan. Ini termasuk putera-puteri Imam Ali r.a. dari isterinya yang pertama.


Bab IV : PERANAN KEPAHLAWANAN
Masih ada sementara penulis sejarah yang dengan berbagai dalih dan alasan mengatakan, bahwa Imam Ali r.a. bukan orang yang pertama-tama beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebagai alasan dikatakan, bahwa hukum belum berlaku baginya, karena ketika ia memeluk Islam usianya masih sangat muda, malahan dikatakan "masih kanak-kanak".

Alasan seperti itu tampak sekali dicari-cari. Sebab, seorang remaja yang berusia 13 tahun, bukan seorang kanak-kanak lagi. Ia sudah mampu berfikir membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Usia 13 tahun pada umumnya bisa dipandang sebagai tahap permulaan masa akil baligh. Dalam usia akil baligh itu orang sudah dapat menerima penjelasan-penjelasan dan keterangan-keterangan tentang sesuatu dengan baik. Fikiran dan perasaannya pun sudah berada dalam tingkatan aktif, dapat membedakan mana hal-hal yang menyenangkan atau menyedihkan, mana yang mengagumkan dan mana yang memuakkan, mana yang masuk akal dan mana yang tidak.

Seperti diketahui, sejak Imam Ali r.a. berusia 6 tahun langsung diasuh, dibimbing dan dididik oleh Nabi Muhammad s.a.w. Menurut sistem pendidikan modern, tingkat usia 6 tahun itu justru yang paling tepat bagi seseorang anak memasuki sekolah dasar, yang akan berlangsung selama 6 tahun. Dari usia 6 tahun sampai 12 tahun dapatlah dikatakan, bahwa Imam Ali r.a. telah mendapat "pendidikan dasar" dari seorang guru yang paling bijaksana.

Selama periode "pendidikkan dasar" itu, Imam Ali r.a. telah dipersiapkan oleh gurunya untuk menyongsong datangnya masa pancaroba yang akan menjadi ciri perobahan zaman. Ketika Imam Ali r.a. menginjak usia 13 tahun, terjadilah bi'tsah Muhammad sebagai Nabi dan Rasul, yang akan menjungkir-balikkan masa jahiliyah dan menggantinya dengan kecerahan masa hidayah. Masa "pendidikkan dasar" dan persiapan yang sangat tepat waktunya itulah, yang kemudian mewarnai sikap hidup dan kepribadian Imam Ali r.a. sebagai orang yang teguh imannya kepada Allah dan Rasul-Nya.

Ketika berlangsung blokade ekonomi dan pemboikotan sosial yang dilancarkan orang-orang kafir Qureiys terhadap semua keluarga Bani Hasyim, Imam Ali r.a. ikut langsung menghayati kesengsaraan dan penderitaan yang menjadi akibatnya. Dengan mengikuti bimbingan serta tauladan Rasul Allah s.a.w. beserta Sitti Khadijah r.a., dengan tangguh, tabah dan sabar, Imam Ali r.a. ikut berjuang mempertahankan dan membela da'wah Islam.

Tidak hanya itu saja. Selama hampir empat tahun terkepung dalam Syi'ib, Imam Ali r.a. memperoleh kesempatan yang luar biasa besarnya untuk menerima pendidikan tauhid dan ilmu-ilmu Ilahiyah, langsung dari Rasul Allah s.a.w. Satu kesempatan yang tidak pernah didapat oleh orang mukmin manapun. Dalam keadaan materiil serba kurang, Imam Ali r.a. yang masih remaja itu fikirannya terbuka seterang-terangnya guna menerima hidayah llahi, dan dengan tuntunan Rasul Allah s.a.w. ia dapat mengenal hakekat kebenaran Allah 'Azza wa Jalla.

Tentang kedinian Imam Ali r.a. beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi Muhammad s.a.w. sendiri pernah menegaskannya. Penegasan itu disaksikan oleh para sahabat dekat dan terkemuka, yaitu Abu Bakar Ash Shiddiq r.a., Umar Ibnul Khattab r.a. dan Abu Ubaidah r.a. Hal itu tercantum dalam Kitab "Kanzul Ummal", jilid VI, hlm. 393. Riwayatnya berasal dari Ibnu Abbas.

Umar Ibnul Khattab berkata: "....Aku, Abu Bakar dan Abu Ubaidah bersama beberapa orang sahabat Nabi lainnya pernah datang ke rumah Ummu Salmah. Setiba disana aku melihat Ali bin Abi Thalib sedang berdiri di pintu. Kami katakan kepadanya, bahwa kami hendak bertemu dengan Rasul Allah s.a.w. Ia menjawab, sebentar lagi beliau akan keluar. Waktu beliau keluar, kami segera berdiri. Kami lihat beliau bertopang pada Ali bin Abi Thalib dan menepuk-nepuk bahunya sambil berucap: "Engkau unggul dan akan tetap unggul, orang pertama yang beriman, seorang mukmin yang paling banyak mengetahui hari-hari Allah (hari-hari turunnya nikmat dan cobaan), paling setia menepati janji, paling adil dalam bertugas melakukan pembagian ghanimah, paling bercinta-kasih kepada rakyat, dan paling banyak menderita."

Membela Kebenaran
Di samping perjuangannya di bidang aqidah, ilmu dan pemikiran, Imam Ali r.a. juga terkenal sebagai seorang muda yang memiliki kesanggupan berkorban yang luar biasa besarnya. Ia mempunyai susunan jasmani yang sempurna dan tenaga yang sangat kuat. Sudah tentu, itu saja belum menjadi jaminan bagi seseorang untuk siap mempertaruhkan nyawanya membela kebenaran Allah dan Rasul-Nya. Imannya yang teguh laksana gunung raksasa dan kesetiaannya yang penuh kepada Allah dan Rasul-Nya, itulah yang menjadi pendorong utama.

Imam Ali r.a. tidak pernah menghitung-hitung resiko dalam perjuangan suci menegakkan Islam. Dengan jasmani yang tegap dan kuat, serta iman yang kokoh dan mantap, Imam Ali r.a. benar-benar mempunyai syarat fisik-materiil dan mental-spiritual untuk menghadapi tahap-tahap perjuangan yang serba berat.

Di saat-saat Islam dan kaum muslimin berada dalam situasi yang kritis dan gawat, Imam Ali r.a. selalu tampil memainkan peranan menentukan. Selama hidup ia tak pernah mengalami hidup santai. Sejak muda remaja sampai akhir hayatnya, ia keluar masuk dari kesulitan ke kesulitan lain, dan dari pengorbanan ke pengorbanan yang lain. Namun demikian ia tak pernah menyesali nasib, bahkan dengan semangat pengabdian yang tinggi kepada Allah dan Rasul-Nya, ia senantiasa siap menghadapi segala tantangan. Satu-satunya pamrih yang menjadi pemikirannya siang dan malam hanya ingin memperoleh keridhoan Allah dan Rasul-Nya. Kesenangan hidup duniawi baginya bukan apa-apa dibanding dengan kenikmatan ukhrawi yang telah dijanjikan Allah s.w.t. bagi hamba-hamba-Nya yang berani hidup di atas kebenaran dan keadilan.

berkali-kali imannya yang teguh diuji oleh Rasul Allah s.a.w. Tiap kali diuji, tiap kali itu juga lulus dengan meraih nilai yang amat tinggi. Ujian pertama yang maha berat ialah yang terjadi pada saat Rasul Allah s.a.w. menerima perintah Allah s.w.t. supaya berhijrah ke Madinah.

Seperti diketahui, di satu malam yang gelap-gulita, komplotan kafir Qureiys mengepung kediaman Rasul Allah s.a.w. dengan tujuan hendak membunuh beliau, bilamana beliau meninggalkan rumah. Dalam peristiwa ini Imam Ali r.a. memainkan peranan besar: Ia diminta oleh Rasul Allah s.a.w. supaya tidur di atas pembaringan beliau menutup tubuhnya dengan selimut beliau guna mengelabui mata orang-orang Qureiys. Tanpa tawar-menawar Imam Ali r.a. menyanggupinya. Ia menangis bukan mencemaskan nyawanya sendiri, melainkan karena ia khawatir atas keselamatan Rasul Allah s.a.w. yang saat itu berkemas-kemas hendak hijrah meninggalkan kampung halaman.

Melihat Imam Ali menangis, maka Rasul Allah bertanya: "Apa sebab engkau menangis, Apakah engkau takut mati?".

Imam Ali r.a. dengan tegas menjawab: "Tidak, ya Rasul Allah! Demi Allah yang mengutusmu membawa kebenaran! Aku sangat khawatir terhadap diri anda. Apakah anda akan selamat, ya R,asul Allah?"

"Ya," jawab Nabi Muhammad s.a.w. dengan tidak ragu-ragu.

Mendengar kata-kata yang pasti dari Rasul Allah s.a.w., Imam Ali r.a. terus berkata: "Baiklah, aku patuh dan kutaati perintah anda. Aku rela menebus keselamatan anda dengan nyawaku, ya Rasul Allah!"

Imam Ali r.a. segera menghampiri pembaringan Rasul Allah s.a.w. Kemudian berselunjur mengenakan selimut beliau untuk menutupi tubuhnya. Saat itu orang-orang kafir Qureiys sudah mulai berdatangan di sekitar rumah Rasul Allah s.a.w. dan mengepungnya dari segala jurusan. Dengan perlindungan Allah s.w.t. dan sambil membaca ayat 9 Surah Yaa Sin, beliau keluar tanpa diketahui oleh orang-orang yang sedang mengepung dan mengintai. Orang-orang Qureiys itu menduga, bahwa orang yang sedang berbaring dan berselimut itu pasti Nabi Muhammad s.a.w. Mereka yang mengepung itu mewakili suku-suku qabilah Qureiys yang telah bersepakat hendak membunuh Nabi Muhammad s.a.w. dengan pedang secara serentak. Dengan cara demikian itu, tidak mungkin Bani Hasyim dapat menuntut balas.

Imam Ali r.a. mengerti benar kemungkinan apa yang akan diperbuat orang-orang kafir Qureiys terhadap dirinya karena ia tidur di pembaringan Rasul Allah s.a.w. Hal itu sama sekali tidak membuatnya sedih atau takut. Dengan kesabaran yang luar biasa, ia berserah diri pada Allah s.w.t. Ia yakin, bahwa Dia-lah yang menentukan segala-galanya.

Menjelang subuh, Imam Ali r.a. bangun. Gerombolan Qureiys terus menyerbu ke dalam rumah. Dengan suara membentak mereka bertanya: "Mana Muhammad? Mana Muhammad?"

"Aku tak tahu di mana Muhammad berada!" jawab Imam Ali r.a. dengan tenang.

Gerombolan Qureiys itu segera mencari-cari ke sudut-sudut rumah. Usaha mereka sia-sia belaka. Gerombolan itu kecewa benar. Di dalam hati mereka bertanya-tanya: "Kemana ia pergi?" Dalam suasana gaduh Imam Ali r.a. bertanya: "Apa maksud kalian?"

"Mana, Muhammad? Mana Muhammad?" mereka mengulang-ulang pertanyaan semula.

"Apakah kalian mengangkatku menjadi pengawasnya?" ujar Imam Ali r.a. dengan nada memperolok-olok. "Bukankah kalian sendiri berniat mengeluarkannya dari negeri ini? sekarang ia sudah keluar meninggalkan kalian!"

Ucapan Imam Ali r.a. sungguh-sungguh menggambarkan ketabahan dan keberanian hatinya. Cahaya pedang terhunus yang berkilauan, samasekali tidak dihiraukan, bahkan orang-orang Qureiys yang kalap itu dicemoohkan. Seandainya ada seorang saja dari gerombolan itu mengayunkan pedang ke arah Imam Ali r.a., entahlah apa yang terjadi. Tetapi Allah tidak menghendaki hal itu.

Keesokan harinya, Imam Ali r.a. berkemas-kemas mempersiapkan segala sesuatu untuk berangkat membawa beberapa orang wanita Bani Hasyim, terutama Sitti Fatimah r.a., menyusul perjalanan Nabi Muhammad s.a.w. dalam hijrahnya ke Madinah.

Seperti telah diterangkan di muka, rombongan Imam Ali r.a. berangkat secara terang-terangan di siang hari. Setibanya di Dhajnan ia membuka babak konfrontasi bersenjata antara kaum muslimin dan kaum musyrikin.

Imam Ali r.a. yang ketika itu berusia 26 tahun, merupakan orang pertama yang menghunus pedang untuk mematahkan agresi bersenjata orang-orang kafir Qureiys. Terbelahnya tubuh Jenah menjadi dua dan larinya 7 orang pasukan berkuda Qureiys yang semula mengejar rombongan, merupakan tonggak sejarah yang menandai akan datangnya masa cerah bagi kaum muslimin dan masa suram bagi kaum musyrikin.

Bab IV-1 : Perang Badr
Bab XV : PINTU ILMU
Dalam riwayat yang ditulisnya, Ibnu Abbas mengatakan: "Demi Allah, Rasul Allah s.a.w. telah memberi kepada Imam Ali sembilan-persepuluh dari semua ilmu yang ada, dan demi Allah, Imam Ali masih juga mengetahui sebagian dari sepersepuluh ilmu sisanya yang ada pada kalian atau pada mereka."

Mengenai hal itu cukuplah dikemukakan saja ucapan Rasul Allah s.a.w. yang menegaskan: "Aku ini adalah kotanya ilmu atau kotanya hikmah, sedangkan Ali adalah pintu gerbangnya. Barang siapa ingin memperoleh ilmu hendaknya ia mengambil lewat pintunya."

Allah s.w.t. telah melimpahkan nikmat tiada terhingga kepada Imam Ali bin Abi Thalib r.a. berupa ilmu dan hikmah, sehingga ia menjadi orang yang paling banyak mengetahui dan menguasai isi A1 Qur'an serta ajaran-ajaran Rasul Allah s.a.w. Dengan sendirinya ia pun merupakan orang yang paling mampu menetapkan fatwa hukum Islam. Sebenarnya hal itu bukan merupakKan satu kejutan, karena dia adalah satu-satunya orang muslim yang terdini memeluk Islam dan hidup langsung di bawah naungan wahyu sejak masa kanak-kanak sampai dewasa.

Sebuah riwayat hadits yang berasal dari Mu'adz bin Jabal mengatakan bahwa Rasul Allah s.a.w. berkata kepada Imam Ali r.a.: "Engkau mengungguli orang lain dalam tujuh perkara. Tak ada seorang Qureisy pun yang dapat menyangkalnya. Yaitu:

-Engkau adalah orang pertama yang beriman kepada Allah,
-Engkau orang yang terdekat dengan janji Allah,
-Engkau orang yang termampu menegakkan perintah Allah,
-Engkau orang yang paling adil mengatur pembagian (ghanimah),
-Engkau orang yang paling berlaku adil terhadap rakyat,
-Engkau paling banyak mengetahui semua persoalan,
-dan Engkau orang yang paling tinggi nilai kebaikan sifatnya di sisi Allah."

Jadi, kalau Rasul Allah s.a.w. sendiri sudah menilai Imam Ali r.a. sedemikian lengkapnya, tidaklah keliru kalau dikatakan, bahwa Imam Ali r.a. merupakan kualitas pilihan di kalangan ummat Islam.

Fashahah dan Balaghah
Al Mas'udiy meriwayatkan, bahwa lebih dari 480 khutbah yang diucapkan oleh Imam Ali r.a. tanpa dipersiapkan lebih dahulu, dihafal oleh banyak orang. Syarif Ar-Ridha mengatakan dalam kitab Khutbah Nahjil Balaghah, bahwa Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib adalah pencipta dan pengajar ilmu Fashahah dan juga merupakan orang yang melahirkan ilmu Balaghah.

Dari dialah munculnya aturan-aturan ilmu tersebut dan dari dia juga orang mengambil kaidah-kaidah dan hukum-hukumnya. Tiap orang yang berbicara sebagai khatib, pasti mengambil pepatah atau kata-kata rnutiara dari dia, dan tiap orang yang pandai mengingatkan orang lain pasti mencari bantuan dengan jalan mengutip kata-kata Imam Ali. Demikian kata Syarif Ar Ridha.

Tentang hal itu Muawiyah sendiri juga terpaksa harus mengakui keunggulan lawannya, ketika ia berkata terus terang kepada Abu Mihfan: "Seandainya semua mulut dijadikan satu, belum juga dapat menyamai kepandaian Ali bin Abi Thalib. Demi Allah, tidak ada orang Qureiys yang cakap berbicara seperti dia!"

Banyak sekali ungkapan dan kata-kata mutiara Imam Ali r.a. tercantum dalam kitab Nahjul Balaghah, yang dibelakang hari diuraikan oleh Ibnu Abil Hadid dalam bukunya Syarah Nahjil Balaghah, yang terdiri dari 20 jilid. Buku Nahjul Balaghah kiranya cukuplah menjadi bukti, bahwa dalam hal menyusun kalimat dan memilih kata-kata bermutu, memang tidak ada orang lain yang dapat menyamai atau melebihi Imam Ali r.a. selain Rasul Allah s.a.w. sendiri. Salah satu contoh ialah kata-katanya: "Tiap wadah bila diisi menyempit kecuali wadah ilmu, ia bahkan makin bertambah luas."

Dalam kitab Al Bayan wat Tabyin, Al Jahidz mengetengahkan ucapan Imam Ali r.a. yang mengatakan: "Nilai seseorang ialah perbuatan baiknya." Dalam memberikan tanggapan terhadap ucapan Imam Ali r.a. tersebut, Ibnu Aisyah mengatakan: "Selain kalam Allah dan Rasul-Nya, aku tidak pernah menemukan sebuah kalimat yang lebih padat maknanya dan lebih umum kemanfaatannya dibanding dengan ucapan-ucapan Imam Ali."

Pernah ada orang bertanya kepada Imam Ali r.a. tentang berapa jauhnya jarak antara langit dan bumi. Imam Ali dengan mudah saja menjawab: "Jauhnya secepat doa yang terkabul!" Orang itu masih bertanya lagi tentang jauhnya jarak antara timur dan barat. Dijawab oleh Imam Ali r.a.: "Sejauh perjalanan matahari sehari!"

Nahwu
Ilmu Nahwu yang merupakan salah satu cabang pokok ilmu bahasa Arab pun sejarah pertumbuhannya tak dapat dipisahkan dari pemikiran Imam Ali r.a. Dialah yang meletakkan dasar-dasar fundamental ilmu tersebut. Tokoh pertama yang terkenal sebagai penyusun ilmu Tata Bahasa Arab, Abul Aswad Ad Dualiy, di imla (didikte) oleh Imam Ali r.a. dalam meletakkan dasar-dasar ilmu Nahwu dan kaidah-kaidahnya. Antara lain Imam Ali r.a.-lah yang membagi jenis kata-kata dalam tiga kategori secara sistematik. Yaitu kata benda (ism), kata kerja (fi'il) dan kata penghubung (harf). Ia jugalah yang membagi kata benda ke dalam dua sifat. Ma'rifah, yaitu kata benda yang jelas maksudnya dalam hubungan kalimat, dan Nakirah, yaitu lawan kata benda Ma'rifah. Demikian juga yang berkaitan dengan jenis-jenis I'rab, seperti rafa', nasb, jarr dan jazm.

Keistimewaannya ialah dalam meletakkan kaidah-kaidah tata-bahasa Arab itu, Imam Ali r.a. seolah-olah seperti berbuat mu'jizat. Sebab sebelum itu, belum pernah ada orang Arab yang mengenal sistematisasi penyusunan tata-bahasa. Rumus-rumus tata-bahasa belum pernah dikenal orang sama sekali. Padahal bahasa Arab adalah bahasa yang sangat tua, kaya dan rumit. Bangsa-bangsa Eropa yang dalam abad modern sekarang ini menguasai peradaban dunia, waktu itu masih tenggelam dalam vandalisme dan pengembaraan liar. Jadi tidaklah keliru kalau dikatakan Imam Ali r.a. itu adalah bapak bahasa Arab modern. Sebab rumus-rumus dan kaidah-kaidah yang diletakkan olehnya, membuat bahasa Arab mudah dipelajari oleh orang asing.

Khutbah
Kecakapannya berkhutbah bukan asing lagi bagi para penulis sejarah Islam. Imam Ali r.a. bukan hanya dikenal sebagai Bapak bahasa Arab, tetapi dalam hal penggunaan dan penerapan bahasa pun ia dikenal sebagai seorang ahli terkemuka. Keunggulannya dalam kecakapan berbahasa dan bersastra membuat orang menarik kesimpulan, bahwa nilai perkataan Imam Ali r.a. berada di bawah firman Allah Al Khaliq dan tutur-kata Rasul-Nya. Pada masa hidupnya tidak sedikit orang datang kepadanya untuk menimba ilmu berkhutbah dan ilmu menulis.

Abdul Hamid bin Yahya, seorang ilmuwan dan penulis Islam yang masyhur itu, sampai berkata sambil membanggakan diri, bahwa ia mempunyai kumpulan khutbah-khutbah Imam Ali sebanyak 70 perangkat. "Dan itu masih bertambah terus," katanya. Akan tetapi Abdul Hamid itu masih kalah unggul dibanding dengan Ibnu Nubatah, yang nama sebenarnya ialah Abdurrahman bin Muhammad bin Ismail Al-Fariqiy Al-dudzamiy. Ia mengatakan: "Aku menyimpan setumpuk khutbah-khutbahnya. Sampai sekarang masih bertambah terus jumlahnya. Aku menyimpan 100 bab dari wejangan-wejangan Imam Ali bin Abi Thalib."

Kecakapan Imam Ali r.a. menyusun pidato sangat membantu para peneliti sejarah Islam, khususnya sejarah perjuangan Imam Ali r.a. sendiri, dalam menghimpun data-data dan fakta-fakta. Dibanding dengan khutbah-khutbahnya, khutbah-khutbah yang pernah diucapkan oleh para sahabat Nabi Muhammad s.a.w. lainnya, belum ada sepersepuluhnya, seandainya semua itu hendak dikumpulkan. Seorang penulis dan sejarawan klasik Islam, Abu Utsman Al-Jahidz menegaskan hal tersebut dalam bukunya yang berjudul Al-Bayan wat Tabyin.

Tauhid
Ilmu Tauhid atau ilmu Kalam adalah ilmu yang paling banyak dikejar dan diselami oleh kaum muslimin yang berminat mendalami hakikat Islam. Ilmu Tauhid merupakan induk ilmu-ilmu agama Islam, karena ilmu tersebut menyangkut masalah ke-Tuhan-an. Kecuali itu, karena luhur dan tingginya nilai suatu ilmu pengetahuan terletak pada sasaran ilmu itu sendiri.

Ilmu ke-Tuhan-an yang sasarannya adalah Dzat Yang Maha Agung, tidak bisa tidak pasti merupakan ilmu yang paling tinggi mutu dan nilainya. Kaum awam dan para ahli yang menekuni ilmu yang mulia itu, hampir tak ada yang meragukan bahwa ilmu tersebut dikuasai dengan baik sekali oleh Imam Ali r.a. Bahkan pribadinya sendiri di belakang hari dijadikan sumber penggalian dan pembahasan ilmu tersebut, yakni ilmu Tauhid.

Kaum Mu'tazilah yang juga dikenal dengan sebutan Ahlut Tauhid Wal 'Adl, para ahli ilmu qalam, dan para ahli fikir lainnya, jika diusut sumber ilmu pengetahuannya masing-masing, akhirnya pasti akan bertemu pada pribadi dan pemikiran Imam Ali r.a. Sebagai ilustrasi dan sekaligus pembuktian dapat dikemukakan, bahwa tokoh utama kaum Mu'tazilah yang bernama Washil bin 'Atha, dasar-dasar ilmu pengetahuannya berasal dari Imam Ali r.a. Sebab tokoh Mu'tazilah itu menimba ilmu dari Abu Hasyim Abdullah bin Muhammad Ibnul Hanafiyah. Hasyim memperoleh ilmu dari ayahnya sendiri, yaitu Muhammad Ibnul Hanafiyah. Sedang Muhammad Ibnul Hanafiyah bukan saja murid, melainkan ia adalah putera Imam Ali r.a. sendiri, yakni saudara Al Hasan dan Al Husein r.a. dari lain ibu.

Kaum Asy'ariy yang asalnya adalah para siswa Abul Hasan Ali bin Ismail bin Abi Bisyr Al Asy'ariy, ilmu pengetahuan mereka didapat dari Abul Aliy Al-Juba-iy. Bagi orang yang mendalami ilmu Tauhid dan meneliti asal-usul sejarahnya, pasti mengetahui bahwa Abul Aliy Al-Juba-iy itu ialah seorang tokoh sangat terkenal di kalangan kaum Mu'tazilah. Sedang kaum Mu'tazilah itu memperoleh ilmu mereka dari Imam Ali r.a., seperti yang kami sebutkan di atas tadi. Mengenai kaum Syi'ah, baik golongan Zaidiyyah maupun golongan Imamiyyah, sumber ilmu pengetahuan mereka tak usah dipersoalkan lagi. Sudah pasti dari tokoh pujaan mereka yang paling utama, yaitu Imam Ali bin Abi Thalib r.a

Fiqh
Orang yang paling lembut hatinya dan paling ramah di kalangan ummatku ialah Abu Bakar. Demikian diungkapkan oleh Rasul Allah s.a.w. Sedang yang paling keras membela agama ialah Umar Ibnul Khattab. Yang paling pemalu adalah Utsman bin Affan. Adapun Ali, ajar Rasul Allah s.a.w. seterusnya, ialah yang paling tahu tentang hukum.

Pernyataan Rasul Allah s.a.w. tersebut merupakan masnad bagi uraian Abu Ya'la, sebagaimana tercantum dalam kitab karya seorang penulis kenamaan As-Sayuthiy, yang berjudul Al Jami'us Shaghir (jilid I halaman 58). Yang dimaksud dengan hukum bukan lain ialah hukum Islam, yaitu Fiqh. llmu Fiqh merupakan salah satu cabang penting dari ilmu agama Islam.

Ilmu yang bersangkut-paut dengan semua ketentuan hukum Islam itu jelas sekali berpangkal antara lain dari Imam Ali r.a. Boleh dibilang semua ahli Fiqh di kalangan kaum muslimin menimba dan mengambil dasar-dasar ilmu pengetahuannya masingmasing dari Fiqh Imam Ali. Rekan-rekan dan para pengikut Imam Abu Hanifah, seperti Abu Yusuf, Muhammad dan sebagainya, semua berguru kepada Abu Hanifah.

Seorang ahli Fiqh terkemuka yang madzhabnya dianut oleh ummat Islam Indonesia, Imam Syafi'iy, adalah murid Muhammad bin Al Hasan yang ilmunya berasal dari Abu Hanifah.

Tokoh pertama madzhab Hanbaliy, yaitu Imam Ahmad bin Hanbal, adalah murid kinasih dan terkemuka dari Imam Syafi'iy. llmu pengetahuan yang ditimbanya sudah tentu sama seperti ilmu yang didapat oleh Imam Syafi'iy sendiri, yaitu berasal dari Imam Abu Hanifah.

Tokoh besar ilmu Fiqh, Abu Hanifah, menimba ilmu pengetahuan dari Ja'far bin Muhammad Ibnul Hanafiyah. Ja'far adalah murid ayahnya sendiri, sedangkan ayahnya itu ialah murid dan putera Imam Ali.

Tokoh pertama madzhab Malikiy, yaitu Imam Malik bin Anas, pun demikian juga. Ia menimba ilmu pengetahuan tentang Fiqh dari Abdullah Ibnu Abbas. Sedangkan Abdullah Ibnu Abbas sendiri diketahui dengan pasti bukan lain adalah murid Imam Ali bin Abi Thalib r.a. Kalau ada yang mengatakan bahwa ilmu Fiqh Imam Syafi'iy berasal dari Imam Malik, pangkal dan sumber pokoknya berasal juga dari Imam Ali.

Fakta-fakta tersebut mengungkapkan kenyataan, bahwa 4 orang Imam Fiqh atau tokoh-tokoh pertama empat madzhab Fiqh di seluruh dunia Islam sekarang ini, ilmu pengetahuan Fiqhnya masing-masing berasal dari Imam Ali r.a. Tentu saja tak perlu diragukan lagi, bahwa ilmu Fiqh yang ada di kalangan kaum Syi'ah pasti berasal dari Imam Ali. Seorang tokoh besar Islam lainnya, Umar Ibnul Khattab r.a., dikenal dan diakui sebagai seorang yang banyak memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan hukum Islam. Namun ia tidak lepas dari pemikiran Imam Ali bin Abi Thalib r.a. Hal ini diakui sendiri olehnya ketika mengatakan: "Tanpa Ali celakalah Umar!" Bahkan Khalifah yang terkenal keras, tegas, tetapi bijaksana dan arif itu pernah juga mengucap-kan "Tidak ada kesukaran (hukum) yang tak dapat dipecahkan oleh Abul Hasan (Imam Ali)."

Waktu melukiskan bagaimana wibawa dan wewenang Imam Ali dalam menetapkan fatwa hukum, Khalifah Umar r.a. juga menegaskan: "Tidak ada seorang pun di dalam masjid yang dapat memberikan fatwa hukum, bila Ali hadir."

Penguasaan, penafsiran dan penerapan hukum Islam oleh Imaln Ali r.a. dilakukan secara tepat dan diakui kebenarannya oleh Rasul Allah s.a.w. Hal itu dibuktikan dengan diangkatnya Imam Ali --pada masa itu-- sebagai qadhi (hakim) di Yaman. Ketika melepas saudara misan kesayangannya itu Rasul Allah s.a.w. sempat berdoa: "Ya Allah, bimbinglah hatinya dan mantapkanlah ucapannya." Sebagai tanggapan terhadap harapan Rasul Allah s.a.w. itu Imam Ali r.a. berkata: "Mulai saat ini aku tidak akan ragu-ragu lagi mengambil keputusan hukum yang menyangkut dua belah fihak."

Di antara banyak yurisprudensi, keputusan-keputusan hukum, yang dilahirkan oleh pemikiran Imam Ali r.a. ialah yang menyangkut kasus perkara sebagai berikut: Kasus seorang isteri yang melahirkan anak, padahal ia baru enam bulan menikah dengan suaminya. Yaitu suatu penetapan hukum yang dilakukan oleh Imam Ali r.a. berdasarkan Surah Al-Ahqaf ayat 15. Juga Imam Ali-lah yang menetapkan fatwa hukum Islam tentang wanita hamil karena perbuatan zina. Memecahkan masalah hukum Faraidh yang pelik dan rumit, yaitu hukum tentang pembagian harta waris, Imam Ali r.a. sanggup melakukannya dengan cepat dan tepat. Yurisprudensi ini lahir dari satu kasus yang terkenal dalam sejarah Fiqh dengan nama "Kasus Minbariyyah". Kasus ini menarik para ahli hukum Islam maupun non Islam. Peristiwa ini terjadi ketika Imam Ali r.a. sedang berkhutbah di atas mimbar, tiba-tiba ada seorang bertanya tentang hukum yang berkaitan dengan pembagian waris antara dua orang anak perempuan, dua orang ayah dan seorang perempuan. Seketika itu juga dan hanya dalam waktu beberapa detik saja, tanpa ragu-ragu Imam Ali r.a. menjawab: "Seperdelapan yang menjadi hak perempuan itu berubah menjadi sepersembilan!"

Dihitung secara matematik dan ditinjau dari sudut keadilan dan kebijaksanaan berdasarkan Al-Qur'an, fatwa hukum Imam Ali r.a. tersebut mencapai record dalam memecahkan kasus pembagian harta waris yang amat pelik dan rumit. Seorang ahli hukum Faraidh sendiri, walau dengan bantuan alat kalkulator, baru dapat menemukan angka yang disebutkan oleh Imam Ali r.a. kalau sudah menghitung-hitung dahulu selama beberapa saat. Masalah itu memang merupakan masalah matematika yang cukup ruwet. Tetapi menurut kenyataan, fatwa Imam Ali r.a. yang diambil dalam waktu beberapa detik itu setelah diuji dan diteliti secermat-cermatnya berdasarkan hukum Al-Qur'an dan sunnah Rasul Allah s.a.w., terbukti benar dan tepat. Jelaslah hanya orang yang betul-betul menguasai dasar-dasar hukum Fiqh sampai sedalam-dalamnya sajalah yang dapat memberikan jawaban secepat itu!

Tafsir
Bagi orang awam, bahkan kaum ahli sekalipun, selalu menjumpai kenyataan bahwa tafsir Al-Qur'an banyak sekali kaitannya dengan nama seorang ulama besar, Abdullah Ibnu Abbas. Ulama ini memang terkenal sekali sebagai seorang ahli tafsir Al Qur'an. Abdullah Ibnu Abbas juga seorang ulama yang dipercaya oleh Khalifah Abu Bakar r.a. dan Khalifah Umar r.a. untuk memberikan penafsiran tentang sesuatu ayat Al-Qur'an.

Sungguhpun demikian, ketika Abdullah Ibnu Abbas ditanya orang, bagaimana perbandingan ilmu pengetahuan yang dimilikinya dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh "putera paman anda" (Imam Ali r.a.), jawabnya sederhana saja: "Perbandingannya seperti setetes air hujan dengan air samudera!" Jawaban itu tidak mengherankan. Bukan hanya karena ia rendah hati, melainkan juga karena ia adalah murid Imam Ali r.a. sendiri. Dalam ilmu tafsir, nama dua orang itu hampir tak pernah pisah sama sekali.

Benar sekali penyaksian Abu Fudhail yang mendengar sendiri Imam Ali r.a. berkata dari atas mimbar: "Tanyakanlah kepadaku selama aku ada. Apa saja yang kalian tanyakan, aku sanggup menjawab. Tanyakanlah tentang Kitab Allah. Demi Allah, tak ada satu ayat pun yang aku tidak mengetahui, apakah ayat itu turun di waktu siang ataukah di waktu malam, di datarankah atau di pegunungan."

Kata-kata Imam Ali r.a. itu bukan menunjukkan kesombongan, tetapi karena ia tampak jengkel melihat ada orang yang menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an dengan semena-mena. Dan apa yang diucapkannya itu bukan kata-kata hampa yang tidak berbukti.

Menurut Ibnu Abil Hadid, Al-Madainiy meriwayatkan, bahwa dalam salah satu khutbahnya Imam Ali r.a. pernah berkata: "Seandainya ada yang mengadu kepadaku karena bantalnya dirobek orang, aku akan mengambil keputusan hukum. Bagi ahli Taurat berdasarkan Tauratnya, bagi ahli Injil berdasarkan Injilnya, dan bagi ahli Al-Qur'an berdasarkan Qur'an-nya!"

Sungguh besarlah nikmat Allah yang dilimpahkan kepada putera Abu Thalib yang telah menerima asuhan dan pendidikan manusia terbesar sepanjang sejarah, Nabi besar Muhammad s.a.w.! Tidak keliru kalau tiga orang Khalifah sebelumnya memandang Imam Ali r.a. sebagai penasehat ahli yang sama sekali tak dapat ditinggalkan fatwa-fatwanya.

Tilawatil Qur'an
Bagi Imam Ali r.a. ilmu Tilawatil Al-Qur'an merupakan ilmu yang paling pertama kali diteguk dan diperolehnya langsung dari Rasul Allah s.a.w. sejak berusia muda belia. Ialah orang yang paling tahu bagaimana Rasul Allah s.a.w. membaca ayat-ayat Al-Qur'an. Sejak Rasul Allah s.a.w. masih hidup, Imam Ali r.a. sudah dikenal sebagai orang pertama dan yang paling dini menghafal Al-Qur'an. Kedudukannya yang sangat dekat dengan Rasul Allah s.a.w. dan kecerdasannya membuat Imam Ali r.a. dapat menguasai dengan sempurna ilmu Tilawatil Qur'an.

Ada kesepakatan di kalangan para penyusun riwayat, bahwa di samping menguasai pengertian dan tafsir Al-Qur'an secara baik, Imam Ali r.a. juga diakui sebagai seorang ahli ilmu Tilawah. Keahlian dan kecakapannya di bidang ini sangat membantu usaha menghimpun ayat-ayat suci Al-Qur'an di kemudian hari. Dalam pekerjaan yang maha besar itu sumbangan dan peranan Imam Ali r.a. sangat menentukan keberhasilannya.

Sebagaimana diketahui, setelah Rasul Allah s.a.w. wafat, Abu Bakar Ash Shiddiq meneruskan kepemimpinan beliau atas ummat Islam. Di kala itu terjadi peperangan-peperangan untuk menumpas kaum pembangkang zakat dan gerakan kaum murtad, serta oknum-oknum petualang yang mengaku diri sebagai "nabi". Dengan terjadinya konflik-konflik tersebut para sahabat yang hafal ayat-ayat suci Al-Qur'an makin berkurang jumlahnya karena banyak yang gugur di medan tempur. Terdorong oleh kekhawatiran habisnya para sahabat yang hafal ayat-ayat Al-Qur'an, atas usul Umar Ibnul Khattab r.a., Khalifah Abu Bakar memerintahkan Zaid bin Tsabit supaya segera mengkodifikasi wahyu suci. Tugas raksasa ini memerlukan ketekunan, kesabaran, ketelitian, kecermatan dan kejujuran. Dalam pekerjaan mulia ini, Zaid bin Tsabit dimudahkan antara lain oleh sumbangan Imam Ali r.a. yang tak ternilai besarnya.

Jika ditelusuri sejarah ilmu Tilawatil Qur'an, maka akan ditemukan kenyataan bahwa para Imam dan para ahli Tilawah semuanya menimba ilmu dari sumbernya yang pertama, yaitu Imam Ali r.a. Ambil saja sebagai misal, Abu Umar bin Al-A'laa, 'Ashim bin Najd dan sebagainya. Mereka semua berasal dari perguruan Abu Abdurrahman As-Sulamiy Al-Qari. Sedangkan Abu Abdurrahman ini tak lain adalah murid Imam Ali r.a. sendiri, yang belajar langsung dari gurunya itu.

Sebagai orang yang hidup taqwa dan menguasai Al-Qur'an baik lafadz maupun maknanya, Imam Ali r.a. memandang Al-Qur'an sebagai satu-satunya juru selamat bagi manusia dalam kehidupan dunia dan akhirat. Ketika menjelaskan pandangannya terhadap Al-Qur'an, Imam Ali r.a. antara lain berkata:

"Kalian wajib mengetahui, bahwa Al-Qur'an itu adalah nasehat yang tak pernah palsu, pembimbing yang tak pernah sesat, dan pembicara yang tak kenal dusta. Tiap orang yang duduk membaca Al-Qur'an, ia pasti memperoleh tambahan atau pengurangan, yaitu tambahan hidayat atau pengurangan ketidak-tahuan. Ketahuilah bahwa tidak ada yang lebih unggul dan lebih tinggi bagi seseorang daripada Al-Qur'an."

"Oleh karena itu sembuhkanlah penyakit kalian dengan Al-Qur'an, dan dengan Al-Qur'an mohonlah pertolongan kepada Allah untuk mengatasi kesukaran kalian. Dalam Al-Qur'an terdapat obat penyembuh bagi penyakit yang paling parah, yaitu penyakit
kufur, kemunafikan dan kesesatan. Mohonlah kepada Allah dengan Al-Qur'an dan dengan mencintai Al-Qur'an hadapkanlah diri kalian ke hadirat-Nya. Janganlah dengan Al-Qur'an kalian meminta sesuatu kepada makhluk Allah. Semua hamba Allah tidak dapat menghadapkan diri kepada-Nya melalui sesama makhluk.

"Dan ketahuilah, bahwa Al-Qur'an adalah pemberi syafa'at yang benar-benar dapat diharapkan. Juga merupakan pembicara terpercaya. Barang siapa memperoleh syafa'at dari Al-Qur'an pada hari kiyamat, berarti ia memperoleh syafa'at yang sejati. Dan Barang siapa yang dinilai buruk oleh Al-Qur'an, pada hari kiyamat ia tidak akan dipercaya. Pada hari kiyamat akan terdengar suara berseru: 'Bukankah orang yang berbuat akan diuji dengan perbuatannya sendiri dan akan diuji pula oleh akibat dari perbuatannya itu, kecuali orang yang berbuat menurut ajaran Al-Qur'an?'…"

"Oleh sebab itu jadilah kalian orang-orang yang berbuat sesuai dengan Al-Qur'an dan mengikuti ajaran-ajarannya. Jadikanlah Al-Qur'an sebagai penasehat bagi diri kalian. Jadikanlah Al-Qur'an sebagai pembimbing fikiran dan pendapat kalian, dan jadikanlah Al-Qur'an sebagai pencegah hawa nafsu!"

Demikianlah pandangan hidup seorang bapak ilmu Tilawatil Qur'an, Imam Ali bin Abi Thalib r.a. Ilmunya menghayati pandangan hidupnya dan pandangan hidupnya mengarahkan penerapan ilmunya. Dan itulah yang menjadi hakekat dasar ilmu Tilawatil Qur'an.

Tarikat
Ilmu Tarikat pun tidak lepas kaitannya dengan Imam Ali r.a. sebagai sumber sejarahnya. Di kalangan para ahli Tarikat, Imam Ali r.a. diakui sebagai tokoh puncaknya. Semua ilmu Tarikat, Hakikat dan Tashawuf bersumber pada pemikiran-pemikiran Imam Ali r.a.

Sebagai putera asuhan, sejak berusia 6 tahun, Imam Ali r.a. selalu berada di dekat Rasul Allah s.a.w., hampir tak pernah pisah. Sedangkan Rasul Allah s.a.w. sendiri pada saat menerima Ali bin Abi Thalib dalam tanggung jawabnya, tengah mengalami satu proses yang luar biasa. Dari segi kemanusiaannya, terutama kerohaniannya, beliau sedang diproses oleh Al-Khaliq untuk diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Pada saat itulah Muhammad s.a.w. melakukan kontemplasi (tafakur), perenungan dan dialog dalam fikiran batin.

Beliau melakukan penyepian (khalwat) di bukit-bukit dan gua-gua sekitar kota Makkah. Suatu proses yang berlangsung hebat sekali dalam hati nurani beliau. Dengan prihatin dan jiwa yang bersih disertai pula dengan pandangan batin yang tajam beliau menyaksikan ketidak-benaran dan ketimpangan-ketimpangan tata kehidupan masyarakat dan keagamaan yang dihayati oleh masyarakat jahiliyah masa itu. Hatinya terketuk melihat kerusakan-kerusakan dan dekadensi yang menimpa kehidupan masyarakat. Tetapi kalau hanya menyalah-nyalahkan atau mencela saja tidak akan mendatangkan kebaikan bagi masyarakat yang sedang sesat dan bobrok itu. Alternatif lain, penggantinya, harus ada. Semuanya itu berkecamuk dalam hati beliau s.a.w.

Sejak usia dini beliau sudah kritis dalam memandang kehidupan lingkungannya. Sejak kecil beliau belum pernah hanyut terbawa oleh arus adat, kebiasaan dan kepercayaan jahiliyah. Imam Ali r.a. menyaksikan sendiri saudara pengasuhnya itu menempuh cara hidup keduniawian dan kerohanian yang sangat jauh berbeda dari kebiasaan umum yang lazim berlaku pada masa itu.

Dengan kepatuhan seorang anak yang ditanggapi secara tepat oleh seorang dewasa, terjadilah suatu jalinan perpaduan antara Ali bin Abi Thalib dengan Muhammad s.a.w. dalam periode beliau sedang menghadapi proses pengangkatannya sebagai Nabi dan Rasul pembawa kebenaran Allah s.w.t. Tak ada bagian-bagian proses itu yang lewat dari penyaksian Imam Ali bin Abi Thalib. Ia selalu mengikuti ke mana saja saudara pengasuhnya itu pergi dan memperhatikan benar-benar apa saja yang dilakukan oleh beliau s.a.w. Ia mencontoh gaya hidup jasmani dan rohani, termasuk cara-cara beribadah sebelum kenabian beliau.

Suara yang berupa ajaran dan wejangan Rasul Allah s.a.w. dan cahaya kebenaran Allah s.w.t. yang menerangi jiwa beliau diserap oleh Imam Ali bin Abi Thalib. Hakekat kebenaran Allah 'Azza wa Jalla yang ditemukan dan difahami oleh saudara pengasuhnya selama prosesnya yang bertahun-tahun itu, diikuti, diterima dan dihayati oleh Ali bin Abi Thalib r.a. Itulah antara lain yang memperkuat dasar mengapa Imam Ali r.a. berhak menyandang gelar sebagai Bapak ilmu Tarikat, Hakekat, atau Tashawuf.

Mengenai ilmu di bidang ini, tokoh-tokoh terkemuka kaum Tarikat seperti Asy Syibliy, Al-Junaid, Al-Asyariy, Abu Yazid Al-Bistamiy, Abu Mahfudz yang terkenal dengan nama Al-Khurqiy, dan lain sebagainya, semua mengakui Imam Ali r.a. sebagai tokoh puncak mereka.

Cara dan gaya hidup Rasul Allah s.a.w., mulai dari yang sekecil-kecilnya sampai yang sebesar-besarnya, hampir seluruhnya dijadikan tauladan oleh Imam Ali r.a. Oleh karena itulah ia bukan saja hidup sebagai seorang ilmuwan yang mencakup banyak bidang, melainkan juga seorang yang hidup penuh taqwa dan menempuh cara hidup zuhud. Ia tidak risau atau terpengaruh oleh kesenangan-kesenangan duniawi. Bahkan sampai menjadi Khalifah pun cara hidup yang seperti itu dipertahankan sebagai sesuatu yang sudah manunggal dengan keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah Rabbul'alamin.

Al-Kahfi
Penulis kitab Fadha'ilul Khamsah Minas Shihahis Sittah (jilid II, halaman 291-300), mengetengahkan suatu riwayat yang dikutip dari kitab Qishashul Anbiya. Riwayat tersebut berkaitan dengan tafsir ayat 10 Surah Al-Kahfi, yang terjemahannya sebagai berikut: "Ingatlah ketika pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung di dalam gua, kemudian mereka berdoa: "Wahai Allah, Tuhan kami, berilah rahmat kepada kami dari sisi-Mu…" Dengan panjang lebar kitab Qishashul Anbiya mulai dari halaman 566 meriwayatkan sebagai berikut:

Di kala Umar Ibnul Khattab memangku jabatan sebagai Amirul Mukminin, pernah datang kepadanya beberapa orang pendeta Yahudi. Mereka berkata kepada Khalifah: "Hai Khalifah Umar, anda adalah pemegang kekuasaan sesudah Muhammad dan sahabatnya, Abu Bakar. Kami hendak menanyakan beberapa masalah penting kepada anda. Jika anda dapat memberi jawaban kepada kami, barulah kami mau mengerti bahwa Islam merupakan agama yang benar dan Muhammad benar-benar seorang Nabi. Sebaliknya, jika anda tidak dapat memberi jawaban, berarti bahwa agama Islam itu bathil dan Muhammad bukan seorang Nabi."

"Silahkan bertanya tentang apa saja yang kalian inginkan," sahut Khalifah Umar.

"Jelaskan kepada kami tentang induk kunci (gembok) mengancing langit, apakah itu?" Tanya pendeta-pendeta itu, memulai pertanyaan-pertanyaannya. "Terangkan kepada kami tentang adanya sebuah kuburan yang berjalan bersama penghuninya, apakah itu? Tunjukkan kepada kami tentang suatu makhluk yang dapat memberi peringatan kepada bangsanya, tetapi ia bukan manusia dan bukan jin! Terangkan kepada kami tentang lima jenis makhluk yang dapat berjalan di permukaan bumi, tetapi makhluk-makhluk itu tidak dilahirkan dari kandungan ibu atau atau induknya! Beritahukan kepada kami apa yang dikatakan oleh burung puyuh (gemak) di saat ia sedang berkicau! Apakah yang dikatakan oleh ayam jantan di kala ia sedang berkokok! Apakah yang dikatakan oleh kuda di saat ia sedang meringkik? Apakah yang dikatakan oleh katak di waktu ia sedang bersuara? Apakah yang dikatakan oleh keledai di saat ia sedang meringkik? Apakah yang dikatakan oleh burung pipit pada waktu ia sedang berkicau?"

Khalifah Umar menundukkan kepala untuk berfikir sejenak, kemudian berkata: "Bagi Umar, jika ia menjawab 'tidak tahu' atas pertanyaan-pertanyaan yang memang tidak diketahui jawabannya, itu bukan suatu hal yang memalukan!''

Mendengar jawaban Khalifah Umar seperti itu, pendeta-pendeta Yahudi yang bertanya berdiri melonjak-lonjak kegirangan, sambil berkata: "Sekarang kami bersaksi bahwa Muhammad memang bukan seorang Nabi, dan agama Islam itu adalah bathil!"

Salman Al-Farisi yang saat itu hadir, segera bangkit dan berkata kepada pendeta-pendeta Yahudi itu: "Kalian tunggu sebentar!"

Ia cepat-cepat pergi ke rumah Ali bin Abi Thalib. Setelah bertemu, Salman berkata: "Ya Abal Hasan, selamatkanlah agama Islam!"

Imam Ali r.a. bingung, lalu bertanya: "Mengapa?"

Salman kemudian menceritakan apa yang sedang dihadapi oleh Khalifah Umar Ibnul Khattab. Imam Ali segera saja berangkat menuju ke rumah Khalifah Umar, berjalan lenggang memakai burdah (selembar kain penutup punggung atau leher) peninggalan Rasul Allah s.a.w. Ketika Umar melihat Ali bin Abi Thalib datang, ia bangun dari tempat duduk lalu buru-buru memeluknya, sambil berkata: "Ya Abal Hasan, tiap ada kesulitan besar, engkau selalu kupanggil!"

Setelah berhadap-hadapan dengan para pendeta yang sedang menunggu-nunggu jawaban itu, Ali bin Abi Thalib herkata: "Silakan kalian bertanya tentang apa saja yang kalian inginkan. Rasul Allah s.a.w. sudah mengajarku seribu macam ilmu, dan tiap jenis dari ilmu-ilmu itu mempunyai seribu macam cabang ilmu!"

Pendeta-pendeta Yahudi itu lalu mengulangi pertanyaan-pertanyaan mereka. Sebelum menjawab, Ali bin Abi Thalib berkata: "Aku ingin mengajukan suatu syarat kepada kalian, yaitu jika ternyata aku nanti sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan kalian sesuai dengan yang ada di dalam Taurat, kalian supaya bersedia memeluk agama kami dan beriman!"

"Ya baik!" jawab mereka.

"Sekarang tanyakanlah satu demi satu," kata Ali bin Abi Thalib.

Mereka mulai bertanya: "Apakah induk kunci (gembok) yang mengancing pintu-pintu langit?"

"Induk kunci itu," jawab Ali bin Abi Thalib, "ialah syirik kepada Allah. Sebab semua hamba Allah, baik pria maupun wanita, jika ia bersyirik kepada Allah, amalnya tidak akan dapat naik sampai ke hadhirat Allah!"

Para pendeta Yahudi bertanya lagi: "Anak kunci apakah yang dapat membuka pintu-pintu langit?"

Ali bin Abi Thalib menjawab: "Anak kunci itu ialah kesaksian (syahadat) bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah!"

Para pendeta Yahudi itu saling pandang di antara mereka, sambil berkata: "Orang itu benar juga!" Mereka bertanya lebih lanjut: "Terangkanlah kepada kami tentang adanya sebuah kuburan yang dapat berjalan bersama penghuninya!"

"Kuburan itu ialah ikan hiu (hut) yang menelan Nabi Yunus putera Matta," jawab Ali bin Abi Thalib. "Nabi Yunus as. dibawa keliling ketujuh samudera!"

Pendeta-pendeta itu meneruskan pertanyaannya lagi: "Jelaskan kepada kami tentang makhluk yang dapat memberi peringatan kepada bangsanya, tetapi makhluk itu bukan manusia dan bukan jin!"

Ali bin Abi Thalib menjawab: "Makhluk itu ialah semut Nabi Sulaiman putera Nabi Dawud alaihimas salam. Semut itu berkata kepada kaumnya: "Hai para semut, masuklah ke dalam tempat kediaman kalian, agar tidak diinjak-injak oleh Sulaiman dan pasukan-nya dalam keadaan mereka tidak sadar!"

Para pendeta Yahudi itu meneruskan pertanyaannya: "Beritahukan kepada kami tentang lima jenis makhluk yang berjalan di atas permukaan bumi, tetapi tidak satu pun di antara makhluk-makhluk itu yang dilahirkan dari kandungan ibunya atau induknya!"

Ali bin Abi Thalib menjawab: "Lima makhluk itu ialah, pertama, Adam. Kedua, Hawa. Ketiga, Unta Nabi Shaleh. Keempat, Domba Nabi Ibrahim. Kelima, Tongkat Nabi Musa (yang menjelma menjadi seekor ular)."

Dua di antara tiga orang pendeta Yahudi itu setelah mendengar jawaban-jawaban serta penjelasan yang diberikan oleh Imam Ali r.a. lalu mengatakan: "Kami bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah!"

Tetapi seorang pendeta lainnya, bangun berdiri sambil berkata kepada Ali bin Abi Thalib: "Hai Ali, hati teman-temanku sudah dihinggapi oleh sesuatu yang sama seperti iman dan keyakinan mengenai benarnya agama Islam. Sekarang masih ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan kepada anda."

"Tanyakanlah apa saja yang kau inginkan," sahut Imam Ali.

"Coba terangkan kepadaku tentang sejumlah orang yang pada zaman dahulu sudah mati selama 309 tahun, kemudian dihidupkan kembali oleh Allah. Bagaimana hikayat tentang mereka itu?" Tanya pendeta tadi.

Ali bin Ali Thalib menjawab: "Hai pendeta Yahudi, mereka itu ialah para penghuni gua. Hikayat tentang mereka itu sudah dikisahkan oleh Allah s.w.t. kepada Rasul-Nya. Jika engkau mau, akan kubacakan kisah mereka itu."

Pendeta Yahudi itu menyahut: "Aku sudah banyak mendengar tentang Qur'an kalian itu! Jika engkau memang benar-benar tahu, coba sebutkan nama-nama mereka, nama ayah-ayah mereka, nama kota mereka, nama raja mereka, nama anjing mereka, nama gunung serta gua mereka, dan semua kisah mereka dari awal sampai akhir!"

Ali bin Abi Thalib kemudian membetulkan duduknya, menekuk lutut ke depan perut, lalu ditopangnya dengan burdah yang diikatkan ke pinggang. Lalu ia berkata: "Hai saudara Yahudi, Muhammad Rasul Allah s.a.w. kekasihku telah menceritakan kepadaku, bahwa kisah itu terjadi di negeri Romawi, di sebuah kota bernama Aphesus, atau disebut juga dengan nama Tharsus. Tetapi nama kota itu pada zaman dahulu ialah Aphesus (Ephese). Baru setelah Islam datang, kota itu berubah nama menjadi Tharsus (Tarse, sekarang terletak di dalam wilayah Turki). Penduduk negeri itu dahulunya mempunyai seorang raja yang baik. Setelah raja itu meninggal dunia, berita kematiannya didengar oleh seorang raja Persia bernama Diqyanius. Ia seorang raja kafir yang amat congkak dan dzalim. Ia datang menyerbu negeri itu dengan kekuatan pasukannya, dan akhirnya berhasil menguasai kota Aphesus. Olehnya kota itu dijadikan ibukota kerajaan, lalu dibangunlah sebuah Istana."

Baru sampai di situ, pendeta Yahudi yang bertanya itu berdiri, terus bertanya: "Jika engkau benar-benar tahu, coba terangkan kepadaku bentuk Istana itu, bagaimana serambi dan ruangan-ruangannya!"

Ali bin Abi Thalib menerangkan: "Hai saudara Yahudi, raja itu membangun istana yang sangat megah, terbuat dari batu marmar. Panjangnya satu farsakh (= kl 8 km) dan lebarnya pun satu farsakh. Pilar-pilarnya yang berjumlah seribu buah, semuanya terbuat dari emas, dan lampu-lampu yang berjumlah seribu buah, juga semuanya terbuat dari emas. Lampu-lampu itu bergelantungan pada rantai-rantai yang terbuat dari perak. Tiap malam apinya dinyalakan dengan sejenis minyak yang harum baunya. Di sebelah timur serambi dibuat lubang-lubang cahaya sebanyak seratus buah, demikian pula di sebelah baratnya. Sehingga matahari sejak mulai terbit sampai terbenam selalu dapat menerangi serambi. Raja itu pun membuat sebuah singgasana dari emas. Panjangnya 80 hasta dan lebarnya 40 hasta. Di sebelah kanannya tersedia 80 buah kursi, semuanya terbuat dari emas. Di situlah para hulubalang kerajaan duduk. Di sebelah kirinya juga disediakan 80 buah kursi terbuat dari emas, untuk duduk para pepatih dan penguasa-penguasa tinggi lainnya. Raja duduk di atas singgasana dengan mengenakan mahkota di atas kepala."

Sampai di situ pendeta yang bersangkutan berdiri lagi sambil berkata: "Jika engkau benar-benar tahu, coba terangkan kepadaku dari apakah mahkota itu dibuat?"

"Hai saudara Yahudi," kata Imam Ali menerangkan, "mahkota raja itu terbuat dari kepingan-kepingan emas, berkaki 9 buah, dan tiap kakinya bertaburan mutiara yang memantulkan cahaya laksana bintang-bintang menerangi kegelapan malam. Raja itu juga mempunyai 50 orang pelayan, terdiri dari anak-anak para hulubalang. Semuanya memakai selempang dan baju sutera berwarna merah. Celana mereka juga terbuat dari sutera berwarna hijau. Semuanya dihias dengan gelang-gelang kaki yang sangat indah. Masing-masing diberi tongkat terbuat dari emas. Mereka harus berdiri di belakang raja. Selain mereka, raja juga mengangkat 6 orang, terdiri dari anak-anak para cendekiawan, untuk dijadikan menteri-menteri atau pembantu-pembantunya. Raja tidak mengambil suatu keputusan apa pun tanpa berunding lehih dulu dengan mereka. Enam orang pembantu itu selalu berada di kanan kiri raja, tiga orang berdiri di sebelah kanan dan yang tiga orang lainnya berdiri di sebelah kiri."

Pendeta yang bertanya itu berdiri lagi. Lalu berkata: "Hai Ali, jika yang kau katakan itu benar, coba sebutkan nama enam orang yang menjadi pembantu-pembantu raja itu!"

Menanggapi hal itu, Imam Ali r.a. menjawab: "Kekasihku Muhammad Rasul Allah s.a.w. menceritakan kepadaku, bahwa tiga orang yang berdiri di sebelah kanan raja, masing-masing bernama Tamlikha, Miksalmina, dan Mikhaslimina. Adapun tiga orang pembantu yang berdiri di sebelah kiri, masing-masing bernama Martelius, Casitius dan Sidemius. Raja selalu berunding dengan mereka mengenai segala urusan.

Tiap hari setelah raja duduk dalam serambi istana dikerumuni oleh semua hulubalang dan para punggawa, masuklah tiga orang pelayan menghadap raja. Seorang diantaranya membawa piala emas penuh berisi wewangian murni. Seorang lagi membawa piala perak penuh berisi air sari bunga. Sedang yang seorangnya lagi membawa seekor burung. Orang yang membawa burung ini kemudian mengeluarkan suara isyarat, lalu burung itu terbang di atas piala yang berisi air sari bunga. Burung itu berkecimpung di dalamnya dan setelah itu ia mengibas-ngibaskan sayap serta bulunya, sampai sari-bunga itu habis dipercikkan ke semua tempat sekitarnya.

Kemudian si pembawa burung tadi mengeluarkan suara isyarat lagi. Burung itu terbang pula. Lalu hinggap di atas piala yang berisi wewangian murni. Sambil berkecimpung di dalamnya, burung itu mengibas-ngibaskan sayap dan bulunya, sampai wewangian murni yang ada dalam piala itu habis dipercikkan ke tempat sekitarnya. Pembawa burung itu memberi isyarat suara lagi. Burung itu lalu terbang dan hinggap di atas mahkota raja, sambil membentangkan kedua sayap yang harum semerbak di atas kepala raja.

Demikianlah raja itu berada di atas singgasana kekuasaan selama tiga puluh tahun. Selama itu ia tidak pernah diserang penyakit apa pun, tidak pernah merasa pusing kepala, sakit perut, demam, berliur, berludah atau pun beringus. Setelah sang raja merasa diri sedemikian kuat dan sehat, ia mulai congkak, durhaka dan dzalim. Ia mengaku-aku diri sebagai "tuhan" dan tidak mau lagi mengakui adanya Allah s.w.t.

Raja itu kemudian memanggil orang-orang terkemuka dari rakyatnya. Barang siapa yang taat dan patuh kepadanya, diberi pakaian dan berbagai macam hadiah lainnya. Tetapi barang siapa yang tidak mau taat atau tidak bersedia mengikuti kemauannya, ia akan segera dibunuh. Oleh sebab itu semua orang terpaksa mengiakan kemauannya. Dalam masa yang cukup lama, semua orang patuh kepada raja itu, sampai ia disembah dan dipuja. Mereka tidak lagi memuja dan menyembah Allah s.w.t.

Pada suatu hari perayaan ulang-tahunnya, raja sedang duduk di atas singgasana mengenakan mahkota di atas kepala, tiba-tiba masuklah seorang hulubalang memberi tahu, bahwa ada balatentara asing masuk menyerbu ke dalam wilayah kerajaannya, dengan maksud hendak melancarkan peperangan terhadap raja. Demikian sedih dan bingungnya raja itu, sampai tanpa disadari mahkota yang sedang dipakainya jatuh dari kepala. Kemudian raja itu sendiri jatuh terpelanting dari atas singgasana. Salah seorang pembantu yang berdiri di sebelah kanan --seorang cerdas yang bernama Tamlikha-- memperhatikan keadaan sang raja dengan sepenuh fikiran. Ia berfikir, lalu berkata di dalam hati: "Kalau Diqyanius itu benar-benar tuhan sebagaimana menurut pengakuannya, tentu ia tidak akan sedih, tidak tidur, tidak buang air kecil atau pun air besar. Itu semua bukanlah sifat-sifat Tuhan."

Enam orang pembantu raja itu tiap hari selalu mengadakan pertemuan di tempat salah seorang dari mereka secara bergiliran. Pada satu hari tibalah giliran Tamlikha menerima kunjungan lima orang temannya. Mereka berkumpul di rumah Tamlikha untuk makan dan minum, tetapi Tamlikha sendiri tidak ikut makan dan minum. Teman-temannya bertanya: "Hai Tamlikha, mengapa engkau tidak mau makan dan tidak mau minum?"

"Teman-teman," sahut Tamlikha, "hatiku sedang dirisaukan oleh sesuatu yang membuatku tidak ingin makan dan tidak ingin minum, juga tidak ingin tidur."

Teman-temannya mengejar: "Apakah yang merisaukan hatimu, hai Tamlikha?"

"Sudah lama aku memikirkan soal langit," ujar Tamlikha menjelaskan. "Aku lalu bertanya pada diriku sendiri: 'siapakah yang mengangkatnya ke atas sebagai atap yang senantiasa aman dan terpelihara, tanpa gantungan dari atas dan tanpa tiang yang menopangnya dari bawah? Siapakah yang menjalankan matahari dan bulan di langit itu? Siapakah yang menghias langit itu dengan bintang-bintang bertaburan?' Kemudian kupikirkan juga bumi ini: 'Siapakah yang membentang dan menghamparkan-nya di cakrawala? Siapakah yang menahannya dengan gunung-gunung raksasa agar tidak goyah, tidak goncang dan tidak miring?' Aku juga lama sekali memikirkan diriku sendiri: 'Siapakah yang mengeluarkan aku sebagai bayi dari perut ibuku? Siapakah yang memelihara hidupku dan memberi makan kepadaku? Semuanya itu pasti ada yang membuat, dan sudah tentu bukan Diqyanius'…"

Teman-teman Tamlikha lalu bertekuk lutut di hadapannya. Dua kaki Tamlikha diciumi sambil berkata: "Hai Tamlikha dalam hati kami sekarang terasa sesuatu seperti yang ada di dalam hatimu. Oleh karena itu, baiklah engkau tunjukkan jalan keluar bagi kita semua!"

"Saudara-saudara," jawab Tamlikha, "baik aku maupun kalian tidak menemukan akal selain harus lari meninggalkan raja yang dzalim itu, pergi kepada Raja pencipta langit dan bumi!"

"Kami setuju dengan pendapatmu," sahut teman-temannya.

Tamlikha lalu berdiri, terus beranjak pergi untuk menjual buah kurma, dan akhirnya berhasil mendapat uang sebanyak 3 dirham. Uang itu kemudian diselipkan dalam kantong baju. Lalu berangkat berkendaraan kuda bersama-sama dengan lima orang temannya.

Setelah berjalan 3 mil jauhnya dari kota, Tamlikha berkata kepada teman-temannya: "Saudara-saudara, kita sekarang sudah terlepas dari raja dunia dan dari kekuasaannya. Sekarang turunlah kalian dari kuda dan marilah kita berjalan kaki. Mudah-mudahan Allah akan memudahkan urusan kita serta memberikan jalan keluar."

Mereka turun dari kudanya masing-masing. Lalu berjalan kaki sejauh 7 farsakh, sampai kaki mereka bengkak berdarah karena tidak biasa berjalan kaki sejauh itu.

Tiba-tiba datanglah seorang penggembala menyambut mereka. Kepada penggembala itu mereka bertanya: "Hai penggembala, apakah engkau mempunyai air minum atau susu?"

"Aku mempunyai semua yang kalian inginkan," sahut penggembala itu. "Tetapi kulihat wajah kalian semuanya seperti kaum bangsawan. Aku menduga kalian itu pasti melarikan diri. Coba beritahukan kepadaku bagaimana cerita perjalanan kalian itu!"

"Ah…, susahnya orang ini," jawab mereka. "Kami sudah memeluk suatu agama, kami tidak boleh berdusta. Apakah kami akan selamat jika kami mengatakan yang sebenarnya?"

"Ya," jawab penggembala itu.

Tamlikha dan teman-temannya lalu menceritakan semua yang terjadi pada diri mereka. Mendengar cerita mereka, penggembala itu segera bertekuk lutut di depan mereka, dan sambil menciumi kaki mereka, ia berkata: "Dalam hatiku sekarang terasa sesuatu seperti yang ada dalam hati kalian. Kalian berhenti sajalah dahulu di sini. Aku hendak mengembalikan kambing-kambing itu kepada pemiliknya. Nanti aku akan segera kembali lagi kepada kalian."

Tamlikha bersama teman-temannya berhenti. Penggembala itu segera pergi untuk mengembalikan kambing-kambing gembalaannya. Tak lama kemudian ia datang lagi berjalan kaki, diikuti oleh seekor anjing miliknya."

Waktu cerita Imam Ali sampai di situ, pendeta Yahudi yang bertanya melonjak berdiri lagi sambil berkata: "Hai Ali, jika engkau benar-benar tahu, coba sebutkan apakah warna anjing itu dan siapakah namanya?"

"Hai saudara Yahudi," kata Ali bin Abi Thalib memberitahukan, "kekasihku Muhammad Rasul Allah s.a.w. menceritakan kepadaku, bahwa anjing itu berwarna kehitam-hitaman dan bernama Qithmir. Ketika enam orang pelarian itu melihat seekor anjing, masing-masing saling berkata kepada temannya: kita khawatir kalau-kalau anjing itu nantinya akan membongkar rahasia kita! Mereka minta kepada penggembala supaya anjing itu dihalau saja dengan batu.

Anjing itu melihat kepada Tamlikha dan teman-temannya, lalu duduk di atas dua kaki belakang, menggeliat, dan mengucapkan kata-kata dengan lancar dan jelas sekali: "Hai orang-orang, mengapa kalian hendak mengusirku, padahal aku ini bersaksi tiada tuhan selain Allah, tak ada sekutu apa pun bagi-Nya. Biarlah aku menjaga kalian dari musuh, dan dengan berbuat demikian aku mendekatkan diriku kepada Allah s.w.t."

Anjing itu akhirnya dibiarkan saja. Mereka lalu pergi. Penggembala tadi mengajak mereka naik ke sebuah bukit. Lalu bersama mereka mendekati sebuah gua."

Pendeta Yahudi yang menanyakan kisah itu, bangun lagi dari tempat duduknya sambil berkata: "Apakah nama gunung itu dan apakah nama gua itu?!"

Imam Ali menjelaskan: "Gunung itu bernama Naglus dan nama gua itu ialah Washid, atau di sebut juga dengan nama Kheram!"

Ali bin Abi Thalib meneruskan ceritanya: secara tiba-tiba di depan gua itu tumbuh pepohonan berbuah dan memancur mata-air deras sekali. Mereka makan buah-buahan dan minum air yang tersedia di tempat itu. Setelah tiba waktu malam, mereka masuk berlindung di dalam gua. Sedang anjing yang sejak tadi mengikuti mereka, berjaga-jaga ndeprok sambil menjulurkan dua kaki depan untuk menghalang-halangi pintu gua. Kemudian Allah s.w.t. memerintahkan Malaikat maut supaya mencabut nyawa mereka. Kepada masing-masing orang dari mereka Allah s.w.t. mewakilkan dua Malaikat untuk membalik-balik tubuh mereka dari kanan ke kiri. Allah lalu memerintahkan matahari supaya pada saat terbit condong memancarkan sinarnya ke dalam gua dari arah kanan, dan pada saat hampir terbenam supaya sinarnya mulai meninggalkan mereka dari arah kiri.

Suatu ketika waktu raja Diqyanius baru saja selesai berpesta ia bertanya tentang enam orang pembantunya. Ia mendapat jawaban, bahwa mereka itu melarikan diri. Raja Diqyanius sangat gusar. Bersama 80.000 pasukan berkuda ia cepat-cepat berangkat menyelusuri jejak enam orang pembantu yang melarikan diri. Ia naik ke atas bukit, kemudian mendekati gua. Ia melihat enam orang pembantunya yang melarikan diri itu sedang tidur berbaring di dalam gua. Ia tidak ragu-ragu dan memastikan bahwa enam orang itu benar-benar sedang tidur.

Kepada para pengikutnya ia berkata: "Kalau aku hendak menghukum mereka, tidak akan kujatuhkan hukuman yang lebih berat dari perbuatan mereka yang telah menyiksa diri mereka sendiri di dalam gua. Panggillah tukang-tukang batu supaya mereka segera datang ke mari!"

Setelah tukang-tukang batu itu tiba, mereka diperintahkan menutup rapat pintu gua dengan batu-batu dan jish (bahan semacam semen). Selesai dikerjakan, raja berkata kepada para pengikutnya: "Katakanlah kepada mereka yang ada di dalam gua, kalau benar-benar mereka itu tidak berdusta supaya minta tolong kepada Tuhan mereka yang ada di langit, agar mereka dikeluarkan dari tempat itu."

Dalam guha tertutup rapat itu, mereka tinggal selama 309 tahun.

Setelah masa yang amat panjang itu lampau, Allah s.w.t. mengembalikan lagi nyawa mereka. Pada saat matahari sudah mulai memancarkan sinar, mereka merasa seakan-akan baru bangun dari tidurnya masing-masing. Yang seorang berkata kepada yang lainnya: "Malam tadi kami lupa beribadah kepada Allah, mari kita pergi ke mataair!"

Setelah mereka berada di luar gua, tiba-tiba mereka lihat mataair itu sudah mengering kembali dan pepohonan yang ada pun sudah menjadi kering semuanya. Allah s.w.t. membuat mereka mulai merasa lapar. Mereka saling bertanya: "Siapakah di antara kita ini yang sanggup dan bersedia berangkat ke kota membawa uang untuk bisa niendapatkan makanan? Tetapi yang akan pergi ke kota nanti supaya hati-hati benar, jangan sampai membeli makanan yang dimasak dengan lemak-babi."

Tamlikha kemudian berkata: "Hai saudara-saudara, aku sajalah yang berangkat untuk mendapatkan makanan. Tetapi, hai penggembala, berikanlah bajumu kepadaku dan ambillah bajuku ini!"

Setelah Tamlikha memakai baju penggembala, ia berangkat menuju ke kota. Sepanjang jalan ia melewati tempat-tempat yang sama sekali belum pernah dikenalnya, melalui jalan-jalan yang belum pernah diketahui. Setibanya dekat pintu gerbang kota, ia
melihat bendera hijau berkibar di angkasa bertuliskan: "Tiada Tuhan selain Allah dan Isa adalah Roh Allah."

Tamlikha berhenti sejenak memandang bendera itu sambil mengusap-usap mata, lalu berkata seorang diri: "Kusangka aku ini masih tidur!" Setelah agak lama memandang dan mengamat-amati bendera, ia meneruskan perjalanan memasuki kota. Dilihatnya banyak orang sedang membaca Injil. Ia berpapasan dengan orang-orang yang belum pernah dikenal. Setibanya di sebuah pasar ia bertanya kepada seorang penjaja roti: "Hai tukang roti, apakah nama kota kalian ini?"

"Aphesus," sahut penjual roti itu.

"Siapakah nama raja kalian?" tanya Tamlikha lagi. "Abdurrahman," jawab penjual roti.

"Kalau yang kaukatakan itu benar," kata Tamlikha, "urusanku ini sungguh aneh sekali! Ambillah uang ini dan berilah makanan kepadaku!"

Melihat uang itu, penjual roti keheran-heranan. Karena uang yang dibawa Tamlikha itu uang zaman lampau, yang ukurannya lebih besar dan lebih berat.

Pendeta Yahudi yang bertanya itu kemudian berdiri lagi, lalu berkata kepada Ali bin Abi Thalib: "Hai Ali, kalau benar-benar engkau mengetahui, coba terangkan kepadaku berapa nilai uang lama itu dibanding dengan uang baru!"

Imam Ali menerangkan: "Kekasihku Muhammad Rasul Allah s.a.w. menceritakan kepadaku, bahwa uang yang dibawa oleh Tamlikha dibanding dengan uang baru, ialah tiap dirham lama sama dengan sepuluh dan dua pertiga dirham baru!"

Imam Ali kemudian melanjutkan ceritanya: Penjual Roti lalu berkata kepada Tamlikha: "Aduhai, alangkah beruntungnya aku! Rupanya engkau baru menemukan harta karun! Berikan sisa uang itu kepadaku! Kalau tidak, engkau akan kuhadapkan kepada raja!"

"Aku tidak menemukan harta karun," sangkal Tamlikha. "Uang ini kudapat tiga hari yang lalu dari hasil penjualan buah kurma seharga tiga dirham! Aku kemudian meninggalkan kota karena orang-orang semuanya menyembah Diqyanius!"

Penjual roti itu marah. Lalu berkata: "Apakah setelah engkau menemukan harta karun masih juga tidak rela menyerahkan sisa uangmu itu kepadaku? Lagi pula engkau telah menyebut-nyebut seorang raja durhaka yang mengaku diri sebagai tuhan, padahal raja itu sudah mati lebih dari 300 tahun yang silam! Apakah dengan begitu engkau hendak memperolok-olok aku?"

Tamlikha lalu ditangkap. Kemudian dibawa pergi menghadap raja. Raja yang baru ini seorang yang dapat berfikir dan bersikap adil. Raja bertanya kepada orang-orang yang membawa Tamlikha: "Bagaimana cerita tentang orang ini?"

"Dia menemukan harta karun," jawab orang-orang yang membawanya.

Kepada Tamlikha, raja berkata: "Engkau tak perlu takut! Nabi Isa a.s. memerintahkan supaya kami hanya memungut seperlima saja dari harta karun itu. Serahkanlah yang seperlima itu kepadaku, dan selanjutnya engkau akan selamat."

Tamlikha menjawab: "Baginda, aku sama sekali tidak menemukan harta karun! Aku adalah penduduk kota ini!"

Raja bertanya sambil keheran-heranan: "Engkau penduduk kota ini?"

"Ya. Benar," sahut Tamlikha.

"Adakah orang yang kau kenal?" tanya raja lagi.

"Ya, ada," jawab Tamlikha.

"Coba sebutkan siapa namanya," perintah raja.

Tamlikha menyebut nama-nama kurang lebih 1000 orang, tetapi tak ada satu nama pun yang dikenal oleh raja atau oleh orang lain yang hadir mendengarkan. Mereka berkata: "Ah…, semua itu bukan nama orang-orang yang hidup di zaman kita sekarang. Tetapi, apakah engkau mempunyai rumah di kota ini?"

"Ya, tuanku," jawab Tamlikha. "Utuslah seorang menyertai aku!"

Raja kemudian memerintahkan beberapa orang menyertai Tamlikha pergi. Oleh Tamlikha mereka diajak menuju ke sebuah rumah yang paling tinggi di kota itu. Setibanya di sana, Tamlikha berkata kepada orang yang mengantarkan: "Inilah rumahku!"

Pintu rumah itu lalu diketuk. Keluarlah seorang lelaki yang sudah sangat lanjut usia. Sepasang alis di bawah keningnya sudah sedemikian putih dan mengkerut hampir menutupi mata karena sudah terlampau tua. Ia terperanjat ketakutan, lalu bertanya kepada orang-orang yang datang: "Kalian ada perlu apa?"

Utusan raja yang menyertai Tamlikha menyahut: "Orang muda ini mengaku rumah ini adalah rumahnya!"

Orang tua itu marah, memandang kepada Tamlikha. Sambil mengamat-amati ia bertanya: "Siapa namamu?"

"Aku Tamlikha anak Filistin!"

Orang tua itu lalu berkata: "Coba ulangi lagi!"

Tamlikha menyebut lagi namanya. Tiba-tiba orang tua itu bertekuk lutut di depan kaki Tamlikha sambil berucap: "Ini adalah datukku! Demi Allah, ia salah seorang di antara orang-orang yang melarikan diri dari Diqyanius, raja durhaka." Kemudian diteruskannya dengan suara haru: "Ia lari berlindung kepada Yang Maha Perkasa, Pencipta langit dan bumi. Nabi kita, Isa as., dahulu telah memberitahukan kisah mereka kepada kita dan mengatakan bahwa mereka itu akan hidup kembali!"

Peristiwa yang terjadi di rumah orang tua itu kemudian di laporkan kepada raja. Dengan menunggang kuda, raja segera datang menuju ke tempat Tamlikha yang sedang berada di rumah orang tua tadi. Setelah melihat Tamlikha, raja segera turun dari kuda. Oleh raja Tamlikha diangkat ke atas pundak, sedangkan orang banyak beramai-ramai menciumi tangan dan kaki Tamlikha sambil bertanya-tanya: "Hai Tamlikha, bagaimana keadaan teman-temanmu?"

Kepada mereka Tamlikha memberi tahu, bahwa semua temannya masih berada di dalam gua.

"Pada masa itu kota Aphesus diurus oleh dua orang bangsawan istana. Seorang beragama Islam dan seorang lainnya lagi beragama Nasrani. Dua orang bangsawan itu bersama pengikutnya masing-masing pergi membawa Tamlikha menuju ke gua," demikian Imam Ali melanjutkan ceritanya.

Teman-teman Tamlikha semuanya masih berada di dalam gua itu. Setibanya dekat gua, Tamlikha berkata kepada dua orang bangsawan dan para pengikut mereka: "Aku khawatir kalau sampai teman-temanku mendengar suara tapak kuda, atau gemerincingnya senjata. Mereka pasti menduga Diqyanius datang dan mereka bakal mati semua. Oleh karena itu kalian berhenti saja di sini. Biarlah aku sendiri yang akan menemui dan memberitahu mereka!"

Semua berhenti menunggu dan Tamlikha masuk seorang diri ke dalam gua. Melihat Tamlikha datang, teman-temannya berdiri kegirangan, dan Tamlikha dipeluknya kuat-kuat. Kepada Tamlikha mereka berkata: "Puji dan syukur bagi Allah yang telah menyelamatkan dirimu dari Diqyanius!"

Tamlikha menukas: "Ada urusan apa dengan Diqyanius? Tahukah kalian, sudah berapa lamakah kalian tinggal di sini?"

"Kami tinggal sehari atau beberapa hari saja," jawab mereka.

"Tidak!" sangkal Tamlikha. "Kalian sudah tinggal di sini selama 309 tahun! Diqyanius sudah lama meninggal dunia! Generasi demi generasi sudah lewat silih berganti, dan penduduk kota itu sudah beriman kepada Allah yang Maha Agung! Mereka sekarang datang untuk bertemu dengan kalian!"

Teman-teman Tamlikha menyahut: "Hai Tamlikha, apakah engkau hendak menjadikan kami ini orang-orang yang menggemparkan seluruh jagad?"

"Lantas apa yang kalian inginkan?" Tamlikha balik bertanya.

"Angkatlah tanganmu ke atas dan kami pun akan berbuat seperti itu juga," jawab mereka.

Mereka bertujuh semua mengangkat tangan ke atas, kemudian berdoa: "Ya Allah, dengan kebenaran yang telah Kau perlihatkan kepada kami tentang keanehan-keanehan yang kami alami sekarang ini, cabutlah kembali nyawa kami tanpa sepengetahuan orang lain!"

Allah s.w.t. mengabulkan permohonan mereka. Lalu memerintahkan Malaikat maut mencabut kembali nyawa mereka. Kemudian Allah s.w.t. melenyapkan pintu gua tanpa bekas. Dua orang bangsawan yang menunggu-nunggu segera maju mendekati gua, berputar-putar selama tujuh hari untuk mencari-cari pintunya, tetapi tanpa hasil. Tak dapat ditemukan lubang atau jalan masuk lainnya ke dalam gua. Pada saat itu dua orang bangsawan tadi menjadi yakin tentang betapa hebatnya kekuasaan Allah s.w.t. Dua orang bangsawan itu memandang semua peristiwa yang dialami oleh para penghuni gua, sebagai peringatan yang diperlihatkan Allah kepada mereka.

Bangsawan yang beragama Islam lalu berkata: "Mereka mati dalam keadaan memeluk agamaku! Akan kudirikan sebuah tempat ibadah di pintu guha itu."

Sedang bangsawan yang beragama Nasrani berkata pula: "Mereka mati dalam keadaan memeluk agamaku! Akan kudirikan sebuah biara di pintu gua itu."

Dua orang bangsawan itu bertengkar, dan setelah melalui pertikaian senjata, akhirnya bangsawan Nasrani terkalahkan oleh bangsawan yang beragama Islam. Dengan terjadinya peristiwa tersebut, maka Allah berfirman, yang artinya: "Orang-orang yang telah memenangkan urusan mereka berkata: 'Kami hendak mendirikan sebuah rumah peribadatan di atas mereka'…" (S. Al Kahfi: 21).

Sampai di situ Imam Ali bin Abi Thalib berhenti menceritakan kisah para penghuni gua. Kemudian berkata kepada pendeta Yahudi yang menanyakan kisah itu: "Itulah, hai Yahudi, apa yang telah terjadi dalam kisah mereka. Demi Allah, sekarang aku hendak bertanya kepadamu, apakah semua yang kuceritakan itu sesuai dengan apa yang tercantum dalam Taurat kalian?"

Pendeta Yahudi itu menjawab: "Ya Abal Hasan, engkau tidak menambah dan tidak mengurangi, walau satu huruf pun! Sekarang engkau jangan menyebut diriku sebagai orang Yahudi, sebab aku telah bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba Allah serta Rasul-Nya. Aku pun bersaksi juga, bahwa engkau orang yang paling berilmu di kalangan ummat ini!"

Demikianlah hikayat tentang para penghuni gua (Ashhabul Kahfi), kutipan dari kitab Qishasul Anbiya yang tercantum dalam kitab Fadha 'ilul Khamsah Minas Shihahis Sittah, tulisan As Sayyid Murtadha Al Huseiniy Al Faruz Aabaad, dalam menunjukkan banyaknya ilmu pengetahuan yang diperoleh Imam Ali bin Abi Thalib dari Rasul Allah s.a.w.

Penanggalan Hijriyah
Selain ilmu pengetahuan yang mencakup berbagai bidang, Imam Ali r.a. juga banyak melahirkan prakarsa-prakarsa yang dipersembahkan kepada kepentingan kaum muslimin dan kejayaan Islam. Ada satu prakarsanya yang tak mungkin dapat dilupakan sepanjang sejarah oleh seluruh generasi ummat Islam sampai hari akhir kelak. Meskipun hampir tiap hari hasil prakarsa itu dimanfaatkan oleh kaum muslimin, tetapi banyak di antara mereka sendiri yang belum mengetahui, bahwa yang dimanfaatkannya itu berasal dari Imam Ali r.a. Yaitu penanggalan Hijriyah.

Dalam kitab Tarikh yang ditulis oleh At-Thabariy disajikan sebuah riwayat yang berasal dari Sa'id bin Al-Mushib, yang menyatakan, bahwa pada satu hari Khalifah Umar Ibnul Khattab mengumpulkan sejumlah pemuka kaum muslimin untuk merundingkan masalah penanggalan Islam. Kaum muslimin dan Khalifah Umar r.a. berpendapat tentang perlunya diadakan penanggalan tersendiri, agar kaum muslimin tidak lagi mengikuti penanggalan kaum Nasrani dan Yahudi. Betapa tragisnya kalau kaum muslimin yang sudah dewasa itu masih juga mempergunakan penanggalan Ahlul Kitab. Tetapi keinginan yang baik itu terbentur pada jalan buntu karena tidak berhasil menemukan kapan penanggalan Islam itu harus dimulai.

Di saat mereka sedang menghadapi kesukaran itu datanglah Imam Ali r.a. Bukan main gembiranya Khalifah Umar r.a. melihat Imam Ali r.a. datang. Segera saja disambut, kemudian kepadanya diajukan pertanyaan tentang bagaimana sebaiknya penanggalan Islam itu dimulai.

Tanpa banyak fikir lagi Imam Ali r.a. menjawab: "Tetapkan saja mulai hari hijrahnya Rasul Allah s.a.w., yaitu hari beliau meninggalkan tanah syirik!"

Mendengar jawaban Imam Ali r.a. yang cepat dan tepat itu Khalifah Umar r.a. dengan serta merta memeluk Imam Ali r.a. diiringi oleh gegap gempitanya sambutan gembira kaum muslimin yang hadir. Khalifah Umar r.a. menerima sepenuhnya pendapat Imam Ali r.a. tersebut, dan mulai hari itu jugalah ditetapkan berlakunya penanggalan Hijriyah bagi kaum muslimin.


SEBUAH KENANGAN
Malam semakin kelam dan gelap bertambah pekat… Seorang pemimpin besar, Imam Ali bin Abi Thalib r.a., tak lama lagi, akan meninggalkan lawan-lawannya, membiarkan mereka berkeliaran merusak kehidupan di muka bumi.

Di belahan bumi sana ia hidup menyendiri dirundung kepedihan; hidup disayat-sayat kesunyian kejam yang belum pernah dialaminya selama ini. Hidup terpisah menjauhkan diri dari bencana kesesatan yang sedang melanda kaumnya. Terpisah bersama hati parah dicekam duka lara. Seorang diri terjauhkan dari zamannya, seakan-akan terhempas keluar dari permukaan bumi. Namun bumi ini selesai sudah mencatat semua ucapan dan tutur katanya... ya, bahkan bumi itu sendiri menjadi saksi abadi atas semua amal perbuatannya yang serba luar biasa.

Di permukaan bumi ini ia hidup tiada tara… memberi tanpa meminta… dimusuhi namun tak pernah menyiksa… sanggup melawan tetapi lebih suka menyebar maaf sebanyak-banyaknya. Tak pernah menusuk hati pembencinya dan tidak pula mengecewakan para pencintanya. Penolong bagi si lemah, teman bagi yang hidup terasing, dan bapak bagi si yatim. Dekat dari manusia tertekan yang mengharap uluran tangan untuk menghapus kemungkaran dan penderitaan. Kaya ilmu dan berlimpah-limpah kearifannya. Hatinya tenggelam dalam banjir air mata derita insan, di gunung-gunung dan di tiap dataran. Mengayun pedang mematahkan kedzaliman dan kegelapan, namun cinta kasihnya tetap tertumpah kepada orang teraniaya. Di kala sinar mentari memancar terang ia sibuk menegakkan kebenaran dan keadilan… dan di masa malam mulai kelam airmatanya berlinang menangisi derita ummat di hari-hari mendatang…

Di bumi ia hidup tiada tara… Tiap mendengar rintihan si madzlum, suaranya menggeledek menggoncang pautan si dzalim. Tiap mendengar jerit orang meminta pertolongan tanpa ayal lagi ia menghunus pedang berkilau memudarkan mata berniat jahat. Tiap mendengar teriakan fakir kelaparan lubuk hatinya digenang airmata kasih, menggelegak laksana air bah menerjang tanah gersang...

Selagi masih hidup di bumi ini, ia lain dari yang lain. Logika dan penalarannya tepat dan benar. Cara hidupnya amat sederhana. Berbusana kain kasar… dan senantiasa bersikap rendah hati. Di saat banyak manusia tergelincir menukik ke bawah, ia justru rnenjulang tinggi meraih awan…

Sungguh aneh ia hidup di bumi ini. Di saat orang lain bergelimang kenikmatan, ia bahkan terbenam dalam penderitaan… tetapi, tahukah saudara… Siapakah orang yang gagah berani, genial, aneh, berpandangan jauh, dan selalu dibebani penderitaan oleh orang-orang yang justru diinginkan olehnya supaya mereka itu menikmati kehidupan dunia dan kebahagiaan akhirat? Siapakah pria jantan itu… Ya, siapakah orang genial dan aneh itu? Bukankah ia seorang yang dibenci lawan hanya karena mereka dengki dan irihati? Bukankah ia seorang yang dijauhi oleh para sahabat hanya karena mereka takut menghadapi ancaman lawannya? Dan, akhirnya ia seorang diri berjuang menentang kemungkaran dan kebatilan, menghadapi manusia-manusia dzalim dengan sikap tegak berdiri di atas jalan kebenaran. Ia tidak mabok di saat menang dan tidak patah di saat kalah, sebab ia yakin kebenaran akhirnya pasti akan menemukan tempatnya yang hilang, walau banyak orang takut dan lari memejamkan mata. Siapa lagi orang sedemikian genialnya itu kalau bukan Imam Ali bin Abi Thalib? Seorang Khalifah yang berasal dari Ahlu Bait Rasul Allah s.a.w., seorang Amirul Mukminin, yang tak pernah hidup tanpa derita, dan yang akhirnya menjadi korban pengkhianatan Abdurrahman bin Muljam.

* * * *

Malam itu malam penuh tanda-tanya. Awan tebal menyelimuti udara di langit tinggi, berarak pelahan-lahan, kadang dikoyak sambaran petir mengkilat, teriring hembusan angin lembut. Di sana-sini tampak burung-burung gagak tua hinggap di sarangnya masing-masing, dengan kepala terangguk-angguk berat menunduk, seolah-olah tak berdaya lagi mengicaukan suara gaduh menyongsong datangnya hari esok, seakan-akan tak sanggup lagi menegakkan kepala menghadapi intaian Elang Raksasa!

Imam Ali terjaga sepanjang malam tak dapat mengenyam nikmatnya tidur. Ia membayangkan hari-hari mendatang yang penuh manusia tersiksa kedzaliman dan hidup tertekan teraniaya. Tetapi di samping mereka ada manusia-manusia lain yang serakah, menanjak dan meninggi, kuat dan congkak, menghardik dan menelan orang-orang yang lemah. Ia membayangkan lawan-lawannya sedang saling-bantu berbuat kemungkaran, orang-orang durhaka yang sedang bahu-membahu bergandeng tangan mengejar maksiat. Bersamaan dengan itu ia pun membayangkan para pendukung dan pengikutnya sedang berlomba-lomba mundur meninggalkan kebenaran yang kemarin dibela dan dipertahankan oleh mereka sendiri!

Imam Ali terjaga sepanjang malam, tak dapat mengenyam nikmatnya tidur. Terbayang keadilan sedang diinjak-injak dan kebajikan sedang dilumur noda. Segala yang suci sudah digadai oleh manusia-manusia yang hidup tanpa arah dan hampa. Kemuliaan hidup kini hanya tergantung dan ditentukan oleh kemauan manusia-manusia yang sedang berbuat kerusakan di bumi, dan… kemunafikan merajalela di mana-mana!

Imam Ali terjaga sepanjang malam, tak dapat mengenyam nikmatnya tidur. Terkenang hidupnya selama ini. Sejak lahir di permukaan bumi dirinya telah menjadi kekuatan pembela kebenaran dan keadilan, menjadi saudara bagi semua orang yang hidup sengsara, teraniaya dan terlunta-lunta. Ia seolah-olah bagaikan geledek menyambar kepala orang-orang durhaka. Tidak hanya lidahnya yang berbicara tentang mereka, tetapi pedangnya, si Dzul Fiqar, pun ikut menggemerincingkan suara.

Di malam itu terbayang pada alam khayalnya lembaran-lerabaran sejarah hidupnya sendiri di masa silam dan masa kini. Ia teringat pada kehidupan di masa muda, menghunus pedang di depan hidung kaumnya, kaum musyrikin Qureiys! Ia heran bercampur bangga, mengapa sampai sanggup berbuat seperti itu, menarikan pedang di depan muka mereka untuk membela risalah agama. Ia bangga turut menyebar berita gembira kepada mereka yang hidup mendambakan kebenaran, dan pedih mengingatkan mereka yang berkecimpung di lumpur kebatilan. Ia teringat, di kala itu orang-orang Qureiys mengkeret mundur sambil melontarkan ejekan sia-sia. Dan ia tetap maju menempuh jalan hidupnya sendiri, rela mengorbankan nyawa dan segala yang berharga dalam menghadapi tantangan mereka, demi pengabdian kepada Allah dan agama-Nya yang benar.

Terbayang olehnya kenangan lama, ketika berselunjur di pembaringan putera pamannya, Muhammad Rasul Allah s.a.w., pada malam hijrah. Kala itu ia terbaring di bawah bayangan puluhan pedang yang haus darah. Betapa resah dan gelisah hatinya, bukan karena takut binasa, melainkan khawatir kalau-kalau Abu Sufyan dengan bantuan kaum musyrikin Qureiys dan tengkulak-tengkulak nyawa lainnya, akan berhasil mengganggu Rasul Allah s.a.w. di tengah jalan. Ternyata di bawah lindungan Ilahi beliau lolos dengan selamat, dan cahaya agama yang dibawanya berhasil menembus kegelapan jahiliyah!

Ia masih terus mengenangkan kehidupannya di masa lalu. Teringat olehnya ketika mengarungi peperangan-peperangan adil sebagai pahlawan. Dengan semangat kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya ia berhasil meruntuhkan benteng-benteng musuh dan menumpas kaum durhaka. Teringat pula ketika ia sedang dikerumuni oleh kaum fakir miskin dan orang-orang lemah lainnya. Ia melihat mereka bersembah sujud ke hadhirat Allah memanjatkan syukur, tiap kali mereka menyaksikan tangannya mengayuri pedang di atas kepala musuh-musuh mereka. Dengan mata kepala sendiri mereka melihat orang-orang Qureiys durhaka lari tunggang-langgang menyelamatkan nyawa laksana belalang terbang berserakan tertiup angin kencang.

Ia teringat kepada putera pamannya, Muhammad Rasul Allah s.a.w. sedang menatap mukanya dengan sinar mata penuh kasih sayang, kemudian memeluk sambil berucap: "Inilah saudaraku!" Ia juga teringat ketika beliau datang berkunjung ke rumahnya di saat ia sedang tidur. Waktu isterinya --Fatimah Azzahra binti Muhammad Rasul Allah s.a.w.-- hendak membangunkan, tiba-tiba beliau berkata: "Biarkan dia! Mungkin sepeninggalku ia akan 'bergadang' lama sekali!" Mendengar ucapan ayahandanya seperti itu Sitti Fatimah menangis terisak-isak! Lebih dari itu semua, ia pun teringat ketika Rasul Allah s.a.w. berkata kepadanya: "Allah telah menghiasi hidupmu dengan perhiasan yang paling disukai oleh-Nya. Yaitu bahwa engkau telah dikaruniai rasa cinta kasih kepada kaum yang lemah dan merasa senang mempunyai pengikut-pengikut seperti mereka. Sedang mereka juga merasa senang mempunyai pemimpin seperti engkau!"

Kemudian terbayang olehnya peristiwa wafatnya Rasul Allah s.a.w. di hadapannya, yaitu saat beliau mengarahkan pandangan mata terakhir kepadanya. Kini bayangan wajah isterinya yang telah lama mendahului --Siti Fatimah r.a.-- terpampang di pelupuk mata, yang pada saat itu tampak sangat sedih. Dikarenakan kehancuran hati dan perasaannya, belum sampai seratus hari isteri tercinta itu menyusul ayahandanya dalam usia belum mencapai 30 tahun. Kini Imam Ali sedang teringat sewaktu mengantar kemangkatan isterinya menghadap Allah Rabbul'alamin, yaitu saat ia berdiri di atas makamnya sambil menangis tersedu-sedu, kemudian pulang ke rumah di petang hari dengan hati yang hancur luluh. Kesedihan abadi di malam pudar!

Terlintas pula dalam ingatannya, ketika Umar Ibnul Khattab r.a. menolehkan muka kepadanya seraya berkata: "Demi Allah, bila engkau yang memimpin mereka --ummat muslimin-- engkau pasti akan membawa mereka ke jalan yang benar dan ke cahaya yang terang benderang!" Di telinga Imam Ali sekarang sedang mengiang-ngiang suara para sahabatnya, yaitu ketika mereka berkata: "Pada masa hidupnya Rasul Allah s.a.w. kami mengenal orang-orang munafik dari sikap mereka yang membenci anda!"
Ya…, bahkan Rasul Allah s.a.w. sendiri berkali-kali memperdengarkan ucapan: "Hai Ali, tidak ada yang membencimu selain orang munafik!"

Saat itu Imam Ali teringat kepada kawan-kawan seperjuangan, ketika berjuang bersama-sama dan bahu-membahu serta saling bantu di bawah pimpinan Rasul Allah s.a.w. Sekarang di antara mereka ada yang masih terus berjuang dan ada pula yang sudah berkomplot melawan dia, hanya karena didorong oleh ambisi hendak merebut kekuasaan dan kepemimpinan. Tetapi mereka yang masih tetap menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, dan mereka yang masih tetap setia membela kebajikan… alangkah bahagianya dan berkahnya mereka itu. Walaupun mereka hidup terasing di dunia, dicampakkan oleh musuh-musuh kebenaran dan keadilan dan dirintangi oleh kedzaliman berselimut ribuan cara.

Imam Ali sekarang sedang membayang-bayangkan wajah Abu Dzar, yang ketika itu mengenakan serban kumal mencari-cari Rasul Allah s.a.w. untuk dapat mengabdikan diri kepada kebenaran Allah s.w.t. Setelah itu Abu Dzar mencurahkan seluruh isi hati, fikiran dan perasaan serta segenap jiwa raga kepada perjuangan membela kebenaran melawan kebatilan. Tetapi perjuangannya yang gigih membela kaum madzlum, yang hidup sengsara, ternyata berakhir dengan tragedi menyedihkan yang dibuka sumbatnya oleh Marwan bin Al-Hakam pada zaman kekhalifahan Utsman bin Affan r.a. Ia kemudian diusir, dibuang dan dipencilkan sampai datang ajal menjemput nyawa, dan sesudah semua puteranya mati lebih dulu di depan matanya. Isteri Abu Dzar, seorang wanita baik hati, sewaktu menghadapi kemangkatan suaminya, ingin mati lebih dulu agar tidak sampai "mengalami kematian dua kali!" Yaitu mati dalam hidup dan mati sesudah hidup. Abu Dzar mati kelaparan dalam cengkeraman buas beberapa orang Bani Umayyah yang sedang berdiri di atas hamparan emas.

Betapa sedihnya Imam Ali teringat kepada Ammar bin Yasir; seorang sahabat setia yang pada hari-hari belum lama berselang mati terbunuh. Ammar benar-benar seperti saudara kandung Imam Ali sendiri. Seorang yang hidup amat sederhana, penuh taqwa, jujur dan berani. Ia mati terbunuh melawan gerombolan pemberontak Muawiyah di Shiffin.

Ya, dimanakah sekarang sahabat-sahabat Imam Ali? Teman-teman dan para sahabat yang dulu menempuh jalan yang sama dan berdiri tegak bersama-sama memadu tekad untuk membela kebenaran? Teman dan sahabat yang dulu tak pernah meninggalkan dia, tak pernah mempergunjingkan dia, dan tak pernah berlaku buruk terhadap dirinya? Dimanakah mereka itu semua? Mereka sekarang sudah banyak sekali yang bertolak belakang. Namun Imam Ali masih tetap terus berkecimpung dalam perjuangan sengit melawan kedzaliman dan pelaku-pelakunya.

Imam Ali sekarang melaksanakan tugas perjuangan seorang diri, setelah dahulu dikerumuni oleh banyak sahabat dan pendukung setia. Perjuangan membela kebenaran dan keadilan melawan suatu kaum yang mempunyai anak-anak liar dan pemuda-pemuda dekaden, sedangkan para orang tua mereka tidak mendorong supaya mereka berbuat baik dan meninggalkan kemungkaran. Suatu kaum yang hanya disegani oleh orang-orang yang takut berbicara, tidak dihormati selain oleh orang-orang yang mengharapkan pemberiannya.

Alangkah kejamnya kehidupan ini, sehingga Imam Ali sampai detik-detik akhir hayatnya hanya mengenal perjuangan dan penderitaan! Alangkah teganya kehidupan ini, sampai membiarkan orang-orang yang baik hidup tersingkir satu demi satu, dan sampai bumi ini penuh dengan kedzaliman dan kebathilan!

Aduhai, alangkah parahnya hari esok yang dibayangkan oleh Imam Ali dengan fikiran dan perasaannya pada malam itu. Setelah malam itu lewat, apakah gerangan yang akan dialami oleh pemimpin besar kaum muslimin itu? Seorang pemimpin yang dirugikan oleh kejujurannya, tetapi ia tidak sudi berdusta walau akan memperoleh keberuntungan. Setelah malam itu lewat, apalagi yang akan dialami oleh seorang pernimpin yang menjadi bapak orang banyak itu? Seorang pemimpin yang lebih suka menderita di dalam kebenaran daripada hidup senang di dalam kebatilan. Ya, setelah malam itu lewat, apalagi yang akan dialami oleh seorang pemimpin yang berfikir dan berperasaan adil terhadap sesama manusia; dan seorang pemimpin yang bekerja mengabdi kebenaran tak peduli apakah gunung-gunung akan runtuh ataukah bumi akan longsor.

Alangkah gelapnya hari esok di mana si pandir akan merangkak berlagak pandai dalam suasana penuh kedzaliman, agar orang-orang yang berkuasa mau menarik-narik ekornya dengan bangga. Sedangkan kaum cerdik pandai yang tak mau mengikuti jejak orang-orang itu akan digilas sampai pipih, kering dan remuk, kehabisan nafas dan tinggal saja merasakan siksa dunia. Pendukung kedzaliman yang memerangi Imam Ali dengan otak, hati, lidah dan pedang, akan dapat menjadi manusia yang hidup senang. Suasana sungguh sudah terjungkir balik, siang disulap menjadi malam, dan kiri disulap menjadi kanan. Adapun pendukung keadilan yang membela Imam Ali dengan otak, hati, lidah dan pedang, pasti akan menjadi orang-orang sengsara, teraniaya dan dikepung penderitaan dari segenap jurusan!

Terbayang semuanya itu Imam Ali melinangkan airmata sambil mengusap-usap janggut. Keheningan malam yang sunyi senyap seolah-olah ikut menangis teriring suara hembusan angin sepoi-sepoi. Mata Imam Ali sampai membengkak karena terlampau banyak memeras airmata. Ia kemudian mengarahkan pandangan ke bintang-bintang dan awan di cakrawala. Remang-remang cahaya malam tanpa pandang bulu meratai kemegahan rumah-rumah kaum yang dzalim dan gubuk-gubuk reyot kaum yang madzlum. Tanpa pilih kasih kegelapan malam itu menggenangi orang-orang berhati dengki dan orang-orang berbaik hati yang sedang dirundung derita. Semua mendapat perlakuan sama.

Setelah itu Imam Ali teringat kepada sikapnya sendiri terhadap kekayaan duniawi, kemudian berucap: "Hai dunia…, hai dunia, rayulah orang selain aku!" Ya, benar-benar ia telah menjungkir-balikan dunianya di depan wajah dunia!

Malam semakin kelam dan gelap bertambah pekat… Ia merasa hidup di dunia seolah-olah sudah sampai di suatu tempat dimana ia harus berada seorang diri. Betapa sedihnya hidup di permukaan bumi ini dalam sebuah rumah seorang diri, rumah yang sunyi senyap lagi terpencil. Matanya dipejamkan sejenak, seolah-olah sedang menangkap desiran malam yang mengerikan. Ia terkantuk mimpi melihat Rasul Allah s.a.w. Dalam mimpi ia bertanya kepada putera pamannya itu: "Ya Rasul Allah, apakah yang harus kuperbuat terhadap ummatmu yang serong dan saling bermusuhan?" Beliau menjawab: "Mohonlah pembalasan buruk bagi mereka hepada Allah!" Imam Ali kemudian berdoa: "Ya Allah, gantilah mereka itu dengan orang-orang yang baik bagiku, dan gantilah aku dengan orang yang lebih buruk bagi mereka!"

Dalam mimpinya itu ia pun melihat kaum fakir miskin dan kaum lemah lainnya bersama-sama orang-orang yang kuat sedang berada di dalam sebuah bahtera oleng terpukul badai di tengah lautan. Semua orang yang ada dalam bahtera itu cemas ketakutan menghadapi marabahaya di kegelapan malam. Mereka dihempaskan ke sana dan ke mari oleh angin ribut.

Itulah akhir mimpi dan kenangan hidupnya menjelang subuh dini hari yang mengantar Abdur Rahman bin Muljam datang menyelinap ke dalam masjid dengan senjata tajam di tangan. Dua hari kemudian ia wafat, dan Ibnu Muljam bukannya berhasil membayar maskawin yang diminta oleh perempuan jalang bernama Qitham binti Al Akhdar, melainkan ia harus membayar petualangannya dengan nyawa sendiri!


Bersambung ke Bab Penutup

Imam Ali bin Abi Thalib r.a. telah meninggal dunia. Di masa hidupnya, ia telah menempati kedudukan tinggi dan terhormat dalam kehidupan ummat manusia. Pada dirinya terhimpun nilai-nilai kebenaran, keadilan, keimanan, kepahlawanan, kebajikan dan kemuliaan.

Suatu thiraz (type) yang jarang terdapat di kalangan ummat manusia. Thiraz yang mempunyai bobot abadi dan tak mungkin ditiadakan atau terlupakan. Karena ia mencerminkan hati nurani kemanusiaan. Pada segala zaman dan di semua negeri, sejarah hidupnya selalu mengumandangkan berita tentang kesetiaan yang sangat mengagumkan terhadap kebenaran.

Baik di masa kanak-kanak, di masa muda, maupun di masa tua, ia senantiasa tetap setia kepada kebenaran. Kesetiaannya adalah kesetiaan seorang ahli ibadah, seorang prajurit, seorang patriot, seorang penguasa. Kesetiaan yang tak pernah goyah dalam segala tingkat usia, sungguh pun dalam keadaan yang berbeda-beda.

Kesetiaannya kepada kebenaran bukanlah kesetiaan yang dibuat-buat, tetapi kesetiaan fithriyyah. Kesetiaan yang berdasarkan keyakinan, bukan kesetiaan karena keinginan memperoleh manfaat. Kesetiaannya kepada kebenaran tercermin sekali dari sikapnya yang sanggup mengalahkan keduniawian dan menundukkan bujuk-rayu serta rongrongannya.

Lihatlah ia menepung gandum sendiri! Lalu menggaruki ujung antan agar jangan ada sisa tepung yang ketinggalan! Ia makan roti kering bercampur katul. Ia menjauhkan diri dari istana imarah (pemerintahan) di Kufah. Ia lebih suka tinggal di gubuk terbuat dari tanah liat!

Mengapa?

Karena kesetiaannya kepada kebenaran tidak bisa disatukan dengan kemewahan duniawi!

Kegemarannya yang paling besar ialah meremehkan keduniawian dan menaklukan bujuk-rayunya yang sangat dahsyat. Ia tidak sudi menyentuhkan tangan pada keduniawian dan tidak tertarik sama sekali! Kepada rayuan duniawi ia senantiasa berkata tegas "Tidak!"

Setelah memegang urusan kaum muslimin, menjadi seorang Khalifah, kegemarannya itu berubah menjadi kewajiban. Ia pernah berkata: "Apakah aku harus merasa puas disebut Amirul Mukminin, sedangkan aku tidak menyertai kaum mukminin dalam masa kesusahan? Demi Allah, seandainya aku mau, aku dapat memperoleh madu murni, gandum pilihan dan pakaian serba halus. Tetapi, jauh nian aku bisa dikalahkan oleh hawa nafsu! Aku tidak sudi kekenyangan, sedang di sekitarku banyak perut kelaparan, menderita dan sengsara."

Rasul Allah s.a.w. pernah mengatakan, bahwa kemiskinan mendekatkan orang kepada kekufuran. Bertolak dari sini pulalah Imam Ali bin Abi Thalib r.a. muncul dengan sebuah kalimat cemerlang: "Seandainya kemiskinan itu berupa orang, tentu ia sudah kubunuh!"

Sungguhpun Imam Ali bin Abi Thalib r.a. sudah meninggal dunia, namun ia senantiasa hidup dalam semua nilai-nilai kebenaran yang diperjuangkannya sepanjang umur. Ia tetap akan hidup sebagai tauladan.

Merupakan keharusan bagi kaum muslimin, terutama bagi yang masih ada keturunan darah Ahlul-Bait Rasul Allah s.a.w. untuk bertauladan dari keutamaan kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib r.a.: kezuhudannya, kejujurannya, keadilannya, keksatriaannya, kerendahan hatinya, kedermawanannya dan sembah sujudnya kepada Allah s.w.t.

Malahan bagi keturunan Ahlul-Bait Rasul Allah s.a.w. dituntut lebih keras lagi bertauladan kepada kehidupan Imam Ali r.a. Mereka tinggal mengikuti garis yang telah ada. Akan merupakan penyimpangan, bila keturunan Ahlul-Bait Rasul Allah s.a.w. tidak berbuat demikian.

Bertauladan kepada keutamaan kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib r.a. berarti berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan, serta melawan kebathilan dan kedzaliman, dengan kata lain beramar ma'ruf nahi mungkar. Menyerukan supaya orang berbuat benar dan adil sudah merupakan satu perjuangan. Perjuangan mencegah kemungkaran, nahi mungkar, adalah lebih berat daripada menyerukan orang berbuat benar dan adil. Sebab tantangan akan muncul dari fihak yang hendak dicegah!

Sepanjang usianya enam puluh tiga tahun, Imam Ali bin Abi Thalib r.a. senantiasa ber-amar ma'ruf nahi mungkar.

Akhirnya kami tutup tulisan ini dengan kesadaran, bahwa bila terdapat kekeliruan atau kekurangan, itu adalah kekeliruan dan kekurangan kami. Sedangkan kebenaran buku ini kepada Allah s.w.t. jua kembalinya.

Wa maa taufiqi illa billah alaihi tawakkaltu wa ilaihi unib… Mudah-mudahan Allah s.w.t. mengampuni dosa-dosa kami dan semoga Allah s.w.t., senantiasa memberi bimbingan, hidayah dan taufiq-Nya kepada kami.

Amin ya Robbal 'alamin.